Rabu, 30 Maret 2011

Berkuasa


SAAT masih muda dan lemah, Rahwana alias Dasamuka dikalahkan Resi Subali. Ia pun bersabar bahkan merendahkan diri dengan berguru kepada manusia kera anak Resi Gotama ini. Apa pun perintah guru, ia taati, termasuk harus bertapa seperti kelelawar, tidur terbalik dan menggantung di atas pohon. Kedisiplinannya belajar membuahkan hasil dengan meraih Aji Pancasona, ia seperti memiliki nyawa rangkap lima. Bahkan karena kerja kerasnya pula, Rahwana mendapatkan Aji Rawarontek dari kakak tirinya, Prabu Danaraja, meskipun meraihnya dengan kekerasan.
Namun dengan kedigdayaannya, Rahwana lupa diri. Ia menjerumuskan gurunya, Subali berkonflik dengan adiknya Sugriwa. Dengan kekuatannya pula, ia merebut kekuasaan dari kakeknya, Sumali dengan menyingkirkan pamannya Prahasta. Dasamuka juga membunuh Prabu Danaraja, kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.
Ia menyerang Suralaya dan memetik Dewi Tari, putri Batara Indra sebagai istrinya sehingga berputra Indrajid. Kekuasaan mendorongnya berwatak angkara murka. Dasamuka kemudian memperistri Dewi Urangrayung dan memperistri beberapa gadis lainnya. Meski demikian, ia selalu gagal menaklukkan titisan Dewi Widowati. Makanya, ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama, dan menyekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama, selama 12 tahun di Taman Hargasoka.
Bersabar saat keadaan memaksa merupakan sesuatu yang lazim, sebagaimana Dasamuka bersabar saat masih ringkih. Hidup hemat saat tidak punya uang merupakan hal biasa. Tidak mabuk karena sedang sakit, tidak memiliki nilai lebih. Tidak berselingkuh karena tidak punya modal dan tak punya tampang, tidaklah istimewa. Bersabar saat berkuasa jauh memberikan tantangan dan memiliki nilai lebih yang luar biasa.
Rasulullah, Muhammad saw. adalah pribadi mulia yang selalu bersabar saat dalam keadaan sempit maupun ketika berkuasa. Saat beliau menunggu kering pakaian yang dijemur dan melepas pedangnya, tiba-tiba seorang kafir Da'tsur mengambil pedagnya dan menodongkan ke lehernya. Da'tsur pun membentak, "Sekarang aku akan memotong lehermu. Siapa yang akan menolongmu?" Rasulullah pun dengan tenang mengatakan, "Allah". Mendengar jawaban Nabi, tangan Da'tsur gemetar, keringat meleleh dari sekujur tubuh, dan lemas lunglai. Pedang yang di tangan pun jatuh. Kini keadaan berbalik. Pedang kembali dipegang Nabi dan beliau mengalungkan pedang itu ke leher Da'tsur. Meskipun Rasulullah bisa memotong leher orang yang sudah menyerah ini, namun Rasulullah kemudian memaafkannya. Datsur pun mendapatkan hidayah dan masuk Islam.
Bangsa Indonesia saat ini tengah merindukan pemimpin yang bersabar seperti Rasulullah. Bersabar saat susah maupun saat berkuasa. Mereka bersabar bukan hanya saat ingin meraih suara dengan sekadar memberi "gula-gula" menggunakan pancing sejumput beras dan mie instan. Namun setelah menduduki kursi justru mereka menjual suara rakyat itu kepada siapa pun yang mau membayarnya. Bangsa ini tengah menanti penguasa yang bersabar dengan kekuasaannya untuk kesejahteraan bersama, meski harus berhadapan dengan para "investor" yang menanamkan modal mengantarkannya berkuasa saat mereka menagih jatah uang negara. (Wakhudin/"PR")***

Rabu, 23 Februari 2011

Menjaga dan Melestarikan Bersama Wayang Indonesia











GEDUNG Olah Raga Komite Olah Raga Nasional Indonesia (GOR KONI) Jawa Barat di Jln. Jakarta Kota Bandung, berkapasitas sekitar 4.000 orang. Namun, Sabtu (12/2) malam Minggu (13/2) penuh sesak. Kursi yang tersedia di kelas VIP dan tribun atas 90 persen terisi. Setiap tamu yang datang mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya, karena tamu yang datang di luar perkiraan. Maklum, malam itu, dalang terkenal asal Banyumas Ki Sugino Siswocarito pentas. Meskipun membawakan wayang gagrag Banyumas, namun para penggemar wayang dari berbagai daerah di Jawa pun menonton.
Dalam sejumlah pementasan sebelumnya, setiap digelar wayang kulit di Bandung, penonton selalu membludak. Sebuah fenomena yang tidak lazim di era modern yang lebih suka menonton budaya kontemporer. Aula RS Dustira Cimahi yang menampilkan Ki Sutarno Rahardjo mampu menyedot penonton yang banyak di malam tahun baru, di saat semua orang berburu tontonan kontemporer dan pesta kembang api. Ki Kasno Purbo Carito yang pentas di Taman Pramuka belum lama ini juga menyedot banyak penonton.
Padahal, masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta sendiri tanpa menyadarinya secara perlahan meninggalkan kesenian milik mereka di kampung halamannya. Budaya modern cenderung mengarah ke uniformitas. Seni musik dengan berbagai genre lebih digandrungi generasi muda ketimbang kesenian tradisional yang menjadi kekayaan budaya Nusantara. Hanya dalang tenar seperti Ki Mantep Sudarsono asal Sukoharjo atau Ki Anom Suroto dari Surakarta, atau Ki Enthus Susmono dari Tegal, Ki Timbul Hadiprajitno dari Bantul yang mampu mengumpulkan massa dalam jumlah yang masif.
Generasi muda yang masih suka menonton wayang lebih tertarik karena dalang saat ini banyak menampilkan campur sari, yakni tembang Jawa yang dikemas dengan kesenian modern seperti keyboard, jass, gitar dan berbagai alat musik moder lain. Dengan alat ini, wayang tak ubahnya pentas musik yang bisa digunakan untuk berjoged seperti musik masa kini.
Sejumlah dalang muda juga mulai tenar menggantikan generasi sebelumnya. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta relatif produktif mencetak para dalang muda. Selain menampilkan sabetan yang cekatan dan atraktif, mereka juga menampilkan campur sari sebagai daya tarik sekaligus sebagai ajang penciptaan kreasi para seniman kontemporer.
Namun saat kesenian Jawa pentas di Kota Bandung, maka semua eksponen kesenian ini turut menonton, baik penggemar wayang klasik maupun wayang kontemporer. Pementasan wayang kulit menjadi momentum bersilaturahmi para pendatang dari Timur ini. Sebab masyarakat Jawa yang tinggal di Bandung berasal dari berbagai lapisan generasi. Asalkan kesenian Jawa, mereka bersedia datang, karena menonton kesenian tradisional berarti bertemu dengan sanak keluarga sedaerah.
Wayang kulit kini sesungguhnya tak lagi hanya milik masyarakat Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Sebab, Persatuan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sejak tujuh tahun lalu mengakui bahwa wayang Indonesia merupakan world masterpiece of oral and intengible of humanity. Maka, wayang telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Itulah sebabnya, H. Sidik penyelenggara wayang kulit di Kota Bandung tidak malu menampilkan wayang kulit di tengah masyarakat Bandung. Sebab, penontonnya tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta, melainkan dari berbagai daerah, bahkan warga Jepang, Cina dan Eropa sempat menonton wayang kulit di Bandung ini.
“Selain mementaskan wayang kulit, kita juga secara rutin mementaskan wayang golek di Bandung. Saat merayakan ulang tahun Kota Bandung, kita menggelar wayang kulit sekaligus wayang golek di Taman Pramuka,” kata H. Sidik dan H. Purwadi.
Bagi masyarakat Jawa, termasuk masyarakat Sunda, wayang seakan sudah menjadi “guru” bagi penggemarnya. Para tokoh wayang terlanjur dianggap benar-benar pernah hidup layaknya manusia yang mengisi zaman purwa. Zaman yang diyakini pernah ada di mana zaman waktu itu masih kosong.
Dalam setiap perkembangan, wayang tumbuh melalui berbagai pengaruh dan mengalami interpretasi baru yang memperkaya dirinya dengan sangat pesat. Dalam perkembangan mutakhir, wayang berkembang sedemikian pesat, sehingga nyaris memusnahkan keskaralan wayang itu sendiri. Di tengah pentas wayang, penyanyi bebas berjingkrak sekadar memenuhi tuntutan zaman karena terbawa kesenian modern. Dalam banyak pementasan, wayang dan gamelan tidak lagi disandingkan dengan sesaji.
Di sisi lain, generasi baru saat ini mengembangkan wayang dalam berbagai media. Mereka memperlakukan wayang layaknya sebagai kekayaan agung (masterpiece). Bahkan Ir. Budi Rahardjo, M.Sc. Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung sempat menggagas agar wayang menjadi salah satu game dalam internet. Setiap orang boleh memilih memainkan peran, misalnya, sebagai Gatotkaca, Bima, atau menjadi Duryudana, dan keluarga Kurawa. Dengan cara ini, genarasi muda dapat menikmati kultur wayang dengan caranya sendiri. Sayang, gagasan ini masih sekadar wacana, sehingga bangsa Indonesia tetap mengonsumsi game yang berasal dari kultur Barat.
Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memberi kesenian ini tumbuh dan kemudian memeliharanya. Kini adalah saat yang tepat untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada generasi baru untuk mengambil tongkat estafet, tanpa harus memotong generasi terdahulu, menuju babak baru, wayang Indonesia. Bukan lagi wayang Jawa, wayang Sunda, wayang Bali, dan sebagainya. Sebab, wayang sudah menjadi kekayaan dan milik bersama. (Wakhudin/”PR”)***

“Perang Besar” Dalang Jawa di Kota Bandung






BARATA Yudha merupakan perang besar, seperti Perang Dunia IV, versi perwayangan. Makanya perang ini digambarkan terjadi banjir darah setinggi lutut selama berhari-hari sampai tumbuh ganggang (tanaman gulma) yang terbuat dari rambut, sementara gigi para prajurit yang rontok bertebaran di mana-mana bagaikan kerikil. Mayat manusia bergelimpangan di semua sudut Medan Kurusetra, berbau menyengat karena lebih banyak yang tewas ketimbang yang selamat sehingga. Tak seimbang jumlah pekerja yang menyingkirkan mayat ketimbang jumlah prajurit yang gugur di medan laga.
Terdapat sejumlah perang yang sangat besar dalam episode perwayangan. Misalnya, perang antara Patih Suwanda dengan rajanya Prabu Sasrabahu. Di dalam perang ini, lebih dari separuh manusia (wayang) menyaksikan kedigdayaan Raja Mahespati melawan patihnya yang berasal dari kampung bernama Somantri yang kemudian diangkat menjadi patih bernama Suwanda.
Demikian juga perang sehari yang sangat bengis antara Raja Hastina Prabu Pandhu dengan Prabu Trembuku dari Kerajaan Pring Gondani yang menewaskan beberapa raja. Perang anak Krisna Boma Narakasura dengan adiknya Samba dari Parang Garuda juga termasuk perang besar. Namun selama ini, lakon tersebut ditampilkan hanya dalam satu episode.
Perang Barata Yudha juga selalu menjadi lakon yang paling populer dan ditampilkan dalam episode yang banyak secara serial. Ya, bahkan dalang wayang hanya bercerita tentang pertempuran sesama darah Kuru, yakni cucu Resi Wiyasa yang menguasai Hastina yang disebut Kurawa dengan penguasa Amarta yang disebut Pandawa. Wayang purwa selain menampilkan Mahabharata, paling mementaskan lakon Ramayana, yakni perang antara satria Ayodya yang kemudian menjadi raja di Pancawati melawan Prabu Rahwana, Raja Alengkadiraja karena mencuri Dewi Shinta, istri Prabu Rama.
Puluhan, bahkan ratusan lakon dapat diciptakan dari episode Mahabarata. Dari mulai zaman kakek moyang penguasa Hastina Sekutrem, Palasara, Prabu Pandhu, Prabu Putadewa hingga Raja Parikesit. Untuk mementaskan perangnya saja, para dalang biasanya membagi dalam puluhan lakon, dari mulai Krisna menjadi duta Pendawa menagih kembalinya Hastina; Tewasnya Prabu Destarasra, ayah para Kurawa, tewasnya Resi Bisma, pemiliki Hastina yang sejati; Tewasnya Adipati Karna; Tewasnya Prabu Salya; Tewasnya Pandita Durna; Tewasnya Sangkuni; Tewasnya Prabu Duryudana; Tewasnya Kartamarma dan Haswatama, putra Pendita Durna; Sehingga akhirnya Parikesit menjadi raja termuda di Hastina.
Meskipun Perang Barata Yudha selalu memakan puluhan epiode, namun di tangan tiga dalang, perang ini cukup dipentaskan dalam semalam. Inilah pentas wayang kulit kolosal yang akan dimainkan tiga genarasi dalang yakni Letkol (Purn) Ki Amanu Pawiro Sudjono (70 tahun); Kapten (Kav) Ki Gempur Widodo Dwija Carito (45 tahun); dan Dhimas Hariyanto A. Juwono (21 tahun). Pentas berlangsung Sabtu, 19 Februari 2011 di Kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas), Kota Bandung.
Selain menampilkan perang besar dalam semalam, pementasan wayang ini benar-benar besar dan lebar. Besar karena menampilkan tiga dalang sekaligus dalam satu panggung dan satu kelir. Dengan tampilnya tiga dalang sekaligus memungkinkan kisah semua perang ditampilkan dalam satu malam. Sebab, dalam satu perang, dalang satu memerankan perang antara Resi Seta melawan Resi Bisma, namun dalang yang satu memainkan perang antara Kurawa yang melawan Pandawa, sehingga perang yang sedemikian banyak dimainkan dalam satu waktu.
Pementasan ini disebut besar, karena pergelaran ini juga menampilkan kirab para dalang. Selain menampilkan dalang tiga generasi juga mengenalkan tiga dalang lainnya yaitu Ki Wang Chu, Ki Rebi Sajiwo Guno Warsito, dan Ki Surono Duto Bayangkoro. Secara perorangan, tiga dalang ini kemudian akan pentas secara personal di Kota Bandung dan sekitarnya dalam waktu berikutnya.
Pentas ini disebut lebar, karena mementaskan pakeliran yang lebar. Lazimnya, seorang dalang hanya membutuhkan satu panggung dengan satu kelir, namun pentas kali ini satu panggung satu kelir namun yang sangat lebar, karena digunakan tiga dalang sekaligus, sehingga lebar. Luasnya kelir wayang kulit biasanya digunakan untuk menjajarkan wayang yang tidak dimainkan, namun kali ini lebarnya kelir digunakan semua untuk pentas. Inilah konsep yang dilahirkan Dhimas Hariyanto A. Juwono, dalang kelahiran Bandung yang sedang menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Dapat dikatakan, pementasan wayang semalam suntuk ini merupakan “barata yudhanya” seniman Jawa yang tinggal di Bandung Raya. Sebab, pada malam itu hampir semua kesenian ditumpahkan. Di tengah wayang yang membawakan perang besar, juga ditampilkan campur sari Sang Wadjendra, sendra tari dan tampilnya tiga master of ceremony (MC) yakni Ng. Widianto, Sukoyo, dan Mas Yan.
Hampir seluruh kekayaan khasanah budaya Jawa ditampilkan. Ki Amanu adalah dalang generasi pendahulu yang sangat kagum terhadap Ki Narto Sabdo, sehingga memainkan wayang dengan versi Semarang. Sementara Ki Gempur Widodo adalah dalang generasi tengah yang menampilkan wayang gagrag Solo. Sedangkan Dhimas Hariyanto adalah dalang generasi muda yang menampilkan gagrag Yogyakarta. Meskipun tiga gagrag ini bagi masyarakat Bandung tidak ada bedanya, namun bagi penggemar wayang, setiap gagrag memiliki pakemnya masing-masing yang kadang sulit dipertemukan.
Saat latihan selama beberapa bulan terakhir, mempertemukan tiga gagrag ini sering mengalami kendala, terutama berkaitan dengan kultur. Para penabuh gamelan yang terbiasa membawakan gagrag Solo sering salah persepsi ketika harus membawakan gending dengan gagrag Yogyakarta. Sebaliknya, para penabuh gamelan yang penggemar wayang gagrag Yogyakarta kerap sulit mengikuti irama gagrag Solo. Sedangkan mereka yang terbiasa dengan irama gagrag Semarangan yang kemudian melahirkan gagrag Banyumasan justru lebih mampu memvariasikan antara Solo dan Yogya. Sebab, hakikat gagrag Semarang dan gagrag Banyumas merupakan perpaduan antara Solo dan Yogya.
“Lebih baik kita sebut sebagai gagrag Bandungan. Karena seluruh gagrag ditampilkan dalam pementasan ini,” kata Ki Amanu saat melakukan latihan di Jln. Turangga Barat Buahbatu, Rabu (16/2) malam.
Maklum, mempertemukan tiga gagrag dalam satu pementasan memang tidak mudah. Dalam sulukan misalnya, satu dalang melantunkan sulukan dalam irama Solo, kemudian dilanjutkan dengan irama Semarang, dan diakhiri dengan irama dan langgam Yogya. Terasa aneh, tapi menjadi merata. Semua kebagian.
Pesta kesenian Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur di Kota Bandung ini sekaligus menandai era baru mereka berkesnian. Sebab, momentum ini menjadi ajang pertemuan berbagai kesenian Jawa yang selama ini berjalan secara parsial. Para seniman asal Yogyakarta selama ini melakukan latihan sendiri dengan menggelar panggung sendiri. Demikian juga seniman asal Solo dan asal Banyumas, semua menggelar kesenian secara terpisah. Malam minggu lusa, semua pentas dalam satu panggung dalam dinamika yang unik dan kolosal.
Maka, para nayaga yang menabuh gamelan dari berbagai aliran pun “turun gunung”. Para pengrawit dari Sri Katon pimpinan Ki Amanu merupakan inti para penabuh gamelan. Mereka kemudian di-back up para penabuh dari rombongan kesenian Rumah Sakit Dustira Cimahi, Serayu Krido Laras di PT Telkom, Adi Budoyo Padalarang, rombongan pengrawit dari Bina Marga Cibiru dan sebagainya. Benar-benar kolosal, karena semua panitia dan penabuh gamelan tak kurang dari 200 orang.
“Sangat tidak mudah, mengumpulkan sekian banyak orang dengan latar belakang yang berbeda dalam satu panggung,” kata Mas Yan, Direktur Pergelaran ini yang ditemi di tengah gladi kotor di Jln. Turangga, Rabu (16/2) malam.
Pentas wayang kali ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi para perantau dari Jawa yang bekerja di berbagai profesi. Ki Amanu adalah purnawirawan, Ki Gempur Widodo adalah tentara aktif, dan Dhimas Hariyanto adalah seorang mahasiswa. Mereka berkolaborasi secara apik, meskipun kadang terjadi kesalahpahaman, karena pentas tiga dalang dalam satu panggung merupakan sesuatu yang baru.
Sibuknya tiga dalang dibantu para asisten seperti Ki Wang Chu (wartawan HU Pikiran Rakyat) dan Ki Surono Duto Bhayangkoro (polisi). Semua ditampung oleh akademisi Prof. Dr. Harsono Taroepratjeka, M.Si.E, Rektor Itenas. Maka, jadilah pentas besar dan kolosal ini.
Profesi para penabuh gamelan lebih bervariasi, dari mulai pejabat, pegawai rumah sakit, wartawan, pedagang sayuran, bahkan para tukang bakso. Maka, pentas wayang berjudul “Tawur Getih Tegal Kurusetra” ini menandai episode “barata yudha” para seniman Jawa di Kota Bandung. Ini adalah pertemuan besar yang menjadi triger gerakan seni masyarakat Jawa di Tatar Pasundan. (Wakhudin/”PR”)***

Sabtu, 11 Desember 2010

Keracunan Informasi


MEDIA selama ini berparadigma bahwa bad news is good news. Berita buruk adalah berita baik. Semakin buruk suatu keadaan, semakin baik untuk diberitakan. Musibah dengan korban ribuan jiwa menjadi berita yang lebih baik dibandingkan dengan kecelakaan dengan korban ratusan jiwa. Semakin kecil jumlah korban, semakin kecil nilai news-nya. Akibat paradigma ini, maka setiap media berupaya menampilkan berita buruk. Demontrasi yang dilakukan secara damai dianggap kurang menarik. Sebaliknya, unjuk rasa yang chaos disertai dengan pengrusakan dianggap sebagai berita yang lebih bagus ketimbang penyampaian pendapat secara prosedural.
Maka, televisi, radio, surat kabar, dan situs berita seperti berlomba memberitakan berbagai peristiwa kriminal. Semakin sadis suatu pembunuhan akan mendapatkan pemberitaan secara berulang-ulang dan terus menerus. Apalagi jika jumlah korbannya tidak tunggal, dan cara membunuhnya pun dengan cara kejam. Pembunuhan dengan cara apa pun sesungguhnya sadis, tapi pembunuhan yang disertai mutilasi akan menambah “bumbu” berita, sehingga semakin menarik diberitakan.
Penyelewengan dalam penegakan hukum menjadi menu utama informasi sepanjang pagi, siang, sore dan malam. Korupi yang merajalela masuk dalam agenda pemberitaan yang tidak pernah habis. Apalagi jika yang melakukannya penegak hukum, seperti polisi, jaksa, dan hakim, maka peristiwanya tak kunjung habis dan pemberitannya tak kunjung tuntas. Apalagi jika unsur politik masuk di dalamnya, maka berita menjadi semakina mengharu biru. Ditambah saling tuduh, saling menyalahkan, saling memaki, bahkan pada akhirnya saling mengerahkan massa.
Informasi buruk mengalir deras bagaikan air bah yang tak bisa dibendung. Saat menikmati rendang dan ayam pop di restoran Padang sekalipun, tiba-tiba mata tak sengaja mengikuti berita kriminal yang ditayangkan TV. Suami membunuh istrinya, atau cucu membunuh neneknya. Maling motor digebuki sampai tewas. Darah terus mengalir di mana-mana, nyawa juga meregang karena sia-sia. Tapi kita tetap asyik menikmati rendang beserta kuah dan sambal hijaunya. Sadisme yang ditayangkan TV seperti tak ada kaitannya dengan penikmat makanan Minang.
Karena berita kekerasan, penyelewengan, sadisme, pornografi dan pornoaksi terus memenuhi otak membanjiri lambung bangsa Indonesia, maka bangsa ini secara tidak sadar keracunan informasi. Masyarakat secara perlahan semakin permisif dan menganggap bahwa menyeleweng dan berkianat sebagai sesuatu yang lazim. Bahkan, secara perlahan, mereka mati rasa. Melihat pengendara sepeda motor yang terkapar di jalan akibat kecelakaan pun menjadi biasa. Tak ada yang perlu dibicarakan, bahkan dengan nyaman lewat begiu saja, tanpa ikut menolong.
Sejak kebebasan informasi diperkenalkan, maka sepanjang itu pula bangsa Indonesia menghirup racun informasi. Kini keadaannya semakin tak keruan. Agar normal, bangsa ini membutuhkan informasi penawar yang dapat menormalkan suasana. Membalikkan informasi dari yang serbaburuk kepada yang serbabaik bukanlah jalan keluar yang panasea. Sebab, peristiwa bagus sering tidak menarik sehingga tidak menjadi berita bagus.
Namun dalam keadaan bangsa Indonesia sdang mengalami keracunan informasi, kabar yang mencerahkan dan menyenangkan dapat menjadi obat penawar, Bahkan dapat menjadi oase bagi bangsa Indonesia yang sudah lama mengembara di belantara informasi serbanegatif.
Berita bagus yang dapat menginspirasi orang lain berbuat kebajikan adalah saat ini diperlukan. Sebab, kebaikan dapat diajarkan kepada orang lain melalui tingkah laku dan contoh. Maka, kalau bangsa ini ingin kembali normal, media ditantang memberikan solusi secara bertanggung jawab dengan mengungkapkan fakta tentang petingnya menginspirasi masyarakat berbuat baik. Cara ini bukan berarti tidak kritis. Kritis silakan, tapi perlu menginspirasi masrakat lain untuk berbuat yang terbaik. (Wakhudin/”PR”)***

Senin, 22 November 2010

Pakem Wayang Golek dan Modernitas




LAKON Bambang Sumantri mengabdi kedapa Raja Mahespati, Prabu Sasrabahu sesungguhnya cerita klasik dan termasuk kisah tua. Disebut tua karena peristiwa ini terjadi sebelum kisah Mahabarata, kisah pertempuran antara sesama darah Kuru di medan pertempuran Kurusetra. Bahkan, kisah ini lebih tua dibandingkan dengan cerita Ramayana.

Kisah Ramayana diyakini terjadi lebih tua dibandingkan dengan Mahabarata. Sebab, Prabu Rama Wijaya dari Ayodya yang menjadi titisan Dewa Wisnu merupakan kakek moyang Prabu Kresna dari Dwarawati. Prabu Kresna adalah operator perang Baratayudha. Dia adalah tokoh yang keukeuh agar "Perang Dunia III" dalam pewayangan ini harus terjadi. Sebab, perang ini sudah menjadi nazar para dewa, demi sirnanya angkara murka.

Meskipun kisah Bambang Sumantri Mengabdi termasuk kisah yang klasik, di tangan dalang Ki Umar Darusman Sunandar (30), kisah itu menjadi sedemikian aktual. Dialog antara satu tokoh dan tokoh lainnya sangat masa kini. Lihatlah nasihat ayah Sumantri, Resi Suwandageni dari Pertapan Jaka Sampurna tentang pengabdian seorang warga terhadap negara. Pengabdian seorang ksatria terhadap negara harus tanpa pamrih, bukan sekadar mendapatkan takhta agar berkuasa dan memperoleh kuasa, melainkan merupakan ekspresi pengabdian seorang makhluk kepada Sang Khalik yang diekspresikan dalam upaya menjaga keseimbangan kekuasaan antara pamong praja dan rakyat. Tugas aparat yang duduk di kursi kekuasaan bukan untuk menikmati kue pembangunan dengan porsi paling besar, melainkan mendistribusikan kesejahteraan yang berhasil dikuasai negara kepada sebagian besar warga.

"Tugas aparat bukan malah melarang warga mencari rezekinya masing-masing. Negara sudah tidak mendistribusikan kesejahteraan kepada rakyat, di saat yang sama malah membatasi warganya mencari rezeki sendiri. Pedagang asongan yang cuma menjual tiga bungkus rokok pun disita barang dagangannya. Lalu, di mana tingkat keadilan aparat yang demikian," kata Begawan Suwandageni ketika menasihati anaknya yang akan melamar menjadi aparat di Kerajaan Mahespati itu.

Kemudian, Suwandageni pun menceritakan nasib pilu yang dihadapi masyarakat yang diperlakukan secara tidak adil oleh aparat. Kisah para pedagang kaki lima yang tidak pernah tenteram berdagang di tempat strategis. Akibatnya, Si Amed nangis terus seharian karena gerobaknya disita aparat. "Yang paling membuat saya sedih, istri saya di gerobak itu sedang tidur, terbawa aparat," katanya.

Di tangan murid dalang kondang Ki Asep Sunandar Sunarya ini, semua yang klasik bisa berubah menjadi sangat aktual. Simaklah bagaimana bingungnya Sukrasana ketika bangun kesiangan dan ternyata kakak kesayangannya, Bambang Sumantri, tidak ditemuinya.

"Ama, Kakang Sumantri ke mana?" tanya Sukrasana, adik Bambang Sumantri yang berbadan raksasa dan bermuka buruk.

"Mungkin sedang mandi," ujar Suwandageni sembari membelai rambut Sukrasana.

"Sudah kubuka seluruh kamar mandi, tidak ada tuh?" ujar Sukrasana sembari penasaran.

"Atau mungkin ke warung?" ujar ayah Suwandageni yang semakin tua. Lagi-lagi, Sukrasana tidak percaya. Sebab, selama ini kakaknya Sumantri tidak suka ke warung, bahkan kalau memiliki kebutuhan kakaknya lebih suka menyuruh dia agar membelikan barang.

"Atau, kakakmu mungkin pergi ke warnet," ujar Suwandageni sembari membujuk Sukrasana.

"Ah, tidak mungkin. Kakang Sumantri termasuk orang yang gagap teknologi. Menggunakan Facebook saja tidak bisa. Bahkan, kirim sms saja tidak pakai spasi," ujar Sukrasana yang disambut gerrr... penonton.

Akhirnya, Suwandageni pasrah dan menceritakan kepergian Sumantri ke Mahespati untuk melamar sebagai aparat di negara itu.

Bagi dalang yang akrab dipanggil Ki Dalang Riswa ini, kekunoan kisah wayang dan kekakuan pakem tidak pernah menjadi masalah sebagai bahan bodoran. Ia termasuk dalang yang sangat produktif memproduksi kosa kata baru, termasuk berbagai macam idiom yang menunjukkan kelucuan.

Dawala dan Cepot yang bersaudara kadang harus terlibat konflik. Mereka pun bertengkar sengit. Namun, ketika satu dengan yang lain saling menyakiti, Cepot pun sadar dan berkata, "Kamu kok tega sih menyakiti aku yang fakir misscall?"

"Fakir miskin, meureun?" ujar Dawala menanggapi keluhan Cepot.

"Bukan, saya ini fakir misscall. Habis, menelefon pacar tidak kunjung diangkat sehingga misscall melulu," ujar Cepot.

Dawala juga mengeluhkan perilaku Cepot yang menganiayanya. "Saya ini seorang yatim piano, tetapi kamu tega menganiayaku?" keluh Dawala.

"Maksudnya, yatim piatu?" ujar Cepot berusaha membetulkan ucapan Dawala.

"Bukan yatim piatu, tetapi yatim piano. Kalau yatim piatu berarti tidak punya ayah dan ibu. Kalau yatim piano, berarti tidak punya gitar-gitar acan," ujar Dawala.

**

KESENIAN Sunda, khususnya wayang golek sesungguhnya bagaikan lautan yang tidak bertepi. Sangat luas. Kisah yang diceritakan sesungguhnya hanya lakon yang diambil dari kisah Ramayana dan Mahabarata atau akar dari kisah itu, serta kisah turunannya.

Namun, uraian antawacana, setting konflik, dan intrik yang berkaitan dengan kehidupan kontemporer seperti tidak pernah kering. Semakin piawai seorang dalang, semakin pintar ia mengelaborasi kisah wayang dalam kehidupan kekinian. Artinya, wayang sesungguhnya tidak pernah kering digunakan untuk melakukan proses edukasi manusia modern.

Di samping itu, sumber daya manusia yang berada di balik pergelaran wayang juga cukup banyak. Ki Dalang Riswa merupakan salah seorang dalang muda yang tengah bergelut dengan dinamika modernitas. Ia bersama teman seangkatannya dapat dikatakan sebagai pejuang untuk mempertahankan eksistensi kesenian dan budaya tradisi.

Itulah sebabnya, dengan berbagai kemasan, Ki Riswa berupaya menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Salah satunya adalah pergelaran Pojok Si Cepot di stasiun televisi Kota Bandung.

"Tujuannya, supaya setiap warga negara merasa memiliki terhadap seni budaya ini. Sebab, kalau bukan bangsa Indonesia yang mengembangkan seni budaya sendiri, lalu siapa lagi?" ujar Dalang Riswa.

Karena menonton wayang seseorang dituntut berkonsentrasi selama 6 hingga 8 jam, Ki Riswa pun mencoba mengakalinya dengan membuat wayang yang tidak ada sebelumnya, seperti dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Maka, ia pun membuat wayang bersosok hansip, petani, militer, pegawai negeri sipil, dan sebagainya. Tujuannya, untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka memiliki kesenian yang adiluhung ini.

Ki Asep Sunandar Sunarya yang menjadi guru Riswa di Pedalangan, telah terlebih dahulu membuat banyak kreasi menghadapi era modern dalam bidang perwayangan. Sabetan yang kreatif dengan ekspresi yang lebih manusia menjadi kekuatannya sehingga ia menjadi dalang tenar di era serbadigital ini.

Sayangnya, arah angin modernitas kurang memberi tempat bagi kekayaan seni tradisi orisinal karya Indonesia. Masyarakat lebih banyak tergiring untuk mencintai budaya manca yang tidak memiliki akar di dalam masyarakat. Bahkan, budaya manca tersebut menggerogoti akhlak dan moral bangsa.

Sementara itu, seni tradisi milik bangsa sendiri menawarkan keindahan estetika yang tak ternilai harganya. Di sinilah, para seniman telah menyumbangkan seluruh kreativitas dan kemampuannya untuk mengabdi.

Penonton yang hadir dalam pentas wayang golek semalam suntuk di Taman Pramuka, Jumat (5/11) malam pasti gemuruh dengan gelak tawa menyaksikan lakon Bambang Sumantri Ngenger. Mereka pun merenungi kisah dan petuah yang lahir dari tontonan itu.

Akan tetapi, sayang, tak banyak masyarakat yang tergugah untuk mengikuti tradisi ini. Di malam yang dingin disertai rintik hujan, masyarakat lebih enak tidur di rumah. Mungkin mereka tidak tahu akan adanya pementasan wayang dalam rangka HUT ke-200 Kota Bandung. Bahkan, yang tahu pun tidak tertarik menonton kisah wayang. Akan tetapi, jangan mengeluh jika kelak seni budaya ini tiba-sudah menjadi milik bangsa lain. Mengapa tidak kita pertahankan? (Wakhudin/"PR") ***

Memberi


BIMA marah luar biasa ketika kakaknya, Puntadewa menyerahkan istrinya, Drupadi, kepada Hanoman, utusan dari Pancawati. Maklum, tidak lazim, seseorang menyerahkan istri kepada orang yang memintanya. Di samping itu, Bima marah demi menjaga nama baik kakaknya yang raja Amarta itu. Tapi Puntadewa keukeuh tetap menyerahkan istrinya kepada siapa pun yang membutuhkan, walaupun wajah Dewi Drupadi pucat pasi ketakutan dan tidak mau melakukan. Melihat niatnya dihalang-halangi, Puntadewa balik marah kepada Bima.
“Kalau aku menyerahkan istriku kepada Prabu Rama dihalang-halangi, silakan bunuh aku saja. Sejak muda, aku bersumpah untuk menjadi raja yang suka memberi. Siapa pun yang meminta dariku berupa apa pun, harus aku beri. Hari ini, aku akan melaksanakan sumpahku, tapi kau halang-halangi, berarti engkau menghalang-halangi aku melaksanakan sumpahku,” ujar Puntadewa.
Mendengar alasan Puntadewa, Bima tak bisa berkata-kata. Ucapan kakaknya benar, tapi tidak masuk akal. Krisna yang menjadi penasihat Pendawa segera membujuk Bima untuk menuruti kemauan Puntadewa. Tapi secara diam-diam, Krisna menyuruh Arjuna untuk segera menukar tandu yang berisi Dewi Drupadi dengan Gatotkaca. Maka, Hanoman bersama pasukan monyet bersorak sorai kembali ke Pancawati membawa tandu yang yang mereka duga berisi Dewi Drupadi, padahal berisi Gatotkaca.
Sampai di Pancawati, Hanoman dibuat malu luar biasa. Sebab, tandu yang berisi seorang calon permaisuri rajanya, ternyata seorang ksatria. Maka ditangkaplah Gatotkaca. Tapi ia berhasil lolos. Rupanya, Prabu Rama melamar Drupadi tidak benar-benar mau menikahinya. Tapi dia sesungguhnya sedang melakukan uji coba. Setelah berhasil menumpas angkara murka di Alengka, Prabu Rama mendapatkan janji dari para dewa, bahwa ia akan manitis (menyatu jiwa dan raga) ke dalam raja yang bijaksana.
Maka ketika mendengar bahwa Putadewa begitu bijaksana, Prabu Rama penasaran. Ia bertanya dalam hati, inikah raja yang akan menjadi anugerahnya? Dengan melamar Drupadi, ia sengaja hanya ingin mencari gara-gara agar bisa bertemu muka dengan raja yang super baik itu. Maka ia pun mengerahkan seluruh prajuritnya. Sementara penasihat Amarta yang menjadi raja Dwarawati juga menggelar pasukan yang seimbang. Perang pun segera pecah. Prabu Rama dan Prabu Kresna pun berhadap-hadapan.
Tapi sesaat sebelum dua pasukan saling berkecamuk, Batara Guru pun datang meredakan ketegangan. Ia menjelaskan bahwa Prabu Rama dan Prabu Kresna masih satu darah dan keduanya titisan Batara Wisnu. Krisna adalah anugerah bagi Rama, bukan Puntadewa. Anugerah itu baru datang beberapa tahun kemudian, meskipun Rama saat itu sudah berusia 100 tahun lebih. Bergabungnya “kekuatan” Pancawati ke Amarta semakin menguatkan Pandawa dalam merebut kembali negara mereka, Hastinapura.
Pertemuan kisah antara Ramayana dan Mahabarata ini menggambarkan betapa memberi tidak pernah sia-sia. Bahkan, memberi selalu mendatangkan anugerah. Simaklah kisah sufi yang menceritakan tidak ada orang yang mabrur kecuali orang yang gagal pergi haji, karena uang akan digunakan biaya perjalanan haji digunakan untuk sedekah. Simak pula kisah Rasulullah dan para sahabat yang selalu saling tolong menolong saling membantu. Mereka selalu memberikan yang terbaik miliknya di jalan Allah, bahkan nyawa mereka sekalipun.
Alangkah berbedanya dengan umat sekarang yang lebih suka menerima daripada memberi. Bahkan, apa pun dilakukan untuk mendapat. Aparat melepas tahanan Gayus agar dapat sogokan. Rakyat kecil siap menginjak sesama mereka untuk mendapatkan sepotong daging kurban. Mendapatkan adalah lebih utama dari memberi. Inikah yang menyebabkan negeri ini lebih banyak mendapatkan musibah dari anugerah. Kalau mendapatkan selalu menjadi ciri bangsa ini, maka cita-cita menjadi negara yang maju dan modern serta diridai Tuhan, semakin jauh panggang dari api. (Wakhudin/”PR”)***

Selasa, 02 November 2010

Dubutuhkan, Pengelola Negara Berjiwa Zuhud


INGIN hidup bersih, memiliki hati yang bening, dan pikiran jernih, lalu seseorang menolak menjadi pimpinan projek, apalagi kalau harus memegang uang. Sebab, kalau memegang uang, ia khawatir memanipulasi laporan dan menyisihkan uang bukan haknya untuk diri sendiri. Ia juga tidak mau menjadi politikus, baik sekadar menjadi anggota DPRD atau DPR maupun duduk di lembaga eksekutif. Sebab, kekuasaan “memaksanya” (cenderung) korup.
Orang yang bersikap seperti ini, mungkin akan tercapai keinginannya. Ia menjadi orang yang zuhud, bersih dari kotoron duniawi, dan mendapatkan kesempatan luas mengurus kepentingan akhirat. Persoalannya, apa istimewanya orang yang tidak pernah berurusan dengan uang kemudian tidak melakukan tindakan koruptif? Apa hebatnya petani yang terbiasa bekerja di ladang dan jauh dari kekuasaan tapi tidak pernah bertindak otoriter dan tidak korupsi? Tentu saja tidak ada yang aneh.
Yang istimewa adalah, pimpinan projek yang memiliki tanggung jawab atas uang dalam jumlah yang besar namun tidak tertarik mengorupsinya, walaupun memiliki kesempatan. Yang juga sangat mengagumkan adalah pemimpin yang memiliki kewenangan besar namun tidak bertindak sewenang-wenang. Ia tetap berlaku demokratis dan memberikan kesempatan kepada anak buah untuk mengembangkan kreativitasnya.
Walaupun memiliki kesempatan dan kemampuan mengambil uang bukan haknya, bahkan ia tidak perlu melakukannya, karena tinggal “menerima bersih” atas rekayasa orang lain, ia tidak mau melakukannya. Itulah yang disebut zuhud sejati.
Zuhud merupakan akhlak utama seorang Muslim, terutama saat di hadapannya terbentang kesempatan meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya, baik kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Zuhud menjadi karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Bekerja di tempat yang krusial tak ubahnya seperti perang. Kemenangan yang sejati bukan diukur apakah seseorang berhasil memperebutkan projek dan mendapatkan keuntungan pribadi yang besar dengan cara apa pun. Kemenangan yang hakiki adalah melaksanakan projek dengan capaian terbaik. Kekalahan adalah melaksanakan projek dengan seadanya namun mendapatkan keuntungan yang maksilam, apalagi kalau dikerjakan dengan penuh manipulasi. Meninggalkan pekerjaan itu sama dengan meninggalkan peperangan.
Mendapatkan keuntungan maksimal sesuai dengan kontribusi yang diberikan dalam projek tersebut adalah halal. Kalau kontribusi seseorang begitu besar, layaklah ia mendapatkan keuntungan yang besar. Namun jika kontribusinya terlalu kecil dan mendapatkan keuntungan yang besar, sesungguhnya ada kezaliman, meskipun mungkin secara hukum termasuk legal. Yang pasti, zuhud mengajarkan proporsionalitas. Pekerja keras mendapatkan keuntungan yang besar, pemalas mendapat bagiannya yang paling buncit.
Zuhud model terakhir dalam perspektif spiritual Jawa disebut tapa ngrame, bertapa di dalam keramaian. Lazimnya, orang yang bertapa melakukan khalwat, bersepi-sepi sendiri di tengah hutan, di dalam gua, atau di atas gunung. Sedangkan bertapa di tempat ramai adalah ia melakukan apa pun yang berguna bagi orang lain di tempat keramaian. Bahkan kalau perlu, ia mencari orang yang mau ditolongnya. Ekstremnya, walaupun tinggal di komunitas setan, ia tetap beragama dan menjunjung tinggi kebersihan jiwa.
Meski demikian, ia tidak mengharap pamrih apa pun. Ia boleh saja menerima upah, tapi tidak berlebihan apalagi melampaui kemampuan yang dapat ia lakukan. Tapa ngrame berarti bertapa mencari keutamaan diri dengan bergaul di tengah masyarakat banyak tanpa terpengaruh oleh hitamnya kehidupan duniawi.
Zuhud merupakan ajaran Islam, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, “Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu.”
Alquran juga memerintahkan manusia untuk bertindak zuhud. Meskipun tidak secara eksklusif menyebutnya, perhatikan Alquran Surat Al-Hadid ayat 20 s.d. 23 yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan yang melalaikan. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Maka, umat Islam diminta berlomba-lombalah mendapatkan ampunan dari Allah dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi, bukan memperebutkan dunia.
Alangkah produktifnya negeri ini jika kaum zuhud mendapatkan amanat mengurus kepentingan publik. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan umat dengan tidak mengharapkan keuntungan berlebih selain mencari rida Allah SWT. Tipe sumber daya manusia model ini dapat menggantikan tipe manusia yang lebih suka akal-akalan, semisal mencari sisa lebih dari perjalanan ke Yunani untuk belajar etika. Bagaimana mungkin mereka meraih cita-cita mendapatkan pelajaran etika kalau dilakukan secara tidak etis.
Dalam dunia hukum, polisi, jaksa, dan hakim akan bekerja proporsional. Yang salah pasti mendapatkan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya, siapa pun yang melakukannya. Yang benar mendapatkan haknya memperoleh perlindungan dan nama baik. SDM zuhud seperti ini dapat mengganti aparat yang menuhankan materi. Siapa pun yang mampu membayar lebih akan mendapatkan perlindungan hukum. Sebaliknya, siapa pun yang berurusan dengan hukum dan tidak mamiliki modal untuk menyuap akan mendapatkan hukuman, meskipun belum tentu melakukannya.
Pejabat eksekutif yang zuhud akan memprioritaskan menolong warga negaranya yang sedang tercekik oleh bencana sampai tuntas. Ia akan mengabaikan seluruh kepentingan diri dan citranya. Pribadi seperti Mbah Maridjan adalah tipe pejabat eksekutif zuhud yang bisa diteladani. Meskipun mendapatkan gaji Rp 81.000 setiap bulan sebagai penjaga gunung, ia melaksanakan tugasnya hingga tuntas. Ia tidak meninggalkan tugasnya, apa pun yang terjadi, meskipun nyawa taruhannya.
Mbah Maridjan adalah tipe “pejabat eksekutif” yang tidak silau oleh harta dan kehidupan dunia. Ia bangga kalau mampu melaksanakan tugas dengan sempurna. Ia tidak pernah meninggalkan gelanggang, meskipun tinggal seorang. Ia bangga selalu mengenakan peci, baju batik, dan kain sarung, khas Indonesia.
Jika Indonesia ingin menjadi negara yang jaya di masa mendatang, pribadi zuhud harus mengganti pejabat yang hanya sibuk dan asyik maksyuk mengurus “investor” yang membantunya modal memenangi pemilu.
Rakyat yang zuhud selalu memimpikan negara yang makmur. Mereka tidak sekadar membuat keputusan untuk diri sendiri, namun juga memberi yang terbaik bagi bangsanya. Mereka akan memilih para pemimpinnya yang dapat dipercaya, menggantinya dengan pejabat yang zuhud, bukan para petualang yang menghamburkan devisa.
Kehidupan zuhud itulah yang dilakukan kaum sufi. Dalam perspektif modern, di era serbadigital, kaum sufi tidak hanya berkhalwat, tapi juga bisa berkiprah di dunia yang serba tak beretika. Imam Ghazali pun mengatakan, kaum sufi melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik. Akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi.
Dalam konteks inilah, seminar internasional tentang tasauf sebagai opsi utama untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lilalamin yang diselenggarakan Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat untuk memperingati ulang tahun ke-105 pesantren tersebut mendapatkan relevansinya.
Indonesia yang terus mengalami degradasi di berbagai bidang pada hakikatnya bertolak dari kekekoposan moral. Obatnya adalah spiritualitas gaya zuhud dan kaum sufi itu. Karena, sebagaimana dikemukakan Imam Al-Ghazali, tasauf bisa mengobati penyakit hati itu. Tasauf berkonsentrasi pada tiga hal. Pertama, mereka selalu melakukan kontrol diri, melakuka muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah) dan muhasabah (introspeksi). Kedua, kaum sufi juga selalu berzikir, mengingat Allah SWT di mana pun. Ketiga, kaum sufi menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur, sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. (Wakhudin/”PR”)***