Rabu, 22 April 2009

Gula


GULA rasanya manis. Sangat nikmat dan bermanfaat jika digunakan untuk mencampur minuman atau bumbu masakan dengan ukuran yang pas. Anak suka memakannya yang dikemas dalam kembang gula. Masyarakat Cirebon dan Tegal menggunakan batu gula untuk teh poci. Orang tua yang bejat moralnya suka "gula-gula", permainan wanita di antara pekerjaannya.

Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadikan gula sebagai lambang kesejahteraan. Kalau bertamu kepada mereka dan disuguhi minuman bergula, itu menunjukkan bahwa mereka sedang memiliki rezeki yang cukup, setidaknya cukup membeli gula. Sebagian besar masyarakat Sunda dan Jawa Barat tidak suka gula. Itulah sebabnya, teh yang disajikan saat bertamu tidak mesti terasa manis. Gula atau glukosa sangat bermanfaat untuk tubuh, khususnya untuk membentuk tenaga. Tetapi jika kadar gula di dalam darah terlalu banyak maka bisa menyebabkan sakit gula.

Demokrasi tak ubahnya gula. Paham yang memberikan kesempatan luas bagi konstituen ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Tetapi demokrasi jika diberikan kepada masyarakat terlalu besar bisa juga kontraproduktif. Kebebasan yang kebablasan bisa menggoyahkan stabilitas nasional. Dalam beberapa kasus, ketika keran demokrasi diberikan secara lebih leluasa kepada masyarakat, yang memanfaatkan lebih optimal kebebasan ini justru para penjahat, petualang, dan kaum spekulan.

Pemilu 2009 secara sistemik relatif lebih demokratis dibandingkan dengan Pemilu 2004 atau pemilu sebelumnya. Di masa lalu, calon jadi adalah calon yang menempati nomor urut awal. Sistem ini memungkinkan manipulasi oleh para pengurus partai, sehingga hanya orang yang menguasai partai yang dapat mengatur siapa yang jadi anggota legislatif. Pemilu 2009 sekarang ini memungkinkan semua caleg memenangi pemilu, selama perolehan suaranya memenuhi angka yang ditetapkan walaupun berada pada nomor urut bontot.

Meski demikian, karena semua caleg mempunyai peluang yang sama memenangi pemilu maka setiap apa pun yang terjadi di tempat pemungutan suara menjadi sangat sensitif. Jika kartu suara tercoret sedikit akibat error, misalnya, maka coretan tak sengaja pun bisa diklaim sebagai pencontrengan. Demikian pula saat penetapan suara, seberapa pun selisih suara akan menentukan apakah seorang caleg akan mendapatkan kursi atau tidak. Kebebasan ini juga memberikan celah konflik yang lebih luas, baik bagi caleg internal partai maupun caleg antarpartai.

Dapat dikatakan, Pemilu 2009 adalah ujian bagi demokrasi bangsa Indonesia. Apakah gula demokrasi yang dicampurkan dalam politik ini proporsional, sehingga hasilnya dapat direguk dengan nikmat oleh bangsa Indonesia atau bahkan sebaliknya, gula yang terlalu banyak justru memperparah sakit gula yang memang belakangan ini menyebabkan memar di beberapa bagian tubuh bangsa Indonesia.

Kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kunci apakah gula demokrasi ini dapat dicerna dengan baik, sehingga demokrasi menjadi wahana mengantar bangsa Indonesia ke pintu gerbang kebahagiaan dan kesejahteraan. Sebaliknya, jika gula demokrasi ini hanya mendatangkan mudarat, maka semua pihak harus ikhlas melakukan evaluasi. Yang pasti, bukankah semua tidak suka menghadapi otoritarianisme? (Wakhudin/"PR")***

Agamis Versus Nasionalis



SIAPA yang akan menduduki kursi Presiden RI 2009-2014 dengan mudah dapat ditebak, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebab, kemenangan Partai Demokrat pada hakikatnya merupakan hadiah rakyat untuk Yudhoyono yang dinilai berhasil menciptakan stabilitas politik. Yang kini sedang menjadi pertempuran seru justru siapa yang akan mendampingi Yudhoyono meneruskan masa baktinya lima tahun mendatang, kelompok partai agamis atau nasionalis?
Memang tidak ada garis perbedaan yang tegas antara partai agamis dan nasionalis. Bahkan dapat dikatakan tidak ada, tapi kenyataannya ada. Atau sebaliknya disebut ada, tapi tidak ada yang mengaku. Sebab, politikus yang agamis sekaligus seorang nasionalis. Atau sebaliknya, tokoh nasionalis tapi bersikap saleh dan rajin beribadah.
Tulisan ini mengacu kepada anggapan tradisional bahwa partai politik di tanah air terpolarisasi ke dalam dua kelompok, agamis dan nasionalis. Disebut agamis karena konstituennya mengandalkan basis umat beragama, seperti PAN yang lebih banyak didukung warga Muhammadiyah, PKB yang dipilih kaum Nahdliyin, PKS yang di-support kaum muda Muslim dan seterusnya. 
Sedangkan partai nasionalis adalah partai yang konstituennya khas bangsa Indonesia, beragama tapi tidak bergabung dalam kelompok agama mana pun. Sebagian pakar menyebut konstituen ini dengan sebutan kaum abangan, sedangkan konsituen partai agama adalah kaum santri.
Secara tradisional juga, jumlah konstituen partai beragama berkisar 40%, sedangkan konstituen partai nasionalis sekitar 60%. Jumlah ini ternyata tidak kunjung berubah, meskipun jumlah partai politik bertambah atau berkurang, bahkan berganti baju dan berubah nama.
Mengacu kepada komunikasi politik parpol sebelum berlangsung Pemilu Legislatif, 9 April lalu, Yudhoyono mestinya berkoalisi dengan partai yang berkomitmen mendukungnya. Beberapa parpol yang kukuh bersanding adalah PKS, PKB Muhaimin Iskandar, dan PAN (meskipun sebagian bersikap oposisi).
Sedangkan Partai Golkar terlanjur declare akan mencalonkan Ketua Umumnya, Jusuf Kalla. PDI Perjuangan sejak “pagi hari” sudah menggadang calon wakil presiden yang akan mendampingi Ketua Umumnya Megawati Soekarnoputri. Maka, PDIP pun sibuk mematut-matut diri dengan para politikus dari partai lain untuk menghadang laju Yudhoyono.
Kini, pemilu legislatif telah berlalu. Hasil real count belum selesai dihitung, tapi hasil quick count sudah menjadi dasar penghitungan politik selanjutnya. Intinya, hasil Pemilu 2004 sama sekali berbeda dengan Pemilu 2009. Partai Demokrat keluar sebagai satu-satunya partai yang tanpa berkoalisi pun mampu mengajukan Yudhoyono sebagai calon presiden.
Maka, pertempuran siapa yang akan menjadi presiden nyaris fix, Yudhoyono. Persoalannya, siapa yang akan mendampingi dia? Politikus dari partai agamis atau nasionalis? Menilik dari komunikasi politik sebelum pemilu legislatif, maka calon wapres yang dapat mendampingi Yudhoyono adalah dari PKS, mungkin Hidayat Nurwahid. PKS merupakan partai agamis tertinggi perolehan suaranya. Di samping itu, PKS juga menjadi pendukung utama Partai Demokrat dalam Pemilu Presiden 2004. Selama proses pemerintahan SBY-JK, PKS juga tidak melakukan tindakan wanprestasi.
Persoalannya, kaum nasionalis tentu tidak rela jika Yudhoyono kemudian dikelilingi kaum agamis. Mereka khawatir, iklim politik kembali seperti ujung pemerintahan Orde Baru di mana kabinet dan parlemen bernuansa ijo royo-royo. Hasil pemilu 2009 ini tidaklah menghijaukan legislatif, tapi warna itu bisa mendominasi kabinet.
Itulah sebabnya, Partai Golkar yang semula berniat berkoalisi dengan PDI Perjuangan berada di persimpangan jalan. Sebagian rela menjilat ludahnya untuk berpisah dengan Yudhoyono dan kembali merapat ke Partai Demokrat. Namun sebagian lain terus mencari jalan agar langkahnya tetap konsisten, mandiri dari Yudhoyono.
PKS tentu tidak happy dengan langkah Golkar yang dinilai plin plan ini. Itulah sebabnya, Sekjennya Anis Matta menyatakan akan keluar dari koalisi dengan Partai Demokrat jika Yudhoyono kembali berduet dengan Kalla. Jika duet SBY-JK diulang dalam Pemilu Presiden 2009 ini, maka peta politik dapat berubah. Katakanlah, PKS kemudian mengajukan capres sendiri dengan menggalang kekuatan sesama partai agamis. 
Jika PKS berhasil mengumpulkan kekuatan konstituen kaum agamis secara optimal, dia akan meraih suara 40% dalam pilpres mendatang. Jumlah ini tentu dapat menjungkirbalikkan penghitungan, terutama jika kaum nasionalis lain, dalam hal ini PDI Perjuangan, juga mengajukan calonnya sendiri. Maka, suara nasionalis yang 60% bisa terpecah ke dalam kubu Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-10 nasionalis. Sebutlah, Megawati meraih suara minimal 20%, maka suara Yudhoyono akan mendapat 40%. Artinya, SBY-JK dan partai agamis akan meraih suara yang imbang. Baru setelah pilpres kedua, Yudhoyono dapat kembali di atas angin.
Soal calon wapres memang terpulang kepada Partai Demokrat dan Yudhoyono. Kalau mereka memilih partai agamis, maka bangunan politik nasional semakin lengkap, nasionalis didukung agamis. Tapi jika nasionalis bergabung dengan nasionalis, sementara politikus agamis termarginalkan, maka stabilitas politik 2009-2014 kembali dipertanyakan. Tapi semua terpulang kepada sang pemenang, toh semua adalah pilihan-pilihan. (Wakhudin/”PR”)***

Legawa



NAPAS Resi Bhisma sudah di tenggorokan. Panah Srikandi tepat mengenai jantungnya dalam Perang Bharatayudha. Kresna dan Pandawa lima pun mendekat, demikian pula Duryudana dan Korawa. Saat menjelang ajal, pewaris tahta Astina ini ingin istirahat di tempat yang nyaman. Maka Duryudana membawakan tempat tidur yang terbaik agar Bhisma bisa beristirahat. Tapi ditolak. Sedangkan Werkudara membawakan bekas peralatan perang seperti patahan tombak, pedang yang buntung, pecahan meriam dan sebagainya. Bhisma pun menerima pemberian Pandawa dengan senyum bahagia.
Sebelum tidur, Bhisma meminta air minum yang dapat menghilangkan rasa hausnya. Maka Korawa membawakan anggur yang paling mahal dengan aneka macam jus buah segar. Tapi lagi-lagi ditolak. Sedangkan Pandawa membawakan air bekas mencuci peralatan perang. Bhisma meminum air bekas mencuci peralatan perang itu. Bagi dia, seindah-indahnya kematian adalah orang yang mati di dalam peperangan karena membala negara. Mati di dalam peperangan ditandai dengan tidur di atas potongan senjata dan minum air bekas mencuci peralatan perang.
Bhisma sesungguhnya pewaris tahta Astina yang sah. Tapi demi kesetiaan kepada ayahnya Prabu Sentanu yang menyerahkan negara kepada anak dari istri keduanya, ia ikhlas tidak menduduki tahta itu. Tapi saat Bharatayudha pecah, ia berada di kubu Korawa, dengan alasan ia membela negara Astina. Siapa pun yang menyerang Astina, dia akan membelanya. Meskipun kalah oleh tentara wanita, Srikandi, ia tetap mati sebagai ksatria yang mulia. Pandawa maupun Korawa sama-sama menghormatinya. Kematian bagi Bhisma merupakan jalan terbaik untuk berkumpul dengan istrinya Ambika dan Ambalika yang telah menanti di pintu sorga.
Seperti Bhismalah mestinya calon anggota legislatif yang kalah dalam pemilu, 9 April 2009. Kekalahan tidak dianggap sebagai “kiamat”, akhir dari segalanya. Orang yang menghargai demokrasi akan menerima apa pun yang menjadi pilihan rakyat. Sebaliknya, meskipun mengaku sebagai orang yang demokrat, jika menafikan pilihan rakyat, dan asal menggugat, maka ia hakikatnya orang yang sesat. Demokrasi membutuhkan kedewasaan sikap, bukan asal embat.
Apa pun hasil pemilu, semua pihak harus menerimanya dengan lapang dada. Sebab, kekalahan hanyalah satu titik pandang, sebab di balik kekalahan ada kemenangan. Setidaknya, kemenangan moral. Sesungguhnya di balik siang adalah malam, di balik malam ada siang. Begitulah hakikat hidup.Yang menang tak perlu sombong dan kembang kempis hidungnya. Yang kalah dan tidak meraih suara yang cukup untuk menduduki kursi legislatif masih berhak menjadi orang yang terhormat. Caranya, bersikap jantan, mengakui kemenangan lawan. Bukan malah sumpah serapah, sembari mencari orang yang salah, nanti ujung-ujungnya mencari rumah sakit jiwa yang murah.
Bahwa dalam proses pemilu ada kesalahan dan kecurangan, itu adalah “lazim”. Semua orang boleh mempersoalkan dan mengajukan gugatan ke lembaga yang berwenang. Indonesia butuh manusia ksatria yang ikhlas dan legawa menghadapi realita. Asal berbeda dan waton sulaya selalu bagus dimainkan pelawak untuk memancing orang tertawa. Tapi peristiwa yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan menentukan arah peradaban tak cukup diserahkan kepada para pelawak. Para ksatria harus istikamah pada darmanya, menjaga moralitas bangsa. (Wakhudin/"PR")***

Jumat, 20 Maret 2009

”Jejaden”


MENGINGINKAN "A" tapi jadinya "B", itulah jejaden. Lagu "Cucakrawa" melukiskan jejaden itu, "Kucoba-coba melamar gadis. Gadis yang kulamar, tapi janda yang kudapat." Sebagian orang menginginkan keadaan lingkungannya bersih. Maka, ia memasang plakat, "Buanglah sampah pada tempatnya." Ternyata yang didapat adalah, "Buanglah tempat sampah padanya." Kebohongan yang sering dipercaya masyarakat, misalnya, seseorang yang menginginkan kaya, kemudian pergi ke dukun tertentu. Tetapi, bukannya menjadi kaya, malah menjadi bagong jejaden.
Jejaden bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Bukan hanya di wilayah kumuh dan urban, tapi juga terjadi di dunia maju yang scientific. Penemuan ilmiah kerap pula merupakan jejaden, tentu saja prosesnya melalui kerja ilmiah juga. Amerika Serikat sesungguhnya merupakan jejaden. Sebab, Columbus yang menemukannya bermula sekadar mencari rempah. Australia yang semakin sempurna menjadi Barat juga hanya jejaden. Bermula dari tempat pembuangan orang jahat, akhirnya menjadi benua yang raya. Singapura yang kini berkelas dunia juga jejaden. Dari semula tempat kubangan ternak, kini kekayaannya melebihi Indonesia yang sedemikian luas dan besar.
Hidup memang tidak selalu linear, tapi senantiasa berliku. Maksud hati ingin santun, supaya terkesan ramah. Tapi bisa jadi dituduh cengengesan atau malah dikira menghina dan menertawakan orang lain. Bagaimanapun, hidup ini harus jadi, jadi apa pun. Menjadi apa pun, bisa dimulai dari mimpi. Tentu hanya dengan kerja keras, mimpi jadi kenyataan. Dream may comes true.
Orang boleh mengharapkan menjadi apa pun, bahwa kemudian menjadi yang lain adalah sah. Tetapi, harus ada rumus dalam jejaden itu. Kita tak boleh menjadi sesuatu yang lebih rendah dan lebih tidak bernilai dari sebelumnya. Sebelumnya adalah manusia, namun kalau kemudian salah jejaden menjadi babi hutan, itu adalah kehancuran. 
Indonesia semula negara yang kaya raya, gemah ripah loh nijawi. Apa pun yang ditanam tumbuh. Tongkat dan kayu pun bisa menjadi tanaman. Akan tetapi, kenapa eh kenapa, kini rakyatnya banyak menjadi pengangguran? Kalaupun bekerja ke luar negeri, sekadar menjadi pembantu rumah tangga? Pemerintah pun sibuk mencari utangan untuk membayar utang sebelumnya yang jatuh tempo? Kita negara yang betul-betul jadi-jadian dan hancur-hancuran. Agar menjadi negara dan bangsa yang mempunyai nilai lebih, harus menggunakan rumus berkah. Hitungan matematika menunjukkan, 2+2=4. Kalau berkah, 2+2 mudah-mudahan lima, bahkan mudah-mudahan 10, 15, 20, dan seterusnya.
Namun, mengapa jejaden yang dialami bangsa Indonesia senantiasa merosot dan defisit, dari negara yang kaya menjadi semakin fakir? Jangan-jangan kita selama ini tidak bersyukur. Sebab, sebagaimana firman Allah, hanya dengan bersyukur kita dilipatgandakan kekayaan dan kenikmatannya. Sebaliknya, karena mengingkari kenikmatan, kita justru semakin terperosok ke jurang krisis. Apakah bangsa Barat lebih bersyukur dari kita? Bisa jadi, begitu, makanya kita melulu menjadi subkultur mereka. Mengapa kita tidak menjadi jejaden diri kita sendiri? (Wakhudin/"PR")***

Sontoloyo


BINTANG lama yang kembali bersinar. Itulah Sontoloyo. Kosa kata itu kembali populer ketika Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Samsir Siregar menyebut para menteri yang berasal dari partai politik pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sebagai Sontoloyo. Sebab, mereka dinilai tidak mampu mengendalikan DPR dalam melakukan hak angket.
Dalam khazanah perwayangan Jawa, tokoh Sontoloyo kini jarang dimainkan. Pertunjukan wayang klasik sekitar tahun 1970, Sontoloyo sering ditayangkan. Fungsinya sama persis dengan Togog, punakawan yang selalu menjadi pendamping raja jahat. Togog biasanya berdampingan dengan Sarawita, sedangkan Sontoloyo berdampingan dengan Jahewono. Tokoh Togog dan Sontoloyo hanya sebagai variasi permainan wayang.
Secara silsilah, Togog masih satu kelahiran dengan Sang Hyang Batara Guru dan Sang Hyang Ismaya (Semar). Mereka lahir dari telur yang sama. Kuning telurnya menjadi Batara Guru yang menjadi raja di Kahyangan, putih telurnya menjadi Semar yang selalu mengabdi kepada raja adil dan ksatria, sedangkan cangkang telurnya menjadi Togog (Sang Hyang Tejamantri) yang selalu mengabdi kepada kejahatan. 
Sedangkan Sontoloyo lahir dari titah marcapada atau rakyat kebanyakan. Itulah sebabnya, Sontoloyo kerap pula disebut dengan kere munggah balai atau seorang yang hina dina tetapi kemudian mendapat kesempatan menduduki posisi penting. Karena berasal dari orang susah, saat berada di lingkungan kekuasaan pun sikapnya tetap sama. Ribet, rese, kasak-kusuk, tidak fair, dan sikap-sikap buruk lainnya.
Apakah para menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang berasal dari partai politik pendukung SBY-JK seperti Sontoloyo? Tentu, itu terserah kepada penilaian Kepala BIN. Yang pasti, kekuasaan SBY-JK tinggal sekitar 14 bulan. Dalam kurun waktu setahun lebih itu, adalah wajar bagi para pemimpin partai menyiapkan kembali semua potensi yang dimiliki untuk memperebutkan kekuasaan periode berikutnya.
Persiapan dilakukan dengan merapikan manajemen dan kepemimpinan ke dalam, seperti membangun kembali komitmen pengurus partai dari tingkat pusat hingga ke tingkat daerah. Sementara itu, ekspansi keluar dilakukan dengan melakukan penggalangan massa kader partai terutama di kalangan grass root. 
Demi meraih suara rakyat sebanyak-banyaknya, pemimpin partai sering melakukan manuver dan akrobat politik. Yang penting namanya dikenal masyarakat. Soal manuvernya bermanfaat bagi rakyat atau tidak, dianggap bukan masalah. Nama yang dikenal banyak orang adalah investasi.
Apakah hak angket yang disepakati DPR sekadar manuver dan akrobat politik? Bisa jadi ya, jika hak angket sekadar digunakan untuk mencari perhatian rakyat tanpa menyelesaikan substansi masalah berkaitan dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus melambung. Namun, jika hak angket dapat menyelesaikan kasus mafia BBM, apalagi rakyat dapat mencari jalan keluar dari kebuntuan krisis, rakyat akan semakin tahu siapa yang sebetulnya Sontoloyo. (Wakhudin/"PR")***

Mencari Merdeka


KUMBAYANA sesungguhnya seorang pangeran di Kerajaan Hargajembangan. Ayahnya, Prabu Baratwaja, sangat ditakuti semua negara di kawasan Atasangin. Dapat dikatakan, Hargajembangan adalah ibu kota Atasangin Serikat. Meskipun Durna, panggilan akrab Kumbayana, bisa saja mewarisi kekuasaan ayahnya, namun ia memilih merantau ke Hastina. Sebab, kekuasaan yang diraih ayahnya ialah berkat senjata Pulanggeni, yang dipinjam dari Resi Wiyasa, penguasa Hastina. Ketika Pulanggeni dikembalikan ke pemiliknya, Durna malah minggat dari Hargajembangan, dan mencari Wiyasa atau anak turunannya.
Sayangnya, ketika mau menyeberang ke Hastina, Durna dihadang kabut tebal dan dihadapkan pada samudera yang luas dengan gelombang yang besar. Saat itulah seekor kuda cantik bersayap turun di hadapan Durna. Kuda itu memberi isyarat agar Durna segera menaikinya. Maka Kumbayana dibawa terbang melewati mega yang sempat menutupi cakrawala.
Dalam perjalanan terbang inilah Durna terlena. Ia khilaf. Dalam imajinasinya, ia terbang dengan seorang bidadari cantik. Bahkan akhirnya ia melakukan hubungan seksual dengan kuda yang menerbangkannya. Eloknya, begitu kuda itu turun di seberang lautan, Durna benar-benar diantar sampai ke daratan Hastina. Dan saat itulah kuda itu hamil sekaligus melahirkan anak hasil hubungan badan Durna dengan kuda tersebut. Anak tersebut kemudian diberi nama Aswatama. Rupanya, kuda yang membawa Durna adalah Batari Wilutama, yang sedang terkena kutukan. Setelah melahirkan seorang manusia, Kuda Wilutama kembali menjadi bidadari dan pulang ke kahyangan. Sesampainya di Hastina, Durna menjadi guru Pandawa, anak cucu Wiyasa. Ia merangkap sebagai guru dan penasihat spiritual para Kurawa, kakak ipar Pandawa.
Niat Durna sebetulnya baik, ingin mencari kemerdekaan diri. Dia menolak menjadi raja dengan bayang-bayang kebesaran ayahnya. Namun Kumbaya orang yang gampang dipengaruhi, terutama bisikan jahat dari Sangkuni, patih Hastina. Memiliki anak dari seekor kuda sesungguhnya menggambarkan lemahnya nurani dan keimanannya. Maka, saat mencari kemerdekaan itu, sesunguhnya Durna hanya meraih "belenggu". Ia memilih untuk mengumbar hawa nafsunya, daripada mencari keutamaan hidup. 
Kemerdekaan RI yang diraih bangsa Indonesia dengan cucuran darah dan air mata 63 tahun lalu juga sangat mengkhawatirkan salah arah sebagaimana Durna. Kemerdekaan RI semakin ternoda dengan ketidakmandirian secara ekonomi. Langkah membayar utang ke IMF, membubarkan IGGI, dan menutup utang luar negeri lainnya adalah jalan lurus menuju kemerdekaan. Namun privatisasi BUMN, apalagi BUMN yang produktif adalah jalan tol menuju "penjajahan" ekonomi. Inilah arah kemerdekaan yang secara perlahan mengalami distorsi. (Wakhudin/"PR")***

Memberi


DARAHNYA berwarna putih, karena ia selalu ikhlas dan tulus dalam memberi. Apa pun yang diperlukan orang lain, ia akan menyerahkannya tanpa ragu-ragu. Jangankan harta atau kekuasaannya, nyawa dan istrinya pun akan diberikan jika hal itu diinginkan orang lain. Itulah Samiaji atau Prabu Puntadewa, raja Amarta. 
Syahdan suatu hari, utusan dari Pancawati bernama Hanoman datang ke Amarta meminta Drupati, istri Puntadewa, untuk dipersunting Prabu Rama. Tanpa berpikir panjang, Drupadi pun diserahkan dan dibawa pulang Hanoman. Empat adik Puntadewa pun marah akan kelakuan kakaknya. Akan tetapi Kresna, penasihat Pandawa, melarang mereka protes. Kresna kemudian mencari akal menyelesaikan kasus ini. Maka, Arjuna ditugasi menculik kembali Drupadi dari iring-iringan kendaraan pimpinan Hanoman. Mereka menukar Drupadi dengan Gatotkaca, anak Bima calon panglima perang Amarta.
Kedatangan Hanoman disambut sukacita Prabu Rama. Namun, mereka berubah menjadi murka manakala yang keluar dari kendaraan calon pengantin ternyata seorang tentara. Maka, Pancawati segera mengerahkan pasukan untuk berperang melawan Amarta. Namun, perang belum sampai berkecamuk, dewa dari kahyangan turun dan melerai pertengkaran. 
Prabu Rama berterus terang bahwa dirinya tidak bermaksud menikahi Drupadi, melainkan sekadar melakukan uji coba terhadap Puntadewa. Sebab, dewa telah berjanji jika berhasil memerangi Prabu Dasamuka, Prabu Rama akan mendapat ganjaran berupa reinkarnasi ke dalam raja yang adil. Namun, dewa memberitahukan bahwa raja adil yang dimaksudkan bukanlah Samiaji, melainkan Kresna. Sebab, Kresna masih sama-sama keturunan Dewa Wisnu dan masih cucu dari Prabu Rama.
Kisah Prabu Puntadewa yang sangat dermawan begitu terkenal dan legendaris. Namun setiap pemberiannya tidak pernah menyebabkan kemiskinan dan kemelaratan. Justru dengan memberi ia senantiasa mendapatkan keberuntungan. Dalam kasus di atas, Puntadewa justru mendapatkan anugerah berupa sekutu. Karena, selain Prabu Rama yang manunggal dengan Kresna, adik Prabu Rama bernama Lesmana akhirnya juga menyatu dan reinkarnasi ke dalam diri Arjuna, adik Puntadewa. Bagi Puntadewa, memberi tidak perlu menunggu kaya, apa pun yang dimiliki bisa digunakan untuk membantu orang lain. Memberi tidak membutuhkan kecerdasan, dan ia yakin dengan memberi akan selalu mendatangkan keuntungan.
Para sahabat Nabi Muhammad saw. adalah umat yang sangat suka memberi. Mereka bahu membahu dan saling tolong di saat susah. Saat akan berperang, Umar bin Khattab membawa separuh hartanya untuk digunakan bekal perang. Pada saat yang nyaris bersamaan, Abubakar Ashiddieq bahkan membawa semua hartanya diserahkan kepada Rasulullah untuk bekal perjuangan Islam.
Kini saat bangsa Indonesia dalam masa sulit, sifat memberi seperti yang dilakukan Samiaji dan para sahabat Rasul sangat diperlukan. Karena hanya dengan sikap ikhlas memberi, bangsa ini akan mendapatkan keberuntungan. Sayang, sifat itu belum tumbuh. Yang kaya justru semakin rakus mengeruk harta, meski harus memakan uang rakyat. Padahal, yang kaya saatnya memperlihatkan solidaritasnya. Bahkan tak perlu menunggu kaya, sama-sama miskin pun bisa saling membantu. (Wakhudin/”PR”)***