Rabu, 30 Maret 2011

Berkuasa


SAAT masih muda dan lemah, Rahwana alias Dasamuka dikalahkan Resi Subali. Ia pun bersabar bahkan merendahkan diri dengan berguru kepada manusia kera anak Resi Gotama ini. Apa pun perintah guru, ia taati, termasuk harus bertapa seperti kelelawar, tidur terbalik dan menggantung di atas pohon. Kedisiplinannya belajar membuahkan hasil dengan meraih Aji Pancasona, ia seperti memiliki nyawa rangkap lima. Bahkan karena kerja kerasnya pula, Rahwana mendapatkan Aji Rawarontek dari kakak tirinya, Prabu Danaraja, meskipun meraihnya dengan kekerasan.
Namun dengan kedigdayaannya, Rahwana lupa diri. Ia menjerumuskan gurunya, Subali berkonflik dengan adiknya Sugriwa. Dengan kekuatannya pula, ia merebut kekuasaan dari kakeknya, Sumali dengan menyingkirkan pamannya Prahasta. Dasamuka juga membunuh Prabu Danaraja, kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.
Ia menyerang Suralaya dan memetik Dewi Tari, putri Batara Indra sebagai istrinya sehingga berputra Indrajid. Kekuasaan mendorongnya berwatak angkara murka. Dasamuka kemudian memperistri Dewi Urangrayung dan memperistri beberapa gadis lainnya. Meski demikian, ia selalu gagal menaklukkan titisan Dewi Widowati. Makanya, ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama, dan menyekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama, selama 12 tahun di Taman Hargasoka.
Bersabar saat keadaan memaksa merupakan sesuatu yang lazim, sebagaimana Dasamuka bersabar saat masih ringkih. Hidup hemat saat tidak punya uang merupakan hal biasa. Tidak mabuk karena sedang sakit, tidak memiliki nilai lebih. Tidak berselingkuh karena tidak punya modal dan tak punya tampang, tidaklah istimewa. Bersabar saat berkuasa jauh memberikan tantangan dan memiliki nilai lebih yang luar biasa.
Rasulullah, Muhammad saw. adalah pribadi mulia yang selalu bersabar saat dalam keadaan sempit maupun ketika berkuasa. Saat beliau menunggu kering pakaian yang dijemur dan melepas pedangnya, tiba-tiba seorang kafir Da'tsur mengambil pedagnya dan menodongkan ke lehernya. Da'tsur pun membentak, "Sekarang aku akan memotong lehermu. Siapa yang akan menolongmu?" Rasulullah pun dengan tenang mengatakan, "Allah". Mendengar jawaban Nabi, tangan Da'tsur gemetar, keringat meleleh dari sekujur tubuh, dan lemas lunglai. Pedang yang di tangan pun jatuh. Kini keadaan berbalik. Pedang kembali dipegang Nabi dan beliau mengalungkan pedang itu ke leher Da'tsur. Meskipun Rasulullah bisa memotong leher orang yang sudah menyerah ini, namun Rasulullah kemudian memaafkannya. Datsur pun mendapatkan hidayah dan masuk Islam.
Bangsa Indonesia saat ini tengah merindukan pemimpin yang bersabar seperti Rasulullah. Bersabar saat susah maupun saat berkuasa. Mereka bersabar bukan hanya saat ingin meraih suara dengan sekadar memberi "gula-gula" menggunakan pancing sejumput beras dan mie instan. Namun setelah menduduki kursi justru mereka menjual suara rakyat itu kepada siapa pun yang mau membayarnya. Bangsa ini tengah menanti penguasa yang bersabar dengan kekuasaannya untuk kesejahteraan bersama, meski harus berhadapan dengan para "investor" yang menanamkan modal mengantarkannya berkuasa saat mereka menagih jatah uang negara. (Wakhudin/"PR")***