Jumat, 20 Maret 2009

Mencari Merdeka


KUMBAYANA sesungguhnya seorang pangeran di Kerajaan Hargajembangan. Ayahnya, Prabu Baratwaja, sangat ditakuti semua negara di kawasan Atasangin. Dapat dikatakan, Hargajembangan adalah ibu kota Atasangin Serikat. Meskipun Durna, panggilan akrab Kumbayana, bisa saja mewarisi kekuasaan ayahnya, namun ia memilih merantau ke Hastina. Sebab, kekuasaan yang diraih ayahnya ialah berkat senjata Pulanggeni, yang dipinjam dari Resi Wiyasa, penguasa Hastina. Ketika Pulanggeni dikembalikan ke pemiliknya, Durna malah minggat dari Hargajembangan, dan mencari Wiyasa atau anak turunannya.
Sayangnya, ketika mau menyeberang ke Hastina, Durna dihadang kabut tebal dan dihadapkan pada samudera yang luas dengan gelombang yang besar. Saat itulah seekor kuda cantik bersayap turun di hadapan Durna. Kuda itu memberi isyarat agar Durna segera menaikinya. Maka Kumbayana dibawa terbang melewati mega yang sempat menutupi cakrawala.
Dalam perjalanan terbang inilah Durna terlena. Ia khilaf. Dalam imajinasinya, ia terbang dengan seorang bidadari cantik. Bahkan akhirnya ia melakukan hubungan seksual dengan kuda yang menerbangkannya. Eloknya, begitu kuda itu turun di seberang lautan, Durna benar-benar diantar sampai ke daratan Hastina. Dan saat itulah kuda itu hamil sekaligus melahirkan anak hasil hubungan badan Durna dengan kuda tersebut. Anak tersebut kemudian diberi nama Aswatama. Rupanya, kuda yang membawa Durna adalah Batari Wilutama, yang sedang terkena kutukan. Setelah melahirkan seorang manusia, Kuda Wilutama kembali menjadi bidadari dan pulang ke kahyangan. Sesampainya di Hastina, Durna menjadi guru Pandawa, anak cucu Wiyasa. Ia merangkap sebagai guru dan penasihat spiritual para Kurawa, kakak ipar Pandawa.
Niat Durna sebetulnya baik, ingin mencari kemerdekaan diri. Dia menolak menjadi raja dengan bayang-bayang kebesaran ayahnya. Namun Kumbaya orang yang gampang dipengaruhi, terutama bisikan jahat dari Sangkuni, patih Hastina. Memiliki anak dari seekor kuda sesungguhnya menggambarkan lemahnya nurani dan keimanannya. Maka, saat mencari kemerdekaan itu, sesunguhnya Durna hanya meraih "belenggu". Ia memilih untuk mengumbar hawa nafsunya, daripada mencari keutamaan hidup. 
Kemerdekaan RI yang diraih bangsa Indonesia dengan cucuran darah dan air mata 63 tahun lalu juga sangat mengkhawatirkan salah arah sebagaimana Durna. Kemerdekaan RI semakin ternoda dengan ketidakmandirian secara ekonomi. Langkah membayar utang ke IMF, membubarkan IGGI, dan menutup utang luar negeri lainnya adalah jalan lurus menuju kemerdekaan. Namun privatisasi BUMN, apalagi BUMN yang produktif adalah jalan tol menuju "penjajahan" ekonomi. Inilah arah kemerdekaan yang secara perlahan mengalami distorsi. (Wakhudin/"PR")***

Tidak ada komentar: