Senin, 25 Februari 2008

”Sompral”

SOMPRAL artinya berbuat atau berbicara sembarangan, ada unsur bercanda, kadang di luar nalar dan mustahil, serta sering kali tidak ada kandungan niat. Dalam bahasa Sunda atau bahasa Jawa, kata sompral memiliki arti yang sama. Misalnya, "Kamu tak tendang sampai Semarang...!" Menendang seseorang sampai Semarang, tentu saja mustahil. Namun, orang yang sama-sama sompral akan menjawab, "Kebetulan, saya mau ke Semarang, kan jadinya tak perlu naik bus atau kereta. Tolong tendang saya deh... sekarang...!"Anehnya, ucapan atau perbuatan sompral justru sering benar-benar terjadi. Ampuhnya tak kalah dengan seseorang melakukan kaul. Saya sendiri setengah tahun lalu sakit dan mendaftar untuk dirawat di rumah sakit, tapi dokter yang menangani saya menolak dan meminta saya untuk berobat jalan. Meski demikian, dengan sompral saya berkata, "Saya ingin dirawat di RS. Saya senang kalau naik kursi roda dan dijenguk teman-teman." Mungkin karena sompral itu, beberapa waktu lalu saya jatuh pingsan usai main badminton di lapangan. Penyebabnya sepele, karena alergi makan seafood. Dengan berolah raga, alergi itu menyebar sangat cepat sehingga tiba-tiba saya terhuyung saat duduk dan jatuh ke lantai. Jidat sempat sobek selebar 3 cm. Akibat sobek itulah, saya pingsan dalam keadaan berlumuran darah. Teman-teman yang sedang bermain bulu tangkis pun sontak berhenti. Mereka segera melarikan saya ke unit gawat darurat (UGD) sebuah rumah sakit. Karena penyebab sakit hanya alergi, dalam dua jam saya sudah merasa baikan. Yang aneh, semua kesompralan saya terlaksana. Saya sempat naik tempat tidur yang didorong bahkan menggunakan kursi roda. Lain lagi kisah teman saya yang dengan "sombongnya" mengatakan, dia tidak pernah mengalami flu sejak rajin berolah raga. Namun tiga hari kemudian, sembari membawa sapu tangan lebar dan dengan suara parau mengutarakan, dirinya sedang menderita flu berat. Keampuhan sompral disebabkan oleh ketemenanen belis. Artinya, begitu setan (iblis) mendengar ada seseorang yang berkata sompral, ia berusaha mewujudkan ucapan ngawur itu menjadi kenyataan. Ini nyaris sama dengan kaul, di mana setiap orang yang menginginkan sesuatu dengan kaul, biasanya Allah mengabulkannya. Jika telah terkabul, kaul tersebut kemudian syarat-syaratnya dilakukan.Melihat begitu ampuhnya sompral, ada baiknya semua orang berbicara sompral, tapi yang baik-baik. Katakan, "Saya akan menjadi gubernur yang amanah", atau "Saya akan menjadi pemimpin yang adil", "Rakyat harus makmur", dan seterusnya. Kalau perlu, canangkan gerakan sompral nasional agar dalam sehari setiap bangsa Indonesia mengucapkan sompral-sompral yang baik, misalnya, "Ekonomi nasional segera pulih, bangsa Indonesia segera menyamai negara-negara maju, kita menguasai iptek" dan sebagainya. Masa, program kok sompral. Dasar sompral. Tapi kalau terkabul? (Wakhudin)

Tidak ada komentar: