Senin, 22 November 2010

Pakem Wayang Golek dan Modernitas




LAKON Bambang Sumantri mengabdi kedapa Raja Mahespati, Prabu Sasrabahu sesungguhnya cerita klasik dan termasuk kisah tua. Disebut tua karena peristiwa ini terjadi sebelum kisah Mahabarata, kisah pertempuran antara sesama darah Kuru di medan pertempuran Kurusetra. Bahkan, kisah ini lebih tua dibandingkan dengan cerita Ramayana.

Kisah Ramayana diyakini terjadi lebih tua dibandingkan dengan Mahabarata. Sebab, Prabu Rama Wijaya dari Ayodya yang menjadi titisan Dewa Wisnu merupakan kakek moyang Prabu Kresna dari Dwarawati. Prabu Kresna adalah operator perang Baratayudha. Dia adalah tokoh yang keukeuh agar "Perang Dunia III" dalam pewayangan ini harus terjadi. Sebab, perang ini sudah menjadi nazar para dewa, demi sirnanya angkara murka.

Meskipun kisah Bambang Sumantri Mengabdi termasuk kisah yang klasik, di tangan dalang Ki Umar Darusman Sunandar (30), kisah itu menjadi sedemikian aktual. Dialog antara satu tokoh dan tokoh lainnya sangat masa kini. Lihatlah nasihat ayah Sumantri, Resi Suwandageni dari Pertapan Jaka Sampurna tentang pengabdian seorang warga terhadap negara. Pengabdian seorang ksatria terhadap negara harus tanpa pamrih, bukan sekadar mendapatkan takhta agar berkuasa dan memperoleh kuasa, melainkan merupakan ekspresi pengabdian seorang makhluk kepada Sang Khalik yang diekspresikan dalam upaya menjaga keseimbangan kekuasaan antara pamong praja dan rakyat. Tugas aparat yang duduk di kursi kekuasaan bukan untuk menikmati kue pembangunan dengan porsi paling besar, melainkan mendistribusikan kesejahteraan yang berhasil dikuasai negara kepada sebagian besar warga.

"Tugas aparat bukan malah melarang warga mencari rezekinya masing-masing. Negara sudah tidak mendistribusikan kesejahteraan kepada rakyat, di saat yang sama malah membatasi warganya mencari rezeki sendiri. Pedagang asongan yang cuma menjual tiga bungkus rokok pun disita barang dagangannya. Lalu, di mana tingkat keadilan aparat yang demikian," kata Begawan Suwandageni ketika menasihati anaknya yang akan melamar menjadi aparat di Kerajaan Mahespati itu.

Kemudian, Suwandageni pun menceritakan nasib pilu yang dihadapi masyarakat yang diperlakukan secara tidak adil oleh aparat. Kisah para pedagang kaki lima yang tidak pernah tenteram berdagang di tempat strategis. Akibatnya, Si Amed nangis terus seharian karena gerobaknya disita aparat. "Yang paling membuat saya sedih, istri saya di gerobak itu sedang tidur, terbawa aparat," katanya.

Di tangan murid dalang kondang Ki Asep Sunandar Sunarya ini, semua yang klasik bisa berubah menjadi sangat aktual. Simaklah bagaimana bingungnya Sukrasana ketika bangun kesiangan dan ternyata kakak kesayangannya, Bambang Sumantri, tidak ditemuinya.

"Ama, Kakang Sumantri ke mana?" tanya Sukrasana, adik Bambang Sumantri yang berbadan raksasa dan bermuka buruk.

"Mungkin sedang mandi," ujar Suwandageni sembari membelai rambut Sukrasana.

"Sudah kubuka seluruh kamar mandi, tidak ada tuh?" ujar Sukrasana sembari penasaran.

"Atau mungkin ke warung?" ujar ayah Suwandageni yang semakin tua. Lagi-lagi, Sukrasana tidak percaya. Sebab, selama ini kakaknya Sumantri tidak suka ke warung, bahkan kalau memiliki kebutuhan kakaknya lebih suka menyuruh dia agar membelikan barang.

"Atau, kakakmu mungkin pergi ke warnet," ujar Suwandageni sembari membujuk Sukrasana.

"Ah, tidak mungkin. Kakang Sumantri termasuk orang yang gagap teknologi. Menggunakan Facebook saja tidak bisa. Bahkan, kirim sms saja tidak pakai spasi," ujar Sukrasana yang disambut gerrr... penonton.

Akhirnya, Suwandageni pasrah dan menceritakan kepergian Sumantri ke Mahespati untuk melamar sebagai aparat di negara itu.

Bagi dalang yang akrab dipanggil Ki Dalang Riswa ini, kekunoan kisah wayang dan kekakuan pakem tidak pernah menjadi masalah sebagai bahan bodoran. Ia termasuk dalang yang sangat produktif memproduksi kosa kata baru, termasuk berbagai macam idiom yang menunjukkan kelucuan.

Dawala dan Cepot yang bersaudara kadang harus terlibat konflik. Mereka pun bertengkar sengit. Namun, ketika satu dengan yang lain saling menyakiti, Cepot pun sadar dan berkata, "Kamu kok tega sih menyakiti aku yang fakir misscall?"

"Fakir miskin, meureun?" ujar Dawala menanggapi keluhan Cepot.

"Bukan, saya ini fakir misscall. Habis, menelefon pacar tidak kunjung diangkat sehingga misscall melulu," ujar Cepot.

Dawala juga mengeluhkan perilaku Cepot yang menganiayanya. "Saya ini seorang yatim piano, tetapi kamu tega menganiayaku?" keluh Dawala.

"Maksudnya, yatim piatu?" ujar Cepot berusaha membetulkan ucapan Dawala.

"Bukan yatim piatu, tetapi yatim piano. Kalau yatim piatu berarti tidak punya ayah dan ibu. Kalau yatim piano, berarti tidak punya gitar-gitar acan," ujar Dawala.

**

KESENIAN Sunda, khususnya wayang golek sesungguhnya bagaikan lautan yang tidak bertepi. Sangat luas. Kisah yang diceritakan sesungguhnya hanya lakon yang diambil dari kisah Ramayana dan Mahabarata atau akar dari kisah itu, serta kisah turunannya.

Namun, uraian antawacana, setting konflik, dan intrik yang berkaitan dengan kehidupan kontemporer seperti tidak pernah kering. Semakin piawai seorang dalang, semakin pintar ia mengelaborasi kisah wayang dalam kehidupan kekinian. Artinya, wayang sesungguhnya tidak pernah kering digunakan untuk melakukan proses edukasi manusia modern.

Di samping itu, sumber daya manusia yang berada di balik pergelaran wayang juga cukup banyak. Ki Dalang Riswa merupakan salah seorang dalang muda yang tengah bergelut dengan dinamika modernitas. Ia bersama teman seangkatannya dapat dikatakan sebagai pejuang untuk mempertahankan eksistensi kesenian dan budaya tradisi.

Itulah sebabnya, dengan berbagai kemasan, Ki Riswa berupaya menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Salah satunya adalah pergelaran Pojok Si Cepot di stasiun televisi Kota Bandung.

"Tujuannya, supaya setiap warga negara merasa memiliki terhadap seni budaya ini. Sebab, kalau bukan bangsa Indonesia yang mengembangkan seni budaya sendiri, lalu siapa lagi?" ujar Dalang Riswa.

Karena menonton wayang seseorang dituntut berkonsentrasi selama 6 hingga 8 jam, Ki Riswa pun mencoba mengakalinya dengan membuat wayang yang tidak ada sebelumnya, seperti dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Maka, ia pun membuat wayang bersosok hansip, petani, militer, pegawai negeri sipil, dan sebagainya. Tujuannya, untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka memiliki kesenian yang adiluhung ini.

Ki Asep Sunandar Sunarya yang menjadi guru Riswa di Pedalangan, telah terlebih dahulu membuat banyak kreasi menghadapi era modern dalam bidang perwayangan. Sabetan yang kreatif dengan ekspresi yang lebih manusia menjadi kekuatannya sehingga ia menjadi dalang tenar di era serbadigital ini.

Sayangnya, arah angin modernitas kurang memberi tempat bagi kekayaan seni tradisi orisinal karya Indonesia. Masyarakat lebih banyak tergiring untuk mencintai budaya manca yang tidak memiliki akar di dalam masyarakat. Bahkan, budaya manca tersebut menggerogoti akhlak dan moral bangsa.

Sementara itu, seni tradisi milik bangsa sendiri menawarkan keindahan estetika yang tak ternilai harganya. Di sinilah, para seniman telah menyumbangkan seluruh kreativitas dan kemampuannya untuk mengabdi.

Penonton yang hadir dalam pentas wayang golek semalam suntuk di Taman Pramuka, Jumat (5/11) malam pasti gemuruh dengan gelak tawa menyaksikan lakon Bambang Sumantri Ngenger. Mereka pun merenungi kisah dan petuah yang lahir dari tontonan itu.

Akan tetapi, sayang, tak banyak masyarakat yang tergugah untuk mengikuti tradisi ini. Di malam yang dingin disertai rintik hujan, masyarakat lebih enak tidur di rumah. Mungkin mereka tidak tahu akan adanya pementasan wayang dalam rangka HUT ke-200 Kota Bandung. Bahkan, yang tahu pun tidak tertarik menonton kisah wayang. Akan tetapi, jangan mengeluh jika kelak seni budaya ini tiba-sudah menjadi milik bangsa lain. Mengapa tidak kita pertahankan? (Wakhudin/"PR") ***

Memberi


BIMA marah luar biasa ketika kakaknya, Puntadewa menyerahkan istrinya, Drupadi, kepada Hanoman, utusan dari Pancawati. Maklum, tidak lazim, seseorang menyerahkan istri kepada orang yang memintanya. Di samping itu, Bima marah demi menjaga nama baik kakaknya yang raja Amarta itu. Tapi Puntadewa keukeuh tetap menyerahkan istrinya kepada siapa pun yang membutuhkan, walaupun wajah Dewi Drupadi pucat pasi ketakutan dan tidak mau melakukan. Melihat niatnya dihalang-halangi, Puntadewa balik marah kepada Bima.
“Kalau aku menyerahkan istriku kepada Prabu Rama dihalang-halangi, silakan bunuh aku saja. Sejak muda, aku bersumpah untuk menjadi raja yang suka memberi. Siapa pun yang meminta dariku berupa apa pun, harus aku beri. Hari ini, aku akan melaksanakan sumpahku, tapi kau halang-halangi, berarti engkau menghalang-halangi aku melaksanakan sumpahku,” ujar Puntadewa.
Mendengar alasan Puntadewa, Bima tak bisa berkata-kata. Ucapan kakaknya benar, tapi tidak masuk akal. Krisna yang menjadi penasihat Pendawa segera membujuk Bima untuk menuruti kemauan Puntadewa. Tapi secara diam-diam, Krisna menyuruh Arjuna untuk segera menukar tandu yang berisi Dewi Drupadi dengan Gatotkaca. Maka, Hanoman bersama pasukan monyet bersorak sorai kembali ke Pancawati membawa tandu yang yang mereka duga berisi Dewi Drupadi, padahal berisi Gatotkaca.
Sampai di Pancawati, Hanoman dibuat malu luar biasa. Sebab, tandu yang berisi seorang calon permaisuri rajanya, ternyata seorang ksatria. Maka ditangkaplah Gatotkaca. Tapi ia berhasil lolos. Rupanya, Prabu Rama melamar Drupadi tidak benar-benar mau menikahinya. Tapi dia sesungguhnya sedang melakukan uji coba. Setelah berhasil menumpas angkara murka di Alengka, Prabu Rama mendapatkan janji dari para dewa, bahwa ia akan manitis (menyatu jiwa dan raga) ke dalam raja yang bijaksana.
Maka ketika mendengar bahwa Putadewa begitu bijaksana, Prabu Rama penasaran. Ia bertanya dalam hati, inikah raja yang akan menjadi anugerahnya? Dengan melamar Drupadi, ia sengaja hanya ingin mencari gara-gara agar bisa bertemu muka dengan raja yang super baik itu. Maka ia pun mengerahkan seluruh prajuritnya. Sementara penasihat Amarta yang menjadi raja Dwarawati juga menggelar pasukan yang seimbang. Perang pun segera pecah. Prabu Rama dan Prabu Kresna pun berhadap-hadapan.
Tapi sesaat sebelum dua pasukan saling berkecamuk, Batara Guru pun datang meredakan ketegangan. Ia menjelaskan bahwa Prabu Rama dan Prabu Kresna masih satu darah dan keduanya titisan Batara Wisnu. Krisna adalah anugerah bagi Rama, bukan Puntadewa. Anugerah itu baru datang beberapa tahun kemudian, meskipun Rama saat itu sudah berusia 100 tahun lebih. Bergabungnya “kekuatan” Pancawati ke Amarta semakin menguatkan Pandawa dalam merebut kembali negara mereka, Hastinapura.
Pertemuan kisah antara Ramayana dan Mahabarata ini menggambarkan betapa memberi tidak pernah sia-sia. Bahkan, memberi selalu mendatangkan anugerah. Simaklah kisah sufi yang menceritakan tidak ada orang yang mabrur kecuali orang yang gagal pergi haji, karena uang akan digunakan biaya perjalanan haji digunakan untuk sedekah. Simak pula kisah Rasulullah dan para sahabat yang selalu saling tolong menolong saling membantu. Mereka selalu memberikan yang terbaik miliknya di jalan Allah, bahkan nyawa mereka sekalipun.
Alangkah berbedanya dengan umat sekarang yang lebih suka menerima daripada memberi. Bahkan, apa pun dilakukan untuk mendapat. Aparat melepas tahanan Gayus agar dapat sogokan. Rakyat kecil siap menginjak sesama mereka untuk mendapatkan sepotong daging kurban. Mendapatkan adalah lebih utama dari memberi. Inikah yang menyebabkan negeri ini lebih banyak mendapatkan musibah dari anugerah. Kalau mendapatkan selalu menjadi ciri bangsa ini, maka cita-cita menjadi negara yang maju dan modern serta diridai Tuhan, semakin jauh panggang dari api. (Wakhudin/”PR”)***

Selasa, 02 November 2010

Dubutuhkan, Pengelola Negara Berjiwa Zuhud


INGIN hidup bersih, memiliki hati yang bening, dan pikiran jernih, lalu seseorang menolak menjadi pimpinan projek, apalagi kalau harus memegang uang. Sebab, kalau memegang uang, ia khawatir memanipulasi laporan dan menyisihkan uang bukan haknya untuk diri sendiri. Ia juga tidak mau menjadi politikus, baik sekadar menjadi anggota DPRD atau DPR maupun duduk di lembaga eksekutif. Sebab, kekuasaan “memaksanya” (cenderung) korup.
Orang yang bersikap seperti ini, mungkin akan tercapai keinginannya. Ia menjadi orang yang zuhud, bersih dari kotoron duniawi, dan mendapatkan kesempatan luas mengurus kepentingan akhirat. Persoalannya, apa istimewanya orang yang tidak pernah berurusan dengan uang kemudian tidak melakukan tindakan koruptif? Apa hebatnya petani yang terbiasa bekerja di ladang dan jauh dari kekuasaan tapi tidak pernah bertindak otoriter dan tidak korupsi? Tentu saja tidak ada yang aneh.
Yang istimewa adalah, pimpinan projek yang memiliki tanggung jawab atas uang dalam jumlah yang besar namun tidak tertarik mengorupsinya, walaupun memiliki kesempatan. Yang juga sangat mengagumkan adalah pemimpin yang memiliki kewenangan besar namun tidak bertindak sewenang-wenang. Ia tetap berlaku demokratis dan memberikan kesempatan kepada anak buah untuk mengembangkan kreativitasnya.
Walaupun memiliki kesempatan dan kemampuan mengambil uang bukan haknya, bahkan ia tidak perlu melakukannya, karena tinggal “menerima bersih” atas rekayasa orang lain, ia tidak mau melakukannya. Itulah yang disebut zuhud sejati.
Zuhud merupakan akhlak utama seorang Muslim, terutama saat di hadapannya terbentang kesempatan meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya, baik kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Zuhud menjadi karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Bekerja di tempat yang krusial tak ubahnya seperti perang. Kemenangan yang sejati bukan diukur apakah seseorang berhasil memperebutkan projek dan mendapatkan keuntungan pribadi yang besar dengan cara apa pun. Kemenangan yang hakiki adalah melaksanakan projek dengan capaian terbaik. Kekalahan adalah melaksanakan projek dengan seadanya namun mendapatkan keuntungan yang maksilam, apalagi kalau dikerjakan dengan penuh manipulasi. Meninggalkan pekerjaan itu sama dengan meninggalkan peperangan.
Mendapatkan keuntungan maksimal sesuai dengan kontribusi yang diberikan dalam projek tersebut adalah halal. Kalau kontribusi seseorang begitu besar, layaklah ia mendapatkan keuntungan yang besar. Namun jika kontribusinya terlalu kecil dan mendapatkan keuntungan yang besar, sesungguhnya ada kezaliman, meskipun mungkin secara hukum termasuk legal. Yang pasti, zuhud mengajarkan proporsionalitas. Pekerja keras mendapatkan keuntungan yang besar, pemalas mendapat bagiannya yang paling buncit.
Zuhud model terakhir dalam perspektif spiritual Jawa disebut tapa ngrame, bertapa di dalam keramaian. Lazimnya, orang yang bertapa melakukan khalwat, bersepi-sepi sendiri di tengah hutan, di dalam gua, atau di atas gunung. Sedangkan bertapa di tempat ramai adalah ia melakukan apa pun yang berguna bagi orang lain di tempat keramaian. Bahkan kalau perlu, ia mencari orang yang mau ditolongnya. Ekstremnya, walaupun tinggal di komunitas setan, ia tetap beragama dan menjunjung tinggi kebersihan jiwa.
Meski demikian, ia tidak mengharap pamrih apa pun. Ia boleh saja menerima upah, tapi tidak berlebihan apalagi melampaui kemampuan yang dapat ia lakukan. Tapa ngrame berarti bertapa mencari keutamaan diri dengan bergaul di tengah masyarakat banyak tanpa terpengaruh oleh hitamnya kehidupan duniawi.
Zuhud merupakan ajaran Islam, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, “Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu.”
Alquran juga memerintahkan manusia untuk bertindak zuhud. Meskipun tidak secara eksklusif menyebutnya, perhatikan Alquran Surat Al-Hadid ayat 20 s.d. 23 yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan yang melalaikan. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Maka, umat Islam diminta berlomba-lombalah mendapatkan ampunan dari Allah dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi, bukan memperebutkan dunia.
Alangkah produktifnya negeri ini jika kaum zuhud mendapatkan amanat mengurus kepentingan publik. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan umat dengan tidak mengharapkan keuntungan berlebih selain mencari rida Allah SWT. Tipe sumber daya manusia model ini dapat menggantikan tipe manusia yang lebih suka akal-akalan, semisal mencari sisa lebih dari perjalanan ke Yunani untuk belajar etika. Bagaimana mungkin mereka meraih cita-cita mendapatkan pelajaran etika kalau dilakukan secara tidak etis.
Dalam dunia hukum, polisi, jaksa, dan hakim akan bekerja proporsional. Yang salah pasti mendapatkan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya, siapa pun yang melakukannya. Yang benar mendapatkan haknya memperoleh perlindungan dan nama baik. SDM zuhud seperti ini dapat mengganti aparat yang menuhankan materi. Siapa pun yang mampu membayar lebih akan mendapatkan perlindungan hukum. Sebaliknya, siapa pun yang berurusan dengan hukum dan tidak mamiliki modal untuk menyuap akan mendapatkan hukuman, meskipun belum tentu melakukannya.
Pejabat eksekutif yang zuhud akan memprioritaskan menolong warga negaranya yang sedang tercekik oleh bencana sampai tuntas. Ia akan mengabaikan seluruh kepentingan diri dan citranya. Pribadi seperti Mbah Maridjan adalah tipe pejabat eksekutif zuhud yang bisa diteladani. Meskipun mendapatkan gaji Rp 81.000 setiap bulan sebagai penjaga gunung, ia melaksanakan tugasnya hingga tuntas. Ia tidak meninggalkan tugasnya, apa pun yang terjadi, meskipun nyawa taruhannya.
Mbah Maridjan adalah tipe “pejabat eksekutif” yang tidak silau oleh harta dan kehidupan dunia. Ia bangga kalau mampu melaksanakan tugas dengan sempurna. Ia tidak pernah meninggalkan gelanggang, meskipun tinggal seorang. Ia bangga selalu mengenakan peci, baju batik, dan kain sarung, khas Indonesia.
Jika Indonesia ingin menjadi negara yang jaya di masa mendatang, pribadi zuhud harus mengganti pejabat yang hanya sibuk dan asyik maksyuk mengurus “investor” yang membantunya modal memenangi pemilu.
Rakyat yang zuhud selalu memimpikan negara yang makmur. Mereka tidak sekadar membuat keputusan untuk diri sendiri, namun juga memberi yang terbaik bagi bangsanya. Mereka akan memilih para pemimpinnya yang dapat dipercaya, menggantinya dengan pejabat yang zuhud, bukan para petualang yang menghamburkan devisa.
Kehidupan zuhud itulah yang dilakukan kaum sufi. Dalam perspektif modern, di era serbadigital, kaum sufi tidak hanya berkhalwat, tapi juga bisa berkiprah di dunia yang serba tak beretika. Imam Ghazali pun mengatakan, kaum sufi melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik. Akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi.
Dalam konteks inilah, seminar internasional tentang tasauf sebagai opsi utama untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lilalamin yang diselenggarakan Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat untuk memperingati ulang tahun ke-105 pesantren tersebut mendapatkan relevansinya.
Indonesia yang terus mengalami degradasi di berbagai bidang pada hakikatnya bertolak dari kekekoposan moral. Obatnya adalah spiritualitas gaya zuhud dan kaum sufi itu. Karena, sebagaimana dikemukakan Imam Al-Ghazali, tasauf bisa mengobati penyakit hati itu. Tasauf berkonsentrasi pada tiga hal. Pertama, mereka selalu melakukan kontrol diri, melakuka muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah) dan muhasabah (introspeksi). Kedua, kaum sufi juga selalu berzikir, mengingat Allah SWT di mana pun. Ketiga, kaum sufi menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur, sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. (Wakhudin/”PR”)***

Minggu, 24 Oktober 2010

Western World Crisis


The war that lasted nearly ten years and even tend to embarrass the U.S. and the West in general.


THESIS Samuel Huntington about the clash of civilization (civilization clash), consciously or unconsciously, has plunged the West into the abyss of previously unimaginable crisis. In the 1990s, when the Soviet Union disintegrated and collapsed, the United States to be a winner and became the only super power country. But because it was won, the U.S. became jumawa. He was like feeling "lonely" and searched for the enemy. That's when Samuel Huntington's book appeared titled Clash of Civilization (1993) which states will be the clash between six or seven world civilizations, namely Western, Islamic, Confucian, Hindu, African, and Latin America. The most probable clash into a hot fire point is the conflict between Western civilization and Islam.
Huntington was a scholar from Harvard University who made the analysis. Yet this is precisely the analysis steps followed by U.S. President George W. Bush with an attack against Afghanistan (2001) subsequent invasion of Iraq (2003). That is why, increasingly harsh criticism directed at Huntington to call it a provocateur. Rare United States as a leader when it followed throughout the West in Muslim countries invaded. Although West did not recognize that their step as the fruit of inspiration from Huntington, but in fact, almost every step taken no single step out of the thesis.
Regardless of whether the collapse of World Trade Center (WTC) in Washington from a terrorist attack led by Osama bin Laden as a step or a Western conspiracy, which would cause the event the U.S. has a "ticket" to attack any country desired. By cooperating with allies who are members of the North Atlantic Treaty Organization (NATO), American troop overthrow the Taliban-led Afghanistan. Lapse of two years later, the same power undermine the Iraqi government led by Saddam Hussein.
Logically, the U.S. and its allies will win this battle very easily. Because, the U.S. is the country's largest and sole super power, plus all the allied countries in the European Union, Asia and even Australia. Indeed, the Taliban government in Afghanistan and Saddam Hussein in Iraq collapsed. However, the war could not be quits in quick time. The war that lasted nearly ten years and even tend to embarrass the U.S. and the West in general.
NATO forces did manage to kill tens of thousands of Afghan people suspected Taliban members and suspected of killing the Iraqi people become followers of Saddam Hussein. But many victims of the Afghan people and the Iraqi insurgents do not discourage resistance against this occupation army. When the U.S. is more focused to do battle in Iraq, while it also fought persistent insurgents. As one grows a thousand dead. Although a lot of casualties, but the Muslim guerrillas can hit back the U.S. and its allies with weapons of a simple rocket.
However, throughout the war in Iraq, 5,000 U.S. troops and allies were killed in the Country A Thousand and One night, and more than 3,000 people of Western soldiers killed in Afghanistan. Even in the last month, 45 NATO soldiers killed in Afghanistan. So the U.S. blamed Iraq's neighbors, Iran. Bush and his successor Barack Obama accused Iran of being behind the Iraqi people's resistance against the occupation of the West. Iranian President Mahmoud Ahmadinejad never admit it, but he was always in a loud voice against Western hegemony in the Muslim world. So many sentences designed the U.S. and its allies through the United Nations (UN). Instead of effective sanctions, the U.S. and its allies even more cornered. Instead, Ahmadinejad's name more popular in the Muslim world.
U.S. and NATO also blamed Pakistan border allegedly used to hide al Qaeda and Taliban forces. That is why, the U.S. repeatedly attacked Pakistan using unmanned aircraft. In fact, this attack had killed Pakistani forces. And the Pakistan-US relations had chills, so that the supply of accommodation from Pakistan into Afghanistan had faltered. Even hundreds of tanks carrying fuel for NATO forces sabotaged the Taliban.
Internal factors also affect Western society alotnya U.S. victory in the war in Afghanistan and Iraq. U.S. propaganda about the war against terrorism associated with Islamic radicalism would lead to Western societies that have curious (curiousity) became curious about Islam. That is why, they were a lot of studying the Koran and Islamic teachings. Most Western societies were later converted to Islam. Even some West season went into battle in Iraq and Afghan troops against their own country.
Various factors that cause the West never won a war, even a crisis that was finally trapped unclear when the recovery. A number of countries have been allies to leave Iraq and Afghanistan. U.S. and some EU countries that still survive the world crisis. Surviving the war will cost a very large, with the absurd victory. So the best, the West better flag of peace, than war .***

Documents on Wikileaks


Perhaps, the West does not know the theory of "kuwalat", but Wikileaks has taught them the concept.

FREEDOM West introduced to the world as long as it actually is an absurd concept. Therefore, the freedoms that are not clear directions. Freedom means freedom to do anything. Free to do good, but also free to do bad. Freedom is without these limits in turn can destroy liberty itself. That is why Western society and then restrict that freedom with the deal. Free society to do anything, provided it be agreed. Instead, they do not do something, because it agreed not to do. The rest, they are free to do or leave.
Because they interpret the concept of freedom thus, this time freedom that they agree to eat his master. On behalf of freedom, the site Wikileaks, 22 October, again reveal the secret U.S. military documents that contain army action during the war in Iraq. No fewer than 391,832 logs or notes during the war January 1, 2004 until December 31, 2009 was released to the public. Previously, documents about the war in Afghanistan also released a site that is based in Sweden. The leak was the biggest in U.S. military history and the West.
Could not help, a number of Western governments were inflamed. America and Britain, for example, condemned the publication of this confidential document. Minister of Foreign Affairs of the United States Hillary Clinton and Secretary of Defense England states, publishing it only makes the lives of people threatened. Pentagon spokesman tried to annul the problem by saying that the document was only a crude observation of a number of tactical units of the contents of tragic events and regular footage. But they acknowledge that the spread of this document as a tragedy which helped the Western enemy.
Western governments could persuade Julian Assange, founder of Wikileaks is to undo the secret documents aired Western war in Afghanistan and Iraq. But in the name of freedom, Assange not get banned. In fact, Assange was bullied by her arrest for alleged rape in the past. However, the Attorney General in Sweden and then abandoned it, because there is no evidence that Assange rape.
Freedom of the West introduced during this applied double standards. Freedom is no more understood as freedom to support their ambitions and interests. Anyone who does not support them, let alone hinder their ambitions, then the person, institution, or country stigmated as terrorists, axis of evil, axis of evil, and so forth. In fact, refers to their concept of freedom, anyone may think and do anything. But in reality, no one, especially state institutions and may inhibit the West do hegemonic ambitions throughout the world.
Unfortunately, the delivery of secret U.S. war and its allies comes as their war position worse off, both in Iraq and in Afghanistan. Although they have killed tens of thousands, maybe even hundreds of thousands of Iraqis and Afghans who claimed to be the enemy, but in fact the occupying forces also continued to experience Nahas. A super-sophisticated war equipment plus war tactics and strategies involving all coalition partners from around the world, was not able to paralyze the resistance forces. Instead, it continues to haunt the Muslim guerrillas occupying army, so one by one coalition troops retreated from the battlefield.
Demolition scandal of human rights violations committed Wikileaks further weaken the U.S. position and its allies in the two-stage war. At least, the world's eyes and glared at getting to know what actually happened in the war in Iraq and Afghanistan. So secured, support the world community against the Western war in two countries will further decline. On the contrary, the U.S. image and its allies will be a month thereafter.
In addition, the tactics and strategy of the United States and Afghanistan will be more easily monitored by the guerrilla forces. Thus, anyone who is considered involved in the tragedy of war in Iraq and Afghanistan will be hunted enemy to be held accountable. Unfavorable position for the U.S. and its allies is certainly not going to be wasted by troops guerrillas to free his country from the occupying army. Even if U.S. forces joined with allies in NATO will remain at two points in the battle, they will lose control. In contrast, guerrilla forces who are Iraqi natives and citizens of Afghanistan can soon take over the reins loose it.
Serving secret documents on Wikileaks and prove that the correction of the error was coming from the Western world of their own. Assange originating Scandinavian nation by a landslide correcting their arrogance by the West itself, freedom. While Eastern nation that became the object of Western hegemony only confirms the theory that the Indonesian people called kuwalat. West might not recognize kuwalat theory, but Wikileaks has taught them the concept. That whoever is doing good will get good, otherwise who do evil will reap similar ugliness. So, if the West wants to reap goodness, let's sit together West and East stands at a low and high .***

Selasa, 06 Juli 2010

Bermimpi Memiliki Pesantren Bola


Oleh H. WAKHUDIN

MASYARAKAT dunia berpesta bola di Afrika Selatan, Juni-Juli 2010. Pemenang berpesta pora, yang kalah menangis. Tapi aneh bagi bangsaIndonesia, siapa pun pemenangnya, dia ikut berpesta. Itulah sebabnya kafe dan berbagai tempat nonton ramai dikunjungi penggila si kulit bundar.
Maklum, Indonesia tidak pernah mengirimkan timnya ke pentas bola dunia. Jangankan masuk piala dunia, bahkan mewakili Asia, atau ASEAN pun tidak. Karena hanya menonton, maka bangsa ini ikut bersorak siapa pun yang menang. Bahkan banyak orang yang latah ikut mengenakan kausseragam kesebelasan tertentu.
Mengapa bangsa Indonesia senantiasa menjadi penonton dan menjadi objek? Padahal penduduk negeri ini begitu banyak, mencapai 240 juta orang. Apakah tidak ada11 orang ditambah beberapa orang lagi sebagai cadangan yang piawai bermain bola? Inilah ironi betapa terpuruknya pengelolaan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Memang ada anggapan bahwa kemajuan sepak bola suatu bangsa banyak ditentukan oleh kemajuan ekonomi suatu negara. Maka, bangsa-bangsa di Eropa yang secara ekonomi lebih baik, mendominasi sebagai negara peserta Piala Dunia terbanyak. Bahkan, Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, dan negara Eropa lainnya selalu menjadi peserta favorit, di samping Brazil dan Argentina, dan Paraguai dari Amerika Latin. Sementara Indonesia yang ekonominya tak kunjung bangkit dengan sendirinya tidak memiliki harapan memiliki pesepak bola andal. Benarkah demikian? Jawabannya tergantung kita, bisa ya bisa tidak. Kalau tak pernah usaha, maka keberhasilan itu tidak akan pernah ada. Sebaliknya, kalau kita berjuang keras, insya Allah kita akan memilikinya.
Kalau begitu, apakah bangsa Indonesia mungkin mengirimkan timnya ke Piala Dunia? Persoalan dunia, apa yang tidak mungkin? Menurut saya, Indonesia mungkin mengirimkan timnya ke Piala Dunia, bahkan harus menjadi pemenang. Bisa gitu? Kenapa tidak? Caranya, Indonesia harus membuat pesantren bola. Hah? Apa pula itu pesantren bola?
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat terkenal di Indonesia. Lembaga pendidikan ini mengajarkan santrinya selama 24 jam. Tak hanya mengajarkan kecerdasan otak, tapi juga mengajarkan moral, perilaku, dan nilai. Pendeknya, mengambil istilah Bloom, pesantren mengajarkan ranah kognitif (kecerdasan), afektif (nilai moral), dan
psikomotorik (gerak).
Suasana pesantren memungkinkan tersedianya SDM yang qualified untuk bermain bola. Bayangkan, kalau ada pesantren bola, maka pagi setelah subuh,santri wajib lari pagi atau latihan fisik. Setelah sarapan dan mandi, siswa belajar berbagai ilmu tentang bola secara teoretik.
Inilah yang jarang dipelajari oleh pemain bola di Indonesia, mereka jago bermain bola, tapi tidak memiliki ilmunya secara mendalam. Setelah salat zuhur dan makan, santri bisa beristirahat sampai salat asar. Setelah salat asar, santri kembali ke lapangan untuk belajar teknik dan taktik. Sesekali santri bertanding antar kelas.
Setelah salat magrib, santri bola harus belajar agama. Pelajaran ini penting untuk memompa semangat,ghirah, bahkan untuk membimbing kedisiplinan santri. Pelajaran yang bersifat afektif ini dimaksudkan untuk membentuk karakter santri sehingga membentuk jiwa ksatria, sportif, jujur, terbebas dari sikap jahil, kasar, dan sikap jahat
lainnya.
Setelah salat Isya dan makan malam, santri diajak masuk gedung bioskop khusus yang menayangkan berbagai pertandingan kelas dunia. Setelah menonton film, santri dan kiai kemudian berdiskusi tentang tayangan yang mereka tonton.
Jika dalam sehari semalam santri disiapkan secara afektif, kognitif dan psikomotorik, maka sangat memungkinkan terciptanya SDM yang andal dalam bermain bola. Jika santri dimulai dari SD, maka tidak mustahil, begitu lulus, para santrinya mampu melawan klub profesional Indonesia seperti PSIS Semarang, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, AremaMalang, dan sebagainya.
Begitu tamat SMP, sangat memungkinkan bagi mereka untuk tampil di ajang pertandingan tingkat nasional. Baru kalau tamat SMA, mereka siap bertanding di ajang internasional sampai dengan usia mereka mencapai 30-an tahun.
Sejak masuk pesantren ini, santri mestinya dibebaskan dari berbagai biaya. Pemerintah mestinya membiayai seluruh operasional pesantren bola ini. Kalau tidak, klub tertentu bisa membiayainya. Daripada membayar pemain asing yang tidak juga memenangkan klubnya, mengapa uangnya tidak digunakan untuk kaderisasi?
Santri harus mendapatkan makanan dan minuman yang cukup dan bergizi. Sebab, untuk menunjang pertumbuhan fisik yang bagus harus ditunjang oleh makanan yang cukup dan berimbang. Dengan makanan dan gizi yang cukup, maka tulang, otot, dan seluruh fisik yang sangat diperlukan dalam permainan bola akan berkembang dengan pesat dan baik.
Dengan pesantren bola, memungkinkan bangsa Indonesia tidak melulu menjadi penonton, tapi tidak mustahil menjadi pemain di ajang internasional. Kapan mulai? (Penulis wartawan HU Pikiran Rakyat Bandung, alumni Pondok Pesantren Madrasah
Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, Banyumas, 1983)***

Minggu, 20 Juni 2010

Menangkal Pornografi dengan Media Literasi


Oleh H. WAKHUDIN

ADEGAN seks dalam film antara orang mirip Ariel "Peterpan" serta wanita mirip Luna Maya dan Cut Tari, merupakan anak kandung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi. Melalui media, informasi yang masuk kepada masyarakat sangat dahsyat, sehingga kekuatan pengaruhnya melebihi pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak, atau pendidikan yang dilakukan guru kepada siswanya, atau pengaruh ustaz di musala atau masjid kepada para santrinya.

Semakin populernya telefon seluler yang dapat merekam gambar, justru digunakan untuk merekam berbagai macam adegan seks, ketelanjangan, dan segala macam kegiatan tak senonoh lainnya. Dalam waktu lima tahun setelah munculnya VCD "Bandung Lautan Asmara", beredar lebih dari lima ratus film porno amatiran (Sony Set, 2007). Setiap hari, minimal dua film porno lokal baru diunggah ke internet. Sebagian besar dibuat menggunakan handphone berkamera dalam durasi yang singkat (kurang dari 10 menit). Cuplikan video porno tadi dikonversi menjadi file berukuran kecil, yang tersebar di handphone dan pemutar film mini (MP4 player) yang harganya semakin murah. Set (2007: 10) juga mengungkapkan, sembilan puluh persen pelaku dan pembuat film video porno amatiran tersebut adalah pelajar dan mahasiswa.

Persoalannya, bagaimana agar bangsa Indonesia bisa selamat agar tidak tenggelam dalam arus informasi yang kontraproduktif, semacam pornografi itu? Sebaliknya, informasi yang melimpah di dalam media tersebut justru menjadikan bangsa ini semakin bernilai dan bahkan memberikan nilai tambah?

Setidaknya ada tiga pilihan. Pertama, pemerintah membebaskan rakyatnya untuk mengakses media seluas-luasnya. Silakan masyarakat mengonsumsi informasi apa pun, dari mulai persoalan yang baik, hingga persoalan yang selama ini termasuk tabu. Cepat atau lambat, pada gilirannya, masyarakat akan jenuh dengan sendirinya. Pilihan ini tentu sarat risiko. Sebelum masyarakat mencapai tingkat jenuh dan membutuhkan informasi yang berguna, mereka telah tersesat ke arah yang tak terbayang jauhnya. Oleh karena itu, pilihan ini sangat riskan, mengancam kesatuan dan persatuan bangsa, bahkan dapat menghancurkan bangsa dan negara Indonesia.

Pilihan kedua, pemerintah memberlakukan sensor total. Pemerintah bisa menggunakan wewenang yang dimiliki memilihkan informasi yang bermanfaat untuk rakyat, dan mengendalikan informasi yang dinilai tidak baik mereka. Pemerintah bisa memblokir pada tingkat masyarakat, tingkat institusi/perkantoran, dan tingkat internet service providers (ISP). Metode bisa dilakukan menggunakan piranti lunak software filter.

Meski demikian, menurut para pakar teknologi informasi, jika langkah sensor seperti itu dilakukan, pemilik situs porno Indonesia dapat menutup "warungnya", tetapi mereka mengganti alamat kontak di data whois kepemilikan domain ke nama orang lain atau sekalian diubah ke mode privacy protect yang disediakan di kontrol domain. Dengan privacy protect, siapa pun tak akan tahu pemilik domain itu. Dari sisi hosting (kapasitas server untuk meletakkan data atau file website) mereka dengan singkat (hanya hitungan menit) bisa memindahkan ke hosting luar negeri yang lebih aman.

Pakar teknologi informasi Onno W. Purbo (2003) mengemukakan, undang-undang yang dikeluarkan berasumsi pemerintah Indonesia superpower dan serbabisa. Yang terjadi di lapangan, pemerintah lebih sering bermain power (bedil dan kekuasaan) daripada memberdayakan rakyat serta memfasilitasi pembangunan untuk kemajuan rakyat. Ini yang terjadi di dunia internet.

Pendeknya, teknologi informasi kini sedemikian berpengaruh, dan tidak mustahil dapat menjadi tuhan baru (thaghut) sehingga pada gilirannya masyarakat menyembah selera dan nafsu. Masyarakat akan berubah secara drastis menjadi masyarakat yang hedonistis, ingin senantiasa bersenang-senang, pendek akal, sangat mencintai dunia dan takut mati (wahn). Sementara arus informasi tidak dapat dibendung lagi karena sedemikian deras bagaikan air laut yang menerjang daratan seperti tsunami.

Maka, alternatif ketiga merupakan pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia. Membendung derasnya arus informasi media itu bukan dengan cara menghentikan informasi media tersebut, melainkan justru membuat masyarakat semakin melek media (literasi media). Model pembelajaran literasi media menawarkan berbagai keterampilan proses, dari mulai bagaimana mengakses media, menganalisis media, mengevaluasi, bahkan sampai menciptakan media. Dengan pembelajaran literasi media, masyarakat tidak diasingkan dari media, melainkan justru dilibatkan sekaligus ke dalamnya.

Orang yang melek media mampu memanfaatkan teknologi informasi secara positif, dan mampu menghindari penggunaan teknologi untuk kepentingan yang kontraproduktif. Keterampilan menggunakan teknologi untuk kebajikan dan menolak keburukan bukan atas dasar pemaksaan, melainkan tumbuh dari dalam diri sendiri melalui berbagai pelatihan literasi media. Dengan literasi media, pengetahuan dan keterampilan masyarakat ditingkatkan, tidak hanya pasif menerima apa pun yang disajikan media, melainkan mereka mampu menganalisis arus informasi yang masuk, sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan kritis terhadap media. Bahkan suatu waktu, generasi baru bangsa Indonesia diharapkan mampu menciptakan media sendiri yang menjadi alternatif dari media yang dinilai tidak sehat dan kontraproduktif.

Pembelajaran literasi media ini disarankan dilakukan setiap orang tua kepada putra dan putrinya yang mulai berminat terhadap komputer dan mulai mengakses internet. Awal mengakses internet merupakan masa yang amat penting. Jangan biarkan anak yang secara dini membuka internet melakukan trial and error, melainkan langsung diarahkan untuk belajar literasi media sehingga anak dapat memanfaatkan internet untuk kepentingan masa depannya yang lebih gemilang.

Pembelajaran multimedia ini juga dapat dilakukan dalam lembaga pendidikan formal dan nonformal. Pelajaran internet yang bernilai ini dapat dilakukan dalam pelajaran ekstrakurikuler atau masuk ke dalam mata pelajaran berinternet yang reguler. Setiap pendidikan internet yang bernilai ini dapat disusun kurikulumnya secara lebih rinci.***

Penulis, wartawan HU "Pikiran Rakyat" Bandung, doktor bidang pendidikan nilai.