Jumat, 20 Maret 2009

Idulfitri=”Recovery”


MENILIK akar katanya, Idulfitri dan recovery memiliki makna yang hampir sama. Idulfitri berasal dari kata 'ied (kembali) dan fithri (suci), sedangkan recovery berasal dari kata re (kembali) dan cover (tutup). Recovery diterjemahkan menjadi pulih. Luka menganga yang kemudian tertutup kembali disebut pulih atau sembuh.
Semangat Idulfitri dan recovery terasa berbeda, sebab kata yang pertama mengandung unsur ritus, sedangkan kata yang kedua merujuk pada peristiwa umum yang tidak berkaitan dengan ibadah. Namun jika ditelaah lebih mendalam, lagi-lagi kedua kata itu memiliki kemiripan. Sebutlah, kata Idulfitri diterjemahkan dengan ”pulih”, terjemahan dari ”recovery”, maka terjemahan itu tidak lari terlalu jauh. Pasalnya, puasa Ramadan selama sebulan merupakan proses penyembuhan dari berbagai penyakit hati. Kikir, tamak, hasud, egois, sombong, malas, dan berbagai kelakuan baong dan bedegong lainnya dibakar dengan saum. Ketika proses pembakaran mencapai 29 atau 30 hari, maka kita disebut pulih dan menjadi fitri atau suci.
Bagaimana kalau sudah saum sebulan tetapi kelakuan tidak pulih juga? Itu berarti sesuai dengan sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, "Begitu banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus." Pasalnya, puasa yang dilakukan sekadar menahan lapar dan haus, sedangkan perbuatan maksiat lainnya tidak terkendali.
Persoalan berikutnya, apakah fitri atau pulih hanya berlaku selama lebaran? Itu sama juga dengan sakit. Orang yang sakit mag tahu bahwa kalau makan terlalu pedas atau terlalu asam atau terlalu telat makan, magnya kumat. Kalau tak ingin sakit, setiap saat ia menjaga tidak sesekali menabrak pantangan itu. Sebaliknya, penderita ambeien tahu bahwa kalau makan terlalu pedas atau mengonsumsi daging kambing serta kurang makanan berserat wasirnya akan kumat, tetapi ia tetap memakannya, maka bersiap-siaplah setiap saat mengalami pendarahan.
Oleh karena itu, setelah Lebaran, orang saum pun tidak boleh sembarang mengonsumsi kelakuan "yang pedas" dan "makanan ekstrem" lainnya. Saum adalah ajaran hidup agar selalu mengendalikan diri. Kebangkrutan Indonesia sehingga menenggelamkan rakyatnya dalam utang kepada nyaris semua negara kaya atau populer disebut Paris Club, disebabkan oleh para pemimpin yang tidak mampu menahan diri untuk berutang. Begitu kredit mengucur, tangan para pemegang projek tidak tahan mengambil bagiannya secara ilegal dengan cara korupsi dan kolusi dengan pejabat yang memberi projek. Berapa banyak nafsu tidak terkendali menebang hutan secara ilegal sehingga menggunduli hutan kita, sehingga menyebabkan banjir di musim hujan dan kering di musim kemarau. Betapa tidak terkendalinya pungutan liar di kantor pelayanan publik, di sekolah, pasar, jalanan, dan di hampir semua sektor. Maka "wajar" Indonesia terus mengalami kemunduran, menjadi negara kaya raya yang termiskin di dunia. Pasalnya, hal itu merupakan akumulasi dari semua orang yang tidak mampu menahan diri. Bangsa dan pemimpin bangsa ini lama tidak berpuasa. Lusa kita memang Idulfitri, tetapi justru saatnya kita berpuasa secara sosial. (Wakhudin/"PR")***

Tidak ada komentar: