Jumat, 20 Maret 2009

Berkuasa


SAAT masih muda, Rahwana alias Dasamuka dikalahkan Resi Subali. Ia pun bersabar bahkan merendahkan diri dengan berguru kepada manusia kera anak Resi Gotama ini. Apa pun perintah guru, ia taati, termasuk bertapa seperti kelelawar, menggantung di atas pohon. Kedisiplinannya belajar membuahkan hasil dengan meraih Aji Pancasona, ia seperti memiliki nyawa rangkap lima. Karena kerja kerasnya pula, Rahwana mendapatkan Aji Rawarontek dari kakak tirinya, Prabu Danaraja, meskipun meraihnya dengan kekerasan.
Namun dengan kedigdayaannya, Rahwana lupa diri. Ia menjerumuskan gurunya, Subali, berkonflik dengan adiknya Sugriwa. Ia merebut kekuasaan dari kakeknya, Sumali dengan menyingkirkan pamannya Prahasta. Dasamuka membunuh Prabu Danaraja, kakak tirinya dan merebut negara Lokapala. Ia menyerang Suralaya dan memetik Dewi Tari, putri Batara Indra sebagai istrinya sehingga berputra Indrajid. Kekuasaan mendorongnya berwatak angkara murka. 
Bersabar saat keadaan memaksa merupakan sesuatu yang lazim, sebagaimana Dasamuka saat masih ringkih. Hidup hemat saat tidak punya uang merupakan hal biasa. Tidak mabuk karena sedang sakit, tidak memiliki nilai lebih. Tidak berselingkuh karena tidak punya modal dan tak punya tampang, tidaklah istimewa. Bersabar saat berkuasa jauh memberikan tantangan dan memiliki nilai lebih yang luar biasa.
Rasulullah, Muhammad saw. adalah pribadi mulia yang selalu bersabar saat dalam keadaan sempit maupun ketika berkuasa. Saat beliau menunggu kering pakaian yang dijemur dan melepas pedangnya, tiba-tiba seorang kafir Da'tsur mengambil pedangnya dan menodongkan ke lehernya. Da'tsur pun membentak, "Sekarang aku akan memotong lehermu. Siapa yang akan menolongmu?" Rasulullah pun dengan tenang mengatakan, "Allah". Mendengar jawaban Nabi, tangan Da'tsur gemetar, keringat meleleh dari sekujur tubuh, dan lemas lunglai. Pedang yang di tangan pun jatuh. Kini keadaan berbalik. Pedang dipegang Nabi. Meskipun Rasulullah bisa memotong leher orang yang sudah menyerah ini, namun Rasulullah kemudian memaafkannya. Datsur pun mendapatkan hidayah dan masuk Islam.
Bangsa Indonesia tengah merindukan pemimpin yang sabar seperti Rasulullah. Bersabar saat susah maupun saat berkuasa. Mereka bersabar bukan hanya saat ingin meraih suara dengan memberi "gula-gula" menggunakan pancing sejumput beras dan mi instan. Namun setelah menduduki kursi justru mereka menjual suara rakyat kepada siapa pun yang mau membayarnya. Bangsa ini tengah menanti penguasa yang bersabar dengan kekuasaannya untuk kesejahteraan bersama, meski harus berhadapan dengan para "investor" yang menanamkan modal mengantarkannya berkuasa saat mereka menagih jatah uang negara. (Wakhudin/"PR")***

Tidak ada komentar: