Sabtu, 25 Maret 2017

Seni Budaya Cilacap, dari Mistis Hingga Menghibur



FESTIVAL Budaya Cilacap, Sabtu (25/3/2017) malam, menggambarkan kekayaan seni di daerah Jawa Tengah bagian Barat Daya itu. Festival yang diikuti 24 kecamatan itu menggambarkan seni dan tradisi yang akarnya hidup di masyarakat. Meskipun dikemas dengan aneka budaya modern dan pop, tetap saja, budaya lokal masih kentara, bahkan mendominasi festival yang digelar dalam rangka HUT ke-161 Kabupaten Cilacap tersebut. 

Jumat, 28 Juni 2013

Duh, Munarman

SEANDAINYA Munarman yang disiram air oleh Thamrin Amal Tamagola, maka media (yang kemudian diikuti oleh publik), akan menyalahkan dia. Jangankan berperilaku salah, benar pun dianggap salah. Itulah nasib pembela Front Pembela Islam (FPI), organisasi gerakan nahi munkar.  
Nasib gerakan nahi munkar sangat berbeda dengan gerakan amar ma’rufAmar ma’ruf (menyeru kepada kebaikan) bisa dilakukan oleh siapa pun tanpa risiko besar. Para penceramah atau mubalig dan da’i pada  umumnya disebut sebagai orang yang menyeru kepada klebenaran itu. Bahwa yang diseru untuk baik dan benar itu bersedia atau tidak bukan urusan mereka.
Sementara gerakan nahi munkar (mencegah kemaksiatan, pemurtadan, kekafiran, dan sebagainya) tidak sekadar menyeru kebaikan, melainkan mencegah dan mengatasi masyarakat yang sudah munkar. Itulah sebabnya, FPI bersemboyan, “Jangan pernah membiarkan kemunkaran terjadi begitu saja tanpa diusik.”
Maka kalau melihat anak-anak muda mabok karena minum-minuman keras atau narkoba, FPI tak mau diam. Awalnya mereka melaporkan kasus itu ke polisi. Kalau polisi tak kunjung bergerak, mereka menangani sendiri. Demikian juga kalau ada gerakan pemurtadan dan pengkafiran, mereka akan selalu menghadangnya.
Rasulullah dalam sebuah hadis bersabda, “Kalau kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tanganmu. Kalau tak mampu (tak berani), ubahlah dengan lisanmu. Kalau tak mampu (tak berani), cukuplah dalam hatimu mengatakan bahwa perbuatan itu tidak baik. Itulah selemah-lemah iman).
Hadis ini memang sangat menantang. Tapi, sedikit umat Islam yang berani mengambil opsi yang pertama, mengubah dengan tangan. FPI selama ini mengambil pilihan pertama itu. Tapi akibatnya, citranya menjadi sangat buruk dan tidak popular. Kebanyakan umat Islam mengamil opsi terakhir, mengubah dengan hati, mengatakakan bahwa, “Oh, prostitusi tidak baik. Oh, minum narkoba tidak baik, dst.” Tapi banyak dari umat Islam yang malah tak peduli. Berarti lebih rendah dari selemah-lemah iman.
Gerakan nahi munkar sangat berisiko. Karena berhadapan dengan perilaku masyarakat yang anomali dan dalam kondisi sakit. Menghadapi dunia narkoba sama dengan menghadapi dunia mafia. Karena penjualan narkoba selalu melibatkan mafia (walaupun dalam skala kecil) yang bergerak secara ilegal. Menghadapi dunia mafia memaksa gerakan nahi munkar berhadapan dengan kekerasan.
Di samping itu, media di Indonesia selama ini sangat tidak memihak kepada gerakan nahi munkar. Media kita lebih memilih pada gerakan amar ma’ruf, terutama yang bias menaikkan rating. Bahkan secara umum, media kita cenderung mengikuti gerakan Islam phobi. Secara membabi buta media sangat produktif ikut-ikutan menggunakan istilah Barat menjelek-jelekkan ajaran Islam.
Maka, mendengar kata “jihad”, “jemaah Islamiah”, “Al-Qa’idah”, “Thaliban” dan seterusnya langsung berkonotasi  kepada keburukan, kekerasan, kejahatan, dan seterusnya. Padahal, jihad adalah ajaran yang sangat mendasar dalam Islam. Sepanjang hayat, Rasulullah selalu berjihad, baik jihad nafs maupun jihadul qital. Jamaah Islamiyah artinya umat Islam. Asalkan kita Islam, maka kita disebut jamaah Islamiyah. Al Qaeda artinya kaidah, ajaran Islamiyah. Tapi mendengar kata Al Qaeda selalu dikaitan dengan Osama bin Laden. Apalagi mendengar nama Thaliban, selalu dikaitan dengan mantan penguasa di Afganistan, padahal Thaliban artinya “Pelajar”.

Kembali ke Munarman, nasib dia tidak berbeda dengan istilah-istilah di atas.  Jangankan salah, benar pun akan dianggap salah. Nasib FPI pun kurang lebih sama. Dia akan terus disoraki media kalau berani mengusik pedagang jamu yang menjual narkoba, kalau berani membubarkan prostitusi, kalau melawan pemurtadan dan seterusnya. Tapi mereka telah memilih jalan hidupnya dengan segala risikonya. Kita juga tinggal memilih menyorakinya atau membiarkannya.

Rabu, 27 Februari 2013

Partai Religius Belum Mati



Oleh WAKHUDIN
(Wartawan senior. Doktor Bidang Pendidikan Moral Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung)
N
ASIB partai politik religius dikhawatirkan runtuh, menyusul ditangkapnya Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq. Padahal, PKS oleh para pengusungnya digadang menjadi benteng terakhir partai Islam yang konsisten memberikan warna agama, menyusul partai religius lain yang secara perlahan berubah menjadi partai nasionalis. Pemilu Gubernur Jawa Barat membuktikan bahwa partai religius belumlah mati, terbukti pasangan Ahmad Heryawan-Dedi Mizwar yang diusung PKS masih unggul dalam beberapa penghitungan cepat (quick count), Minggu (24/2/2013).
Secara teoretis, warna politik Indonesia terdiri atas partai politik nasionalis dan religius. Kekuatannya, 60% berbanding 40%. Partai politik yang dapat dikategorikan sebagai partai nasionalis adalah Partai Demokrat, Partai Golkar, PDI-Perjuangan, Partai Hanura, dan Partai Gerindra, dan Partai Nasdem. Sedangkan partai berbasis agama dan kelompok agama terdiri atas Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan. PKS disebut partai religius karena sejak berdiri sudah mengusung warna agama; PAN secara kultur mewadahi kelompok Islam Muhammadiyah; PKB mewadahi umat Islam dari kalangan NU; Sedangkan PPP sejak lahir mewadahi suara umat Islam saat partai politik Islam “dipaksa” melakukan fusi.
Pada kenyataannya, perbedaan antara partai nasionalis dan partai religius tidak bisa ditarik garis lurus. Sebab, kenyataannya, banyak tokoh partai nasionalis bersikap religius, bahkan lebih saleh perilakunya dari partai pengusung agama. Sebaliknya, tokoh partai politik Islam juga memiliki nasionalisme yang kuat. Justru religiusitas yang diusungnya bermakud menjunjung tinggi nasionalisme. Di samping itu, para pemilih sering berpindah pilihan dari partai religius ke partai nasionalis atau sebaliknya. Pindah pilihan ini bergantung pada popularitas tokoh yang dipilih dalam partai politik tersebut.
Berbagai jajak pendapat yang menyebutkan bahwa suara PKS akan mengalami penurunan drastis pasca ditangkapnya Luthfi Hasan Ishaaq terbantahkan dalam Pilkada Jabar ini. Fenomena ini sekaligus memberikan sinyal bahwa partai politik Islam masih mendapatkan kepercayaan rakyat. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa Jabar berbeda dengan DKI Jakarta, di mana PKS yang mengusung mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid kalah telak dalam rivalitas Pilgub DKI Jakarta melawan Jokowi dan Foke.
Meskipun partai Islam belum segera mati, bukan berarti para pendukungnya bisa berlenggangkangkung. Sebab, pemilih pada umumnya lebih suka sebagai swing voter, setiap saat berubah sesuai dengan angin politik yang berembus. Pemilih fanatisk religius bisa dengan rela memilih pemimpin dari kalangan nasionalis manakala pemimpin tersebut dinilai bersikap agamis. Tapi sebaliknya, pemilih nasionalis tidak pernah memberikan suara kepada tokoh agamis. Itulah sebabnya, jika partai politik religius kehilangan kepercayaan dari konstituennya, suara religius dapat dengan mudah berpaling ke tokoh n asionalis.
Kasus Aher-Demis
Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Dedy Mizwar tidak dapat dilepaskan dari suara pemilih religius. Suara untuk Amad Heryawan dapat dipastikan hanya masuk dari suara PKS murni yang berkisar belasan persen. Partai lain sangat sulit mengalihkan suara kepada Aher. Selebihnya adalah suara untuk Dedy Mizwar. Ketenaran Demiz tidak bisa dilepaskan dari citranya sebagai artis yang religius. Karena, berbagai sinetron gubahannya selalu berwarna religius dan dapat diterima dengan baik. Seandainya Aher salah pilih pasangan, maka suara murni PKS sulit mendongkrak suaranya menuju kemenangan.
Meskipun sebagian besar calon gubernur Jabar dipenuhi artis, namun “warna” artis tersebut sangat memengaruhi raihan suara. Artis Rieke Diah Pithaloka sangat mewakili suara nasionalis. Pasangan Rieke-Teten berasal dari suara murni pemilih nasionalis, ditambah sedikit popularitas Rieke sebagai artis. Teten Masduki meskipun track record-nya sangat bagus tidak memiliki daya tambah suara, selain hanya menguatkan kepada kaum nasionalis memilih mereka. Itulah sebabnya, suara mereka tak mampu mengungguli pasangan Aher-Demiz.
Klaim Dede Yusuf bahwa kemenangan Aher dalam Pilgub I Jabar adalah suaranya telah dibuktikan dalam Pilgub II. Suara Dede Yusuf-Lex Laksamana adalah suara mereka murni. Meskipun pasangan ini didukung Partai Demokrat dan PAN, bukan berarti suara partai ini masuk ke mereka. Para pemilih pasangan Dede-Lex merupakan produk profesionalisme keduanya dalam politik, tanpa disertai fanatisme pemilih, baik dari kaum religius maupun nasionalis. Nilai lebih Dede Yusuf disbanding pasangan yang kalah lain adalah keartisannya.
Kekalahan pasangan Yance-Tatang sama dengan kekalahan Dede-Lex, karena tidak didukung pemilih fanatic dari kaum religius dan nasionalis. Di samping tak didukung pemilih fanatik, mereka tidak “dibedaki” dengan artis. Kekuatan Yance berada di kewilayahan, terutama Pantura yang belakangan semakin gerah dengan sistem pembangunan Jabar yang memarginalkan mereka.
Sedangkan minimnya suara Dikdik-Thoyib bisa dianalisis dari mesin politik yang tidak dimiliki keduanya, yakni partai politik. Di samping itu, popularitas mereka juga masih sangat minim. Meski demikian, setidaknya, munculnya figur mereka dapat menjadi “investasi” menjadi tokoh di Jawa Barat. Yang pasti, kalau dua tokoh terakhir dapat memperlihatkan religiusitasnya, tidak mustahil dapat terpilih pada Pemilu Gubernur 2019.

Prabowo akan Menang Pemilu Presiden 2014



Oleh Dr. WAKHUDIN, M.Pd.
(Wartawan senior. Doktor bidang Pendidikan Moral Universitas Pendidikan Indonesia)
L
OLOSNYA sepuluh partai politik dalam verifikasi faktual dan kemudian berhak ikut dalam kontestasi Pemilu 2014 memberikan peluang bagi Prabowo Subianto menjadi Presiden RI menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan berakhirnya masa bhakti Yudhoyono, ditambah dengan banyaknya kasus yang menimpa Partai Demokrat, suara yang selama ini memilih Partai Demokrat dan Presiden Yudhoyono akan “bermigrasi” ke Partai Gerindra.
Kalau saja Yudhoyono masih mempunyai kesempatan maju dalam pemilihan pemilu presiden ketiga kali, tidak mustahil ia akan terpilih kembali. Sebab, Yudhoyono memiliki tingkat resistensi paling rendah dibandingkan dengan calon presiden yang lain. Memang sejumlah kader Partai Demokrat menghadapi berbagai masalah pelik seperti kasus Bank Century dan pembangunan wisma atlet, bahkan kasusnya menimpa Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Anas Urbaningrum, namun berbagai kasus itu tidak langsung menimpa Presiden Yudhoyono.  Itulah sebabnya, akseptabilitas masih tetap tinggi di mata rakyat.
Kalangan elite bisa saja bersikap kritis kepada Partai Demokrat dan Presiden Yudhoyono, tapi rakyat pemilih yang sebagian besar merupakan kelas menengah ke bawah masih memandang Yudhoyono sebagai pemimpin terbaik saat ini. Nilai tambah bagi akseptabilitas Yudhoyono adalah, dia anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Proses demiliterisasi politik memang terus bergulir, namun masih terbatas pada elite politik tertentu. Pada galibnya, rakyat masih memandang militer sebagai lembaga penghasil pemimpin terbaik di tanah air.
Yudhoyono bisa diterima kalangan nasionalis sekaligus pemililih religius. Sejauh ini, pemilih di Indonesia masih relevan untuk dipetakan menjadi dua pemilih itu dengan komposisi nasionalis 60% dan religius 40%. Partai Demokrat “berkromosom” nasionalis. Itulah sebabnya, para pemilih nasionalis yang sempat tumpah ruang di Partaai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarnoputri kemudian bermograsi ke Partai Demokrat dalam dua kali pemilu terakhir. Pemilih PDIP sebelumnya merupakan suara yang masuk ke Partai Golkar di masa Orde Baru.
Yudhoyono yang didukung suara nasionalis ditambah  suara religious dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Perastuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN) dan sebagainya kemudian mampu memenangi Pemilu 2009 hanya dalam satu putaran. Saat Yudhoyono tak mungkin kembali maju menjadi calon presiden, kini suara nasionalis dan religius itu akan bermigrasi ke mana?
Melihat dari 10 partai politik yang lolos verifikasi faktual, yang ujungnya akan mengajukan calon presiden, Partai Gerindra memiliki kans yang besar untuk menampung suara nasionalis dan religious sekaligus. Sejauh ini, rakyat pemilih tidaklah fanatik memilih partai politik. Saat Orde Baru, mereka memilih Partai Golkar, saat reformasi berpindah ke PDIP, dan terakhir lari ke Partai Demokrat. Maka, tidak musatahil pula, pemilih akan bermigrasi ke Partai Gerindra. Pemilih lebih terkonsentrasi kepada figur calon presiden, tidak peduli dari partai mana mereka berasal. Peluang besar suara Partai Gerindra tidak lepas dari karisma Prabowo sebagai calon presiden, bukan karena solidnya mesin politik partai.
Nilai tambah Prabowo Subianto karena dia seorang tentara, terakhir berpangkat Lenan Jenderal. Seperti dijelaskan di atas, rakyat masih melihat pemimpin didikan TNI lebih baik dibandingkan pimpinan didikan sipil. Kalangan elite bisa jadi mengkritisi kiprah Prabowo saat di Timor Leste saat Prabowo masih menjadi tentara. Namun, kalau dilihat dari kacamata yang lain, kiprah Prabowo di Timor Timur itu justru bisa menggambarkan heroisme dia mempertahankaan provinsi terakhir RI yang kemudian memisahkan diri.
Prabowo bisa dikategorikan sebagai tokoh nasionalis dengan Partai Gerindra yang “berkromosom” nasionalis. Itulah sebabnya, para pemilih nasionalis tidak akan alergi memilih Partai Gerindra sebagai partai pilihan baru setelah menyusutnya suara di Partai Demokrat. Prabowo juga diterima di kalangan pemilih religious. Itulah sebabnya, sejumlah tim suksesnya direkrut dari kalangan tokoh partai religius seperti Partai Bulan Bintang.
Nama Prabowo Subianto di kalangan pemilih religius juga belum ternoda. Hubungan baik Prabowo dengan kalangan elite religius sudah terlihat sejak reformasi bergulir tahun 1997/1998. Bahkan pada saat sejumlah kota dilanda kerusuhan, para tokoh Muslim merapat ke Prabowo saat menjabat sebagai Panglima Kostrad. Sejumlah tokoh politik religius menggambarkan Prabowo sebagai Hamzah, paman Nabi Muhammad saw. yang gugur dalam Petang Uhud di Madinah. Sesungguhnya, hubungan Rasulullah dengan Hamzah biasa saja. Namun karena Muhammad terus menerus dianiaya orang kafir Quraisy, Hamzah akhirnya bangkit membela keponakannya.
Demikian juga dengan Prabowo Subianto, dia sesungguhnya lebih nasionalis. Namun melihat perkembangan politik Islam dengan para tokohnya yang tidak kunjung mendapatkan posisi yang stabil, pembelaannya dengan kaum religius menjadi semakin mendalam. Hanya karena “kekalahan” dalam proses reformasi, karier Prabowo kemudian surut, dan peta politik religius pun tidak kunjung bersinar.
Kans partai politik
Lalu bagaimana dengan kans partai politik selain Gerindra? Seperti diketahui, partai politik yang lolos adalah Partai Demokrat, Golkar, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Gerindra, Hanura, dan Partai Nasdem. Dari sepuluh partai yang akan berpeluang meraih suara signifikan adalah PDIP dan Partai Golkar karena keduanya memiliki mesin politik yang selalu panas. Namun, dua mesin politik ini belum akan mampu menempatkan tokohnya sebagai Presiden RI.
Kalau PDIP akan menempatkan Megawati sebagai calon presiden RI 2014-2019, maka ini sudah expired. Sudah berapa kali PDIP mengajukan nama Ketua Umumnya, tapi selalu tidak berhasil. Kalau saja PDIP mengajukan Joko Widodo, mungkin gairah rakyat kembali terangkat. Namun kalau PDIP mengajukan Puan Maharani atau Ketua MPR RI Taufik Kiemas, maka suara yang diperoleh tak akan melebihi suara Megawati Soekarnoputri.
Partai Golkar dalam Pemilu Legislatif mungkin mendapatkan suara yang signifikan karena banyak kader Golkar di tingkat menengah yang berkualitas. Tapi suara tersebut belum tentu paralel dengan suara pada pemilu presiden. Aburizal Bakri yang sudah ditetapkan sebagai calon presiden versi Golkar dalam berbagai polling menunjukkan suara yang rendah. Demikian juga suara alternatifnya, misalnya Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, atau siapa pun.
Partai Hanura yang dipimpin Wiranto sesungguhnya memiliki “modal” yang hamper sama dengan Partai Gerindra pimpinan Prabowo. Namun sejak mendapatkan suara yang tidak signifikan, nama Wiranto tidak lagi dipublikasikan secara besar-besaran. Dinginnya Hanura bisa keterusan sampai Pemilu 2014.
Yang menjadi tantangan terbesar Prabowo dalam Pilpres 2014 adalah partai religius apabila mereka bersatu. Tapi lazimnya, suara religius yang berjumlah 40% itu sering terfragmentasi pada aliran masing-masing, bahkan lebih memilih menjadi pendukung tokoh nasionalis. Kalau saja partai religius bertemu dan mengajukan tokoh karismatik yang bisa diterima bersama, Prabowo bisa terkalahkah. Lalu siapa yang akan menjadi Presiden RI tahun 2014, tentu terserah konsituen. Yang penting, rakyat Indonesia menjadi semakin sejahtera.
Menampakkan hasil
Hasil survei National Leadership Center (NLC) bekerja sama dengan lembaga riset internasional, Taylor Nelson Sofres (TNS), seperti dimuat www.liputan6.com menunjukkan,  Prabowo Subianto dan Partai Gerindra sangat diminati rakyat pada Pemilihan Umum 2014. Hasil polling yang dilakukan oleh TNS memperlihatkan bahwa masyarakat yang diwakili responden, sebanyak 35% memilih Prabowo sebagai figur calon presiden terunggul, diikuti 20% memilih Megawati Soekarnoputri, dan 12% ke Jusuf Kalla.
Presiden Direktur NLC Taufik Bahaudin di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (28/2/2013) menjelaskan, hasil survei ini juga memperlihatkan partai besutan Prabowo pula, yakni Partai Gerindra juga diminati oleh masyarakat. "Masyarakat cenderung memilih Partai Gerindra. Kecenderungan masyarakat terhadap pilihan partai politik di mana Gerindra, PDIP, Golkar, Demokrat, dan PPP secara berurutan menjadi lima partai terunggul. Partai, Gerindra dipilih 26% responden, PDIP 25%, Golkar 18%, Partai Demokrat 8%, PPP 3%, PKS 3%, Partai Nasdem 3%, PKB 2%, PAN 2%, Hanura 2%.

Senin, 12 November 2012

Pemilu Penuh Penghibur



Oleh WAKHUDIN
(Dosen Komunikasi Politik Program Pascasarjana Unisba dan FP IPS Universitas Pendidikan Indonesia)

PEMILIHAN Gubernur dan calon Gubernur Jawa Barat 2013 tak ubahnya panggung hiburan. Full entertainment. Dari lima pasangan calon, tiga pasang di antaranya artis. Paling pertama mendaftar Rieke Diah Pitaloka yang di panggung hiburan dikenal dengan Oneng. Ia berpasangan dengan Teten Masduki.  Gubernur incumbent Ahmad Heryawan juga memilih berpasangan dengan artis, Dedy Mizwar. Dede Yusuf yang berpasangan dengan Lex Laksmana juga seorang artis, meskipun sudah malang melintang di dunia politik. Hanya dua pasang yang bukan artis, yaitu Irianto M.S. Syafiudin yang berpasangan dengan Tatang Farhanul Hakim dan Dikdik Muliana Arief Mansur yang berpasangan dengan Cecep Nana Suryana Toyib.
Fenomena ikut sertanya entertainer dalam panggung politik menggambarkan semakin pragmatisnya dunia politik di tanah air. Memenangi pemilu memang membutuhkan popularitas. Maka supaya menang dalam pilkada, stakeholders di bidang politik langsung mencomot orang yang populair yang biasanya bejibun di panggung hiburan. Pada kenyataannya, menyertakan artis dalam pemilihan umum sangat efektif dalam mendulang suara. Itulah sebabnya, artis semakin laris manis di panggung politik. Soal kinerja pun hampir tidak ada bedanya. Toh pemimpin bisa didampingi birokrat kawakan dan para ahli. Sukses tidaknya memimpin bergantung dari kemampuan memilih yang terbaik dari para stafnya.
Masuknya artis panggung hiburan dalam dunia politik dan efektifnya mereka sebagai  pendulang suara sekaligus menggambarkan bahwa hiburan kini menjadi panglima bagi bangsa Indonesia. Apa pun problem yang dihadapi bangsa, maka hiburan jawabannya. Masyarakat yang sedang memiliki rasa suka, duka, sedih dan bahagia, mungkin tepat mendapatkan solusi hiburan. Tapi problem yang berkaitan dengan semakin sempitnya lapangan kerja, semakin mahalnya biaya pendidikan, tata kota yang semrawut, disparitas antara si kaya dan si miskin dengan si kaya, problem berkaitan dengan ketahanan dan keamanan, apakah juga akan diselesaikan dengan hiburan?
Penulis tidak mengatakan bahwa para artis tidak akan mampu memimpin. Tapi persoalan bangsa dan negara sebaiknya dipegang orang yang tepat, yaitu politikus sekaligus negarawan. Problemnya, para politikus kerap lebih pragmatis dan tidak memiliki jiwa kenegarawanan. Mereka lebih suka mengambil jalan pintas dalam mencapai kekuasaan, ketimbang membangun sistem yang baku. Partai politik yang mestinya menjadi wadah dan akses  ke kekuasaan tak berbeda dengan pasar bertransaksi kekuasaan dan jual beli politik. Ideologi  yang lazim menjadi ruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tak lagi berbekas.
Maka pada saat sistem politik berjalan tidak normal, bisa jadi, artis lebih baik dalam memimpin bangsa ketimbang politikus, manakala jiwa dan hatinya diwakafkan untuk bangsa dan negara. Dalam kondisi sistem politik tak berfungsi dengan baik seperti itu, politikus lebih tahu secara teknis dan taktis bagaimana mengumpulkan kekuasaan di tangannya untuk kepentingan diri sendiri  dan kelompoknya ketimbang berpolitik untuk bangsa dan negara. Tapi, sebaik-baik perkara adalah yang proporsional. Artinya, politikus adalah orang yang bekerja di bidang politik. Maka yang paling proporsional memimpin bangsa adalah politikus, tapi harus total dan berjiwa negarawan, bukan sekadar berdagang di dunia politik.
Memangnya para penghibur dilarang terjun ke dunia politik? Tak ada konstitusi yang melarang mereka. Politik adalah wilayah terbuka yang bisa dimasuki siapa pun. Setiap warga negara mempunyai hak masuk ke dalam dunia politik, baik melalui partai politik maupun jalur lain yang memungkinkannya. Namun, Indonesia harus mulai belajar tertib. Politik merupakan wilayah yang amat sangat strategis dan penting, karena menyangkut masa depan kehidupan bangsa dan negara. Di tangan mereka lah arah kehidupan negeri ini ditentukan. Maka, ketika politik dipegang tokoh yang tidak proporsional, arah kehidupan bangsa tidak lurus.
Para penghibur, biarkankan bekerja total dengan mengibur rakyat di panggung hiburan. Sementara dunia politik sebaiknya diurus para politikus. Demikian pun persoalan ekonomi, biarkan diurus ekonom, soal agama diurus agamawan dan kiai, dan seterusnya. Saat hiburan menjadi panglima, maka para penghibur memasuki setiap relung kehidupan dengan tidak proporsional. Semua persoalan, dari masalah sajadah hingga haram jadah dikomentari mereka, meskipun tidak menguasai materinya. Apalagi, ucapan para selebritis saat ini lebih diikuti ketimbang ucapan para moralis dan pemegang otoritas di bidang keagamaan. Maka, kehidupan hedonistis semakin mewarnai kehidupan bangsa.
Bahwa kondisi kita karut marut, ya. Misalnya, artis dan ekonom justru memegang kendali politik, sementara politikus justru sibuk “berdagang”. Namun bukan berarti kita berhenti sampai di sini. Akademisi dan para pengambil keputusan perlu mulai meluruskan kehidupan yang tidak linear ini. Kehidupan harus mulai berjalan normal. Kalaupun sekarang belum normal, setidaknya, para artis yang terjun di bidang politik perlu mendedikasikan hidupnya untuk politik dan negara secara total. Jadilah negarawan, bukan sekadar petualang politik, apalagi sekadar calo politik yang menjadi boneka para petualang yang mengail di air keruh.
Kembalikan kehidupan pada relnya masing-masing. Politik yang dimasuki segala macam jenis orang dan profesi telah tercemar menjadi lembaga yang terkesan kotor, menghalalkan segala cara, brengsek, dan berbagai stigma buruk yang lain. Padahal, politik adalah mulia, seperti bidang lain yang memungkinkan bagi pelakunya untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa.  Saatnya bangsa Indonesia melakukan purifikasi, agar tidak sembarang orang masuk ke wilayah ini. Hanya negarawan dan bersikap mulia yang pantas memasukinya.***

Sabtu, 28 Juli 2012

Mencoba "Menikmati" Paniknya Dikejar Aparat

SETELAH berkeliling menelisik warung-warung di Kampung Cibogo, Cipatat, Kabupaten Bandung, dari mulai rumah makan khas Sunda hingga sepanjang lima ratus meter ke arah Cianjur beberapa kali, saya akhirnya singgah di sebuah warung yang tidak terlalu ramai. Warung yang satu ini hanya dihuni dua orang penjaga laki-laki dan seorang perempuan. Sebutlah namanya Pualam. Cewek yang kira-kira berusia 26 tahun tapi mengaku berumur 21 tahun ini seperti merajuk.
Saya kemudian duduk di atas salah satu kursi dari lima kursi yang tersedia yang sudah mulai sobek dan bolong-bolong. Untuk meyakinkan bahwa saya tidak akan pergi lagi, Pualam menawarkan minuman. Saya langsung menyebutkan teh dingin dalam botol. Ia kelihatan tidak puas dengan jawaban saya. "Nggak minum bir?" katanya.
"Saya tak suka mabuk, juga tak merokok," kata saya.
"Tapi suka cewek?" sergah Pualam.
"Ya, itu saja," jawab saya.
Sembari mengambilkan minuman untuk saya, Pualam me­minta satu botol bir berwarna hitam. Saya mengiyakannya. Kemudian ia membuka dua botol di depan saya. Saya meminum jatah saya langsung dari botol, sedangkan Pualam menuangkan minumannya dalam gelas besar. Sebelum meminumnya, ia kembali meminta saya membelikan untuknya sebuah minuman energi. Setelah saya mengiyakan, Pualam menuangkannya dalam gelas yang nyaris penuh. Setelah minuman dicampurkannya, Pualam pun menyeruputnya dengan rasa nikmat.
Meski kelihatan puas dengan minuman oplosannya, Pualam kelihatan masih kurang sesuatu. "Bagaimana kalau sekalian saya dibelikan rokok?" katanya. Saya pun mengangguk. Kemudian ia buru-buru datang ke counter rokok mengambil sebungkus rokok filter yang isinya 20 batang.
Pualam memang akhirnya menawarkan saya untuk melakukan hubungan seks. Tarifnya Rp 150.000,00 untuk short time, dan Rp 500.000,00 untuk long time, ditambah uang cabutan (untuk mucikari) Rp 50.000,00. Saya menyanggupi membayarnya Rp 150.000,00 untuk sekadar berfoto-foto di kamar-kamar yang biasa dia gunakan untuk melayani para tamunya.
Sembari mengajak Pualam bercerita tentang perjalanan hidupnya, saya mencoba memotretnya dalam beberapa pose. Tapi baru mendapatkan dua kali jepretan, tiba-tiba lampu di kamar kami padam. Pualam pun berteriak, "Aa...! Ada apa, kok lampunya dimatikan?"
Penjaga warung yang dari tadi tengah minum bir sembari setengah berbisik berteriak, "Ada razia...!"
Mendengar kabar adanya penertiban, Pualam segera bergegas. Matanya melihat ke segala arah, kemudian tertuju ke tas miliknya dan menyambarnya. Penjaga warung yang memadamkan lampu kamar tersebut menyarankan kami untuk meneruskan kencan di rumah kontrakannya di belakang warung tersebut. Tanpa banyak bicara, Pualam pun menarik tangan saya ke rumah kontrakan yang disebutkan penjaga warung.
Kami menyelinap dari pintu samping, kemudian menuruni jalan yang begitu terjal dan gelap. Pualam sudah begitu hafal jalan ke arah jurang ini, sehingga meskipun jalannya terjal dan berbatu ia dapat melewatinya dengan sigap. Sebaliknya, saya yang baru malam itu melewati lereng ini gelagapan. Bahkan sesekali kaki terpeleset sehingga nyaris terjatuh. Sebetulnya saya tidak perlu tergesa-gesa seperti Pualam yang lari dari tempat praktiknya, tapi saya harus solider kepadanya dan sekaligus "menikmati" dramatisnya dikejar aparat.
Kami berjalan dengan bergegas sekira 100 meter dari warung yang letaknya jauh di bawah dari warung remang-remang itu. Kami masuk ke dalam rumah petak yang menurut Pualam rumah kos milik penjaga warung. Setelah meletakkan tas miliknya, Pualam kemudian pergi ke kamar mandi yang letaknya di luar. Ia sengaja membersihkan semua make up yang menempel di wajahnya. Ia khawatir aparat yang tengah me­lakukan razia mendatangi tempat kosnya. Dengan keadaan wajah yang polos ia dapat berkilah bahwa dirinya bukanlah WTS.
Meskipun semua make up sudah dibersihkan dan kemudian mengganti pakaian rumahan, Pualam masih kelihatan panik. Ia kembali mengecek dompetnya, KTP-nya ternyata aman. Kemudian ia mengambil dokumen berwarna merah. Ternyata itu adalah kartu keluarga (KK). Ia mengaku, namanya sudah tercantum dalam daftar sebagai anggota keluarga pemilik warung. Melihat beberapa dokumen yang dimaksudkan sudah lengkap, Pualam kelihatan tenteram.
Meski Pualam sudah mulai tenang, justru kegaduhan terjadi di luar. Kali ini teman Pualam bernama Viruz justru tengah mengalami kepanikan. Ia melihat tiga buah mobil aparat melintas di depan warungnya yang biasa ia gunakan untuk mangkal. Saya menyarankan agar Pualam mengajak Viruz untuk bergabung di kamar kami. Tapi sebelum bergabung, Virus pun pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Ia membersihkan semua make up yang menempel di wajahnya sebagaimana dilakukan Pualam.
Begitu kumpul bertiga di kamar kos itu, Pualam kemudian melontarkan ide untuk bermain kartu. Ia menyebutnya dengan istilah bermain "merahan". Mereka terbiasa tidur sekira pukul 3.00 atau 4.00 dini hari, padahal malam itu baru menunjukkan pukul 23.00 WIB. Kembali ke warung bagi mereka tidak mungkin, Pualam dan Viruz tidak mau mengambil risiko ditangkap aparat, sementara untuk tidur sore belum bisa, karena kantuk belum kunjung datang. Bermain kartu adalah alternatif untuk membunuh waktu, sebagaimana mereka selalu lakukan saat-saat menanti para pelanggan.
Saya sebetulnya siap ikut ber­main kartu, namun saya tidak paham sistem "merahan" yang mereka mainkan. Apalagi, Pualam menyarankan agar saya tidak perlu ikut bermain kartu, karena cukup dilakukan dua orang. Saya hanya diminta menjadi donatur, siapa pun yang kalah untuk membayarinya. Sebelum mereka bermain, uang receh yang ada di kantung saya dimintanya, sebagai modal. Dua perempuan ini pun kemudian tenggelam dalam permainan kartu. Sesekali Pualam mengocok kartu, namun kadang-kadang Viruz yang mengo­coknya.
Selama kedua perempuan ini bermain kartu sambil berjudi, saya kembali mengajak mereka mengobrol. Pualam tidak banyak menjawab pertanyaan saya, ia lebih memilih tenggelam dalam kartu yang tengah dipegangnya. Justru Viruz yang lebih mudah untuk bercerita. Meskipun usianya sekarang sudah 35 tahun, ia masih beroperasi sebabagi pelacur. Ia memulai menjadi WTS di Cibogo setelah diceraikan suaminya. Wanita yang mengaku berasal dari Garut ini baru terjun ke dunia esek-esek setelah usianya 30 tahun.
Sejak tidak memiliki suami dan harus menghidupi seorang anaknya, ia memang ingin bekerja. Namun, meskipun sudah melamar ke sejumlah pabrik, ia tidak kunjung diterima sebagai karyawan. Makanya saat ada seorang menawarinya untuk menjadi penunggu warung, ia menyanggupinya. Pada mulanya ia tidak menyangka bahwa menunggu warung sekaligus menjual dirinya untuk berbuat mesum. Itulah sebabnya setelah beberapa bulan di Cibogo ia kembali ke Garut. Namun karena terus didera kemiskianan, Viruz kembali ke Cibogo. Kali ini ia datang sendiri dengan kemauan sendiri, sehingga dijalaninya selama dua tahun.
Pualam maupun Virus saat ditanya kapan akan berhenti menjadi WTS, tidak tahu harus menjawabnya. "Nggak tahu, kapan. Terserah. Apa yang akan terjadi terjadilah," kata Viruz. Pualam pun mengamininya. Kami mengobrol hingga pukul 1.00 dini hari. Penjaga warung tiba-tiba datang, dan menyodorkan bon minuman yang diminum Pualam dan dirinya sendiri ratusan ribu rupiah. Saya pun membayarnya sekalian pamitan.
Setelah menaiki tebing yang begitu terjal, saya pun sampai di depan warung remang-remang itu kembali. Sebagian besar warem tersebut sudah tutup. Rupanya beberapa mobil aparat yang lewat hanya mampir di dua warung tidak bermaksud melakukan razia. Tapi para WTS telanjur lari tunggang langgang. (Wakhudin/"PR")***

Berhaji Hanya Perlu Satu Kata, Pasrah


(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh “rafats”, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Q.S. Albaqarah:197)


PESAWAT take-off pukul 8.00 pagi. Tapi jam 1.00 dini hari, sudah hiruk pikuk. Jemaah yang sudah mulai mengantuk tak lagi bisa tidur. Petugas melalui pengeras suara yang bising meminta mereka naik ke dalam bus yang segera membawanya ke bandara. Pukul 2.00, semua jemaah satu kloter kelihatannya sudah naik ke dalam bus. Ketua kloter yang dibantu ketua rombongan menghitung jemaah satu per satu. Ternyata jumlahnya 449 jemaah, kurang 6 orang.

Maka para karom (ketua rombongan) segera mencari jemaah yang belum masuk ke dalam bus. Dua orang jemaah ditemukan di dalam WC asrama, tapi tidak dapat segera naik bus, karena masih buang hajat. Petugas pun menungguinya, sampai selesai. Sementara dua jemaah yang lain segera menaiki bus setelah mengisap sebatang rokok. Ketua kloter pun kembali menghitung mereka, dan jumlahnya tetap belum genap, masih kurang dua orang.

Para petugas kembali sibuk mencari mereka. Sebagian melakukan sweeping ke kamar-kamar jemaah. Tapi hasilnya nihil. Maka petugas segera mengumumkan kembali melalui pengeras suara meminta dua jemaah segera naik ke dalam bus yang sebentar lagi berangkat. Tapi lagi-lagi tidak ada jemaaah yang memasuki bus.

Sebagian jemaah kesal, sebagan lain uring-uringan, namun sebagian lain menikmati tidur di dalam bus. Beberapa waktu kemudian seorang kakek berusia 75 tahun pun datang dengan dituntut anaknya memasuki bus. Waktu pun terus berlalu, pukul 2.30. Ketua kloter kembali menghitung jemaahnya, namun lagi-lagi kurang satu orang. “Halo... halo...” kembali berkumandang. Ternyata, jemaah yang belum masuk adalah orang yang tadi ikut mencari jemaah yang belum datang. Jam 3.05 rombongan bus itu baru berangkat ke bandara dengan jumlah jemaah yang genap, 455 orang.

Pergi menunaikan ibadah haji memang berbeda dengan melancong pada umumnya. Mengunjungi Baitullah dituntut kekompakan rombongan dan kelompok terbang. Ketua kloter, tim pembimbing haji daerah (TPHD), tim pembimbing ibadah haji (TPIH), dan tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) yang dibantu sejumlah ketua rombongan dituntut bekerja keras mengoordinasikan jemaah. Satu saja jemaah yang ketinggalan atau mengalami peristiwa di luar dugaan, akan merepotkan semua jemaah. Oleh karena itu, sekadar naik ke dalam bus pun memakan waktu tiga jam lebih.

Padahal, bepergian biasa memerlukan waktu tak lebih dari satu jam untuk mencegat hingga naik bus. Bahkan satu jam untuk boarding pass sebelum terbang pun masih punya kesempatan jalan-jalan di bandara.

Saat berhaji sebetulnya jemaah sudah terbebas dari pekerjaan rutin kantor dan pekerjaan rumah. Tidak ada pekerjaan lain yang harus dilakukan, selain makan dan minum demi kesehatan serta beribadah. Meski demikian, peluang meningkatnya stres sangat tinggi. Bayangkan, naik bus saja memakan waktu tiga jam dan bertele-tele. Padahal, perjalanan yang penuh tekanan seperti itu berlangsung setiap hari selama sekitar 40 hari.

Setibanya di bandara, jemaah dituntut antre naik pesawat setelah sebelumnya mendapatkan pemeriksaan dokumen dan barang bawaan. Tentu, tidak semua jemaah familiar dengan bandara sehingga sering proses pemeriksaan ini memakan waktu yang tidak sebentar. Apalagi kalau pemeriksaan dilakukan di bandara Arab Saudi, baik di Bandara Jeddah maupun Madinah. Soal bahasa senantiasa menjadi kendala dalam berkomunikasi.

Setelah istirahat di bandara, jemaah melanjutkan perjalanan ke Kota Madinah atau langsung ke Mekah bagi jemaah gelombang II. Akibat kelelahan perjalanan, jemaah biasanya semakin menurut saat mulai diberangkatkan ke kota suci ini. Namun saat sampai di pemondokan, keributan sangat potensial terjadi. Jemaah yang masih berusia muda kerap tidak mau mengalah untuk menempati pondokan di lantai bawah, sementara jemaah yang berusia lanjut terpaksa tinggal di kamar lantai atas. Para petugas kali ini dituntut memberikan pengertian kepada jemaah yang berusia muda untuk mengalah.

Tinggal di pemondokan Madinah relatif lebih bagus dan longgar ruangannya dibandingkan dengan di Mekah. Tentu saja, satu kamar yang dihuni 5 sampai 10 orang tidak senyaman tinggal di rumah sendiri, meskipun bangunan pondokan tersebut setara dengan hotel berbintang. Kondisi pemondokan dapat menyebabkan jemaah bertengkar.

Soal antre menggunakan WC, memasak yang cocok untuk semua jemaah sekamar, pengaturan jam tidur dan tempat tidur, waktu berangkat ibadah ke Masjidilharam dan sebagainya sepertu kelihatan sepele. Namun demikian, banyak jemaah yang menjadikan masalah remeh temeh ini menjadi pemicu adu mulut.

Maka tidak heran kalau tiba-tiba kita baru tahu ada pasangan suami istri yang tidak melakukan tegur sapa lebih dari seminggu. Suami kadang ingin langsung pulang usai melaksanakan salat di masjid, sementara sang istri masih ingin berjalan-jalan ke toko untuk berbelanja. Kadang suami meminta bantuan membawakan barang tentengan, sementara istri yang menenteng beberapa tas menjawab dengan ketus.

Maka tidak mustahil, percekcokan pun terjadi antara suami istri, antara sesama penghuni kamar, antarkamar atau bahkan antar kloter. Tidak mustahil juga pertengkaran terjadi antara satu warga negara dengan warga negara yang lain. Peristiwa tabrakan maut di seputar Jumrah Aqabah beberapa tahun silam bermula dari tidak adanya pihak yang mengalah antara jemaah dari Afrika Selatan dengan jemaah lain dari Turki dan Pakistan.

Masalah hubungan seks antara suami dan istri kerap pula menjadi problem yang menyebabkan pasangan kehilangan keharmonisan. Melakukan hubungan intim dalam ruang terbatas yang kerap hanya disekat kain tentu tidak nyaman. Namun membiarkan suami atau istri tanpa hubungan seks menyebabkan pergaulan dalam perjalanan ini mengarah kepada konflik.

Belum lagi saat kita berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang tempat kemahnya terbatas. Saat menaikturunkan barang bawaan dari asrama ke bus atau sebaliknya, saat salat di masjid, saat berbelanja, dan semua kegiatan haji memungkinkan kita untuk stres. Apalagi kalau sampai jemaah mengalami kehilangan barang, uang, atau dokumen, atau kehilangan keluarga. Tekanan batin akan sedemikian dahsyat.

Menghadapi berbagai peristiwa seperi itu, hanya satu kata untuk menyelesaikannya, pasrah. Memasrahkan diri kepada Allah SWT. Kita harus segera berintrospeksi diri. Bukankah berhaji berarti menjadi tamu Allah? Sang Khalik tentu akan memperlakukan tamu-Nya sebagaimana tamunya bersikap. (Wakhudin/”PR”)***