Senin, 25 Februari 2008

Karakter

SAAT luka di tubuh Bisma menganga akibat panah Srikandi, napasnya sesak pertanda ajal semakin dekat. Maka, para cucunya, Pandawa dan Kurawa yang tengah berseteru dikumpulkan. Ia pun meminta ditidurkan di tempat yang paling nyaman. Para Kurawa segera mengambil kasur dan bantal yang paling empuk, tetapi Bisma menolak. Pandawa segera mengambil potongan-potongan besi dan baja bekas senjata yang patah dalam perang, kemudian membaringkan ksatria yang sudah renta itu di atasnya. Sang maharesi itu pun kelihatan tenteram dan menyatakan terima kasih kepada Pandawa.Saat tiduran, Bisma pun meminta diambilkan air minum. Maka, para Kurawa dengan sigap mengambilkan berbagai minuman terbaik yang selama ini menjadi kegemarannya. Mereka membawa sirop yang paling murni dan tanpa bahan pengawet, sebagian membawa red wine, dan sebagian lain membawa minumal beralkohol. Tentu saja Putra Dewi Gangga ini menolaknya. Sebaliknya, saat para Pandawa menyodorkan air bekas cucian senjata perang, Bisma justru meminumnya dengan lahap.Bisma adalah seorang ksatria yang berkarakter. Sesungguhnya, ia adalah pewaris sah Astina dari ayahnya, Sentanu. Karena ayahnya menikah lagi dan berjanji akan mewariskan takhtanya kepada anak dari istri barunya, ia pun mengalah. Ia ikhlas sekadar menjadi resi dan menjaga Astina dari berbagai gangguan musuh. Maka, yang menggantikan Sentanu adalah Abiyasa, adik tiri Bisma. Abiyasa inilah yang kemudian melahirkan Pandawa dan Kurawa yang kemudian berperang satu dengan yang lainnya yang dikenal dengan Perang Baratayuda. Bagi Bisma, baik atau buruk yang memimpin Astina, ia akan membela Astina. Dia tidak membela Kurawa atau Pandawa, melainkan ia maju berperang demi membela tanah air kelahirannya. Karena sikapnya itulah, Bisma disegani oleh siapa pun, baik para Pandawa maupun Kurawa. **Coba bandingkanlah perilaku masyarakat dunia terhadap bangsa Indonesia. Istri Atase Pendidikan Kedubes RI di Kuala Lumpur, Musliana Nurdin ditahan aparat Rela (sejenis kamra/keamanan rakyat) Malaysia, menjelang Lebaran. Di akhir Agustus, wasit karate Donald Luther Colopita juga dianiaya polisi Malaysia, dengan tuduhan sebagai TKI ilegal. Ratusan, bahkan ribuan TKI lainnya yang menjadi pembantu rumah tangga pun mengalami penderitaan akibat dihina, disiksa, bahkan sebagian tewas karena disiksa majikan atau bunuh diri akibat tidak tahan mengalami derita di negeri jiran. Bangsa Indonesia pun bereaksi keras. DPR RI bahkan mempertimbangkan kemungkinan melaporkan Malaysia ke Komisi HAM PBB. Sebagian lain mengusulkan untuk memutus hubungan diplomatik dengan negara tetangga itu. Bahkan, kalimat-kalimat kasar yang sering kita ucapkan di masa lalu, ”Ganyang Malaysia...!” terpaksa kembali diucapkan.Peristiwa penghinaan, pelecehan, dan tindak kekerasan terhadap bangsa Indonesia tidak hanya dilakukan Malaysia, tetapi juga negara-negara lain yang menjadi tujuan tenaga kerja Indonesia (TKI). Bangsa-bangsa di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan negara-negara kaya lainnya juga sudah lama memperlakukan hal yang sama terhadap anak-anak bangsa. Bangsa Indonesia diperlakukan sebagai manusia kelas dua bahkan kelas tiga, sebagian dijebloskan sebagai pelacur bahkan diperlakukan sebagai budak yang bisa dijualbelikan.Haruskah kita ”mengamuk”, memutus hubungan diplomatik dengan negara-negara sahabat itu, ataukah kita memperlakukan warga negara mereka yang di Indonesia setara dengan yang mereka lakukan, seperti melakukan sweeping terhadap warga negara asing? Kalau kita menuruti hawa nafsu seperti itu tentu kita semakin terjebak ke dalam perilaku yang kontraproduktif. Bahkan, pada gilirannya Indonesia akan menjadi bangsa yang dikucilkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.Tidak hanya dalam ketenagakerjaan, dalam percaturan politik, ekonomi, sosial, dan budaya, Indonesia juga terus menjadi bulan-bulanan bangsa asing. Secara politis, Indonesia tak lebih sebagai subkultur dari politik asing, yang ujung-ujungnya kita hanya menjadi bangsa pembebek, bahkan bisa jatuh menjadi bangsa kuli. Apalagi secara ekonomi, bangsa ini semakin bergantung kepada bangsa-bangsa lain yang maju. Ketergantungan ini menyebabkan ketergantungan yang lain, termasuk bidang sosial dan budaya. Akibatnya, masyarakat semakin tercerabut dari kebudayaan akar rumput, sementara mengadopsi kultur bangsa lain tidak dilakukan sepenuh hati. Akibatnya lebih lanjut, Indonesia menjadi bangsa yang tanggung dan kokod monongeun.Olah raga merupakan bidang yang sangat objektif mencerminkan kondisi riil bangsa Indonesia. Nyaris semua cabang olah raga kita cenderung terus merosot. Jangankan di tingkat internasional, bahkan level ASEAN pun kita terus dijepit oleh Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan bahkan Vietnam. Kebanggaan terhadap para atlet nasional dan lokal semakin rendah. Kita lebih mendewa-dewakan pemain asing, meskipun minim prestasi. Mengapa kita menjadi bangsa yang dihina dan direndahkan bangsa lain? Kata kuncinya, bangsa Indonesia tidak menghargai kepada diri sendiri. Kita tidak bangga menjadi bangsa Indonesia. Kata Dr. Eep Saepullah Fatah, ”Saya justru malu menjadi bangsa Indonesia.” Kalau kita tidak menghargai kepada bangsa sendiri, bagaimana mungkin bangsa lain menghargai kita? Dies Natalis ke-53 UPI Bandung merupakan mementum penting untuk membangun kembali peradaban bangsa yang dimulai dari pembangunan bidang pendidikan, khususnya pembangunan karakter bangsa. Salah satu caranya adalah dengan menggelorakan semangat kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air. (Wakhudin)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
The blog is genuinely impressive in all aspects.
Good job, I like this blog.
mgmdomino