Rabu, 23 Februari 2011

Menjaga dan Melestarikan Bersama Wayang Indonesia











GEDUNG Olah Raga Komite Olah Raga Nasional Indonesia (GOR KONI) Jawa Barat di Jln. Jakarta Kota Bandung, berkapasitas sekitar 4.000 orang. Namun, Sabtu (12/2) malam Minggu (13/2) penuh sesak. Kursi yang tersedia di kelas VIP dan tribun atas 90 persen terisi. Setiap tamu yang datang mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya, karena tamu yang datang di luar perkiraan. Maklum, malam itu, dalang terkenal asal Banyumas Ki Sugino Siswocarito pentas. Meskipun membawakan wayang gagrag Banyumas, namun para penggemar wayang dari berbagai daerah di Jawa pun menonton.
Dalam sejumlah pementasan sebelumnya, setiap digelar wayang kulit di Bandung, penonton selalu membludak. Sebuah fenomena yang tidak lazim di era modern yang lebih suka menonton budaya kontemporer. Aula RS Dustira Cimahi yang menampilkan Ki Sutarno Rahardjo mampu menyedot penonton yang banyak di malam tahun baru, di saat semua orang berburu tontonan kontemporer dan pesta kembang api. Ki Kasno Purbo Carito yang pentas di Taman Pramuka belum lama ini juga menyedot banyak penonton.
Padahal, masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta sendiri tanpa menyadarinya secara perlahan meninggalkan kesenian milik mereka di kampung halamannya. Budaya modern cenderung mengarah ke uniformitas. Seni musik dengan berbagai genre lebih digandrungi generasi muda ketimbang kesenian tradisional yang menjadi kekayaan budaya Nusantara. Hanya dalang tenar seperti Ki Mantep Sudarsono asal Sukoharjo atau Ki Anom Suroto dari Surakarta, atau Ki Enthus Susmono dari Tegal, Ki Timbul Hadiprajitno dari Bantul yang mampu mengumpulkan massa dalam jumlah yang masif.
Generasi muda yang masih suka menonton wayang lebih tertarik karena dalang saat ini banyak menampilkan campur sari, yakni tembang Jawa yang dikemas dengan kesenian modern seperti keyboard, jass, gitar dan berbagai alat musik moder lain. Dengan alat ini, wayang tak ubahnya pentas musik yang bisa digunakan untuk berjoged seperti musik masa kini.
Sejumlah dalang muda juga mulai tenar menggantikan generasi sebelumnya. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta relatif produktif mencetak para dalang muda. Selain menampilkan sabetan yang cekatan dan atraktif, mereka juga menampilkan campur sari sebagai daya tarik sekaligus sebagai ajang penciptaan kreasi para seniman kontemporer.
Namun saat kesenian Jawa pentas di Kota Bandung, maka semua eksponen kesenian ini turut menonton, baik penggemar wayang klasik maupun wayang kontemporer. Pementasan wayang kulit menjadi momentum bersilaturahmi para pendatang dari Timur ini. Sebab masyarakat Jawa yang tinggal di Bandung berasal dari berbagai lapisan generasi. Asalkan kesenian Jawa, mereka bersedia datang, karena menonton kesenian tradisional berarti bertemu dengan sanak keluarga sedaerah.
Wayang kulit kini sesungguhnya tak lagi hanya milik masyarakat Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Sebab, Persatuan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sejak tujuh tahun lalu mengakui bahwa wayang Indonesia merupakan world masterpiece of oral and intengible of humanity. Maka, wayang telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Itulah sebabnya, H. Sidik penyelenggara wayang kulit di Kota Bandung tidak malu menampilkan wayang kulit di tengah masyarakat Bandung. Sebab, penontonnya tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta, melainkan dari berbagai daerah, bahkan warga Jepang, Cina dan Eropa sempat menonton wayang kulit di Bandung ini.
“Selain mementaskan wayang kulit, kita juga secara rutin mementaskan wayang golek di Bandung. Saat merayakan ulang tahun Kota Bandung, kita menggelar wayang kulit sekaligus wayang golek di Taman Pramuka,” kata H. Sidik dan H. Purwadi.
Bagi masyarakat Jawa, termasuk masyarakat Sunda, wayang seakan sudah menjadi “guru” bagi penggemarnya. Para tokoh wayang terlanjur dianggap benar-benar pernah hidup layaknya manusia yang mengisi zaman purwa. Zaman yang diyakini pernah ada di mana zaman waktu itu masih kosong.
Dalam setiap perkembangan, wayang tumbuh melalui berbagai pengaruh dan mengalami interpretasi baru yang memperkaya dirinya dengan sangat pesat. Dalam perkembangan mutakhir, wayang berkembang sedemikian pesat, sehingga nyaris memusnahkan keskaralan wayang itu sendiri. Di tengah pentas wayang, penyanyi bebas berjingkrak sekadar memenuhi tuntutan zaman karena terbawa kesenian modern. Dalam banyak pementasan, wayang dan gamelan tidak lagi disandingkan dengan sesaji.
Di sisi lain, generasi baru saat ini mengembangkan wayang dalam berbagai media. Mereka memperlakukan wayang layaknya sebagai kekayaan agung (masterpiece). Bahkan Ir. Budi Rahardjo, M.Sc. Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung sempat menggagas agar wayang menjadi salah satu game dalam internet. Setiap orang boleh memilih memainkan peran, misalnya, sebagai Gatotkaca, Bima, atau menjadi Duryudana, dan keluarga Kurawa. Dengan cara ini, genarasi muda dapat menikmati kultur wayang dengan caranya sendiri. Sayang, gagasan ini masih sekadar wacana, sehingga bangsa Indonesia tetap mengonsumsi game yang berasal dari kultur Barat.
Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memberi kesenian ini tumbuh dan kemudian memeliharanya. Kini adalah saat yang tepat untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada generasi baru untuk mengambil tongkat estafet, tanpa harus memotong generasi terdahulu, menuju babak baru, wayang Indonesia. Bukan lagi wayang Jawa, wayang Sunda, wayang Bali, dan sebagainya. Sebab, wayang sudah menjadi kekayaan dan milik bersama. (Wakhudin/”PR”)***

Tidak ada komentar: