Senin, 25 Februari 2008

Bergetar


SAAT televisi menayangkan mobil hanyut terbawa banjir, para penonton kaget luar biasa. Entah mobil siapa yang terbalik terbawa arus. Yang jelas, mereknya begitu akrab di mata penonton dan keluaran tahun mutakhir. Maka, mobil itu seakan-akan milik mereka juga. Semua penonton merasa ikut kehilangan, menyesali, dan tentu saja selama berhari-hari kepikiran terus.Pada saat yang lain, ketika televisi menayangkan banjir dan tanah longsor, tsunami, perang, kerusuhan konser, tawuran, dan beberapa musibah lain yang menelan korban banyak jiwa, mereka juga kaget. Seketika hati pun bergetar, takut kalau di antara para korban ada anggota keluarga kita. Saat tahu bahwa tidak satu pun korban adalah anggota keluarga, legalah kita dan menganggap musibah tersebut sebagai pengetahuan. Tak lebih dari itu.Sejak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi semakin akrab dengan masyarakat. Berbagai informasi, positif maupun negatif, masuk saban waktu, lama-kelamaan menyebabkan urat masyarakat semakin kebal. Berita kematian, pembunuhan, bahkan mutilasi sekalipun menjadi menu informasi yang biasa.Maka, nyawa berubah menjadi sekadar hitungan angka-angka, mati 5 orang, 60 orang, 200 orang, bahkan 1.000 orang. Jika yang mati bukan anggota keluarga, kita tidak wajib sedih. Kita tak perlu ikut menyesali dan tak perlu ikut berdukacita. Berbeda saat yang rusak dan hancur adalah mobil atau rumah bagus atau harta benda yang selama ini menjadi impian semua orang, hati pun bergetar dan terguncang. Mobil selama ini memang menjadi idaman setiap orang, maka melihat benda itu penyok, hati kita pun ikut penyok.Bergetarnya hati dapat menjadi parameter kecenderungan seseorang terhadap sesuatu. Allah pun menggunakan getaran hati ini untuk mengukur keimanan seseorang. Dalam Q.S. Alanfaal: 2, Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah imannya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal."Oleh karena itu, ketika kita semakin mati rasa menyaksikan kesengsaraan, kematian, dan penderitaan rakyat, jangan-jangan kita tidak lagi memiliki rasa kemanusiaan, setidaknya humanisme dalam diri kita semakin tipis. Sebaliknya, saat hati kita berguncang keras ketika disebut barang-barang yang bersifat duniawi, jangan-jangan kita sudah benar-benar menjadi orang yang materialis. Bahkan tidak mustahil, tanpa sadar kita telah menjadikan harta benda dan kesenangan sebagai Tuhan (thaghut). Masyarakat Barat dapat dikatakan wajar materialis (baca: konsumtif). Secara ekonomi, mereka berkelimpahan. Kalau kita, mau konsumtif dan mata duitan, tapi tak punya materi dan tak berduit. Kalau begitu, apa kita ingin sekadar mendapatkan malu? (Wakhudin/"PR")***

Tidak ada komentar: