Senin, 25 Februari 2008

“Recovery”

PANDAWA dan Kurawa sesungguhnya memiliki peluang yang sama untuk memenangkan perang Baratayudha dan berhak memperoleh negara Astina. Syaratnya cuma satu, asalkan mampu membangunkan Krisna yang sedang terlelap tidur di hutan. Krisna adalah titisan Batara Wisnu, dewa pemelihara alam yang nurani dan nalarnya selalu berjalan seiring. Raja Dwarawati ini adalah lambang kehidupan yang sangat dinamis. Orang Betawi menyebutnya, "tak ade matinye". Persoalan serumit apa pun akan dengan mudah diselesaikan, karena ia tahu sebelum winarah. Sebelum orang lain tahu, ia sudah terlebih dahulu mengetahuinya.Begitu tahu bahwa syarat memenangkan perang Mahabarata adalah dengan cara membangunkan Krisna, maka para Kurawa yang sedang menjadi pejabat di Astina pun segera naik ke gunung mencari Krisna. Mereka secara beramai-ramai membangunkan Sang Wisnu. Pada mulanya, mereka dengan sopan, namun akhirnya dengan cara kasar. Sekujur tubuh dari mulai kaki hingga kepala ditendang, diinjak, bahkan dijatuhi batu sebesar kepala kerbau. Namun Krisna tetap tidur lelap, dengan suara mendengkur.Saat para Kurawa frustrasi gagal membangunkan Krisna, Arjuna hadir dan langsung ikut tidur di samping Krisna. Ia tahu, arwah Krisna tengah berunding dengan para dewa yang membuat skenario perang Baratayudha. Pada mulanya ditetapkan bahwa Kurawalah yang akan memenangkan perang. Namun kehadiran Krisna dan Arjuna memaksa para dewa mengubah skenario. Yang benar haruslah menjadi pemenang. Kebaikan harus mengalahkan keburukan. Usai berunding dengan para dewa, Krisna pun bangkit dari tidur. Kurawa mengajak Krisna, tapi mereka ditipu untuk pulang bersama seribu raja. Karena tak bawa Kresna, itulah sebabnya, Kurawa yang berjumlah 100 orang akhirnya tewas oleh Pandawa yang berjumlah lima.Bangsa Indonesia kini sedang menghadapi masa-masa sulit. Nalar dan nuraninya masih tidur seperti Krisna. Kalau ingin segera pulih mencapai recovery, maka harus menggugah nalar dan nuraninya tersebut. Satu-satunya cara untuk membangkitkan dan menyelaraskan nurani dan nalar tersebut adalah pendidikan. Sayang, kita sering lebih memilih sesuatu yang artifisial, bukan substantif. Kalaupun anggaran 20% dari APBN/APBD untuk bidang pendidikan yang merupakan mandatori akhirnya turun, jangan-jangan kita lebih memilih bersenang-senang, ketimbang tetap prihatin membangun masa depan bangsa yang lebih baik. Kita sering lebih suka memilih upacara daripada bekerja.(Wakhudin)

Tidak ada komentar: