Selasa, 02 November 2010

Dubutuhkan, Pengelola Negara Berjiwa Zuhud


INGIN hidup bersih, memiliki hati yang bening, dan pikiran jernih, lalu seseorang menolak menjadi pimpinan projek, apalagi kalau harus memegang uang. Sebab, kalau memegang uang, ia khawatir memanipulasi laporan dan menyisihkan uang bukan haknya untuk diri sendiri. Ia juga tidak mau menjadi politikus, baik sekadar menjadi anggota DPRD atau DPR maupun duduk di lembaga eksekutif. Sebab, kekuasaan “memaksanya” (cenderung) korup.
Orang yang bersikap seperti ini, mungkin akan tercapai keinginannya. Ia menjadi orang yang zuhud, bersih dari kotoron duniawi, dan mendapatkan kesempatan luas mengurus kepentingan akhirat. Persoalannya, apa istimewanya orang yang tidak pernah berurusan dengan uang kemudian tidak melakukan tindakan koruptif? Apa hebatnya petani yang terbiasa bekerja di ladang dan jauh dari kekuasaan tapi tidak pernah bertindak otoriter dan tidak korupsi? Tentu saja tidak ada yang aneh.
Yang istimewa adalah, pimpinan projek yang memiliki tanggung jawab atas uang dalam jumlah yang besar namun tidak tertarik mengorupsinya, walaupun memiliki kesempatan. Yang juga sangat mengagumkan adalah pemimpin yang memiliki kewenangan besar namun tidak bertindak sewenang-wenang. Ia tetap berlaku demokratis dan memberikan kesempatan kepada anak buah untuk mengembangkan kreativitasnya.
Walaupun memiliki kesempatan dan kemampuan mengambil uang bukan haknya, bahkan ia tidak perlu melakukannya, karena tinggal “menerima bersih” atas rekayasa orang lain, ia tidak mau melakukannya. Itulah yang disebut zuhud sejati.
Zuhud merupakan akhlak utama seorang Muslim, terutama saat di hadapannya terbentang kesempatan meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya, baik kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Zuhud menjadi karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Bekerja di tempat yang krusial tak ubahnya seperti perang. Kemenangan yang sejati bukan diukur apakah seseorang berhasil memperebutkan projek dan mendapatkan keuntungan pribadi yang besar dengan cara apa pun. Kemenangan yang hakiki adalah melaksanakan projek dengan capaian terbaik. Kekalahan adalah melaksanakan projek dengan seadanya namun mendapatkan keuntungan yang maksilam, apalagi kalau dikerjakan dengan penuh manipulasi. Meninggalkan pekerjaan itu sama dengan meninggalkan peperangan.
Mendapatkan keuntungan maksimal sesuai dengan kontribusi yang diberikan dalam projek tersebut adalah halal. Kalau kontribusi seseorang begitu besar, layaklah ia mendapatkan keuntungan yang besar. Namun jika kontribusinya terlalu kecil dan mendapatkan keuntungan yang besar, sesungguhnya ada kezaliman, meskipun mungkin secara hukum termasuk legal. Yang pasti, zuhud mengajarkan proporsionalitas. Pekerja keras mendapatkan keuntungan yang besar, pemalas mendapat bagiannya yang paling buncit.
Zuhud model terakhir dalam perspektif spiritual Jawa disebut tapa ngrame, bertapa di dalam keramaian. Lazimnya, orang yang bertapa melakukan khalwat, bersepi-sepi sendiri di tengah hutan, di dalam gua, atau di atas gunung. Sedangkan bertapa di tempat ramai adalah ia melakukan apa pun yang berguna bagi orang lain di tempat keramaian. Bahkan kalau perlu, ia mencari orang yang mau ditolongnya. Ekstremnya, walaupun tinggal di komunitas setan, ia tetap beragama dan menjunjung tinggi kebersihan jiwa.
Meski demikian, ia tidak mengharap pamrih apa pun. Ia boleh saja menerima upah, tapi tidak berlebihan apalagi melampaui kemampuan yang dapat ia lakukan. Tapa ngrame berarti bertapa mencari keutamaan diri dengan bergaul di tengah masyarakat banyak tanpa terpengaruh oleh hitamnya kehidupan duniawi.
Zuhud merupakan ajaran Islam, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, “Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu.”
Alquran juga memerintahkan manusia untuk bertindak zuhud. Meskipun tidak secara eksklusif menyebutnya, perhatikan Alquran Surat Al-Hadid ayat 20 s.d. 23 yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan yang melalaikan. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Maka, umat Islam diminta berlomba-lombalah mendapatkan ampunan dari Allah dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi, bukan memperebutkan dunia.
Alangkah produktifnya negeri ini jika kaum zuhud mendapatkan amanat mengurus kepentingan publik. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan umat dengan tidak mengharapkan keuntungan berlebih selain mencari rida Allah SWT. Tipe sumber daya manusia model ini dapat menggantikan tipe manusia yang lebih suka akal-akalan, semisal mencari sisa lebih dari perjalanan ke Yunani untuk belajar etika. Bagaimana mungkin mereka meraih cita-cita mendapatkan pelajaran etika kalau dilakukan secara tidak etis.
Dalam dunia hukum, polisi, jaksa, dan hakim akan bekerja proporsional. Yang salah pasti mendapatkan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya, siapa pun yang melakukannya. Yang benar mendapatkan haknya memperoleh perlindungan dan nama baik. SDM zuhud seperti ini dapat mengganti aparat yang menuhankan materi. Siapa pun yang mampu membayar lebih akan mendapatkan perlindungan hukum. Sebaliknya, siapa pun yang berurusan dengan hukum dan tidak mamiliki modal untuk menyuap akan mendapatkan hukuman, meskipun belum tentu melakukannya.
Pejabat eksekutif yang zuhud akan memprioritaskan menolong warga negaranya yang sedang tercekik oleh bencana sampai tuntas. Ia akan mengabaikan seluruh kepentingan diri dan citranya. Pribadi seperti Mbah Maridjan adalah tipe pejabat eksekutif zuhud yang bisa diteladani. Meskipun mendapatkan gaji Rp 81.000 setiap bulan sebagai penjaga gunung, ia melaksanakan tugasnya hingga tuntas. Ia tidak meninggalkan tugasnya, apa pun yang terjadi, meskipun nyawa taruhannya.
Mbah Maridjan adalah tipe “pejabat eksekutif” yang tidak silau oleh harta dan kehidupan dunia. Ia bangga kalau mampu melaksanakan tugas dengan sempurna. Ia tidak pernah meninggalkan gelanggang, meskipun tinggal seorang. Ia bangga selalu mengenakan peci, baju batik, dan kain sarung, khas Indonesia.
Jika Indonesia ingin menjadi negara yang jaya di masa mendatang, pribadi zuhud harus mengganti pejabat yang hanya sibuk dan asyik maksyuk mengurus “investor” yang membantunya modal memenangi pemilu.
Rakyat yang zuhud selalu memimpikan negara yang makmur. Mereka tidak sekadar membuat keputusan untuk diri sendiri, namun juga memberi yang terbaik bagi bangsanya. Mereka akan memilih para pemimpinnya yang dapat dipercaya, menggantinya dengan pejabat yang zuhud, bukan para petualang yang menghamburkan devisa.
Kehidupan zuhud itulah yang dilakukan kaum sufi. Dalam perspektif modern, di era serbadigital, kaum sufi tidak hanya berkhalwat, tapi juga bisa berkiprah di dunia yang serba tak beretika. Imam Ghazali pun mengatakan, kaum sufi melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik. Akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi.
Dalam konteks inilah, seminar internasional tentang tasauf sebagai opsi utama untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lilalamin yang diselenggarakan Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat untuk memperingati ulang tahun ke-105 pesantren tersebut mendapatkan relevansinya.
Indonesia yang terus mengalami degradasi di berbagai bidang pada hakikatnya bertolak dari kekekoposan moral. Obatnya adalah spiritualitas gaya zuhud dan kaum sufi itu. Karena, sebagaimana dikemukakan Imam Al-Ghazali, tasauf bisa mengobati penyakit hati itu. Tasauf berkonsentrasi pada tiga hal. Pertama, mereka selalu melakukan kontrol diri, melakuka muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah) dan muhasabah (introspeksi). Kedua, kaum sufi juga selalu berzikir, mengingat Allah SWT di mana pun. Ketiga, kaum sufi menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur, sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. (Wakhudin/”PR”)***

Tidak ada komentar: