Selasa, 02 November 2010

Dubutuhkan, Pengelola Negara Berjiwa Zuhud


INGIN hidup bersih, memiliki hati yang bening, dan pikiran jernih, lalu seseorang menolak menjadi pimpinan projek, apalagi kalau harus memegang uang. Sebab, kalau memegang uang, ia khawatir memanipulasi laporan dan menyisihkan uang bukan haknya untuk diri sendiri. Ia juga tidak mau menjadi politikus, baik sekadar menjadi anggota DPRD atau DPR maupun duduk di lembaga eksekutif. Sebab, kekuasaan “memaksanya” (cenderung) korup.
Orang yang bersikap seperti ini, mungkin akan tercapai keinginannya. Ia menjadi orang yang zuhud, bersih dari kotoron duniawi, dan mendapatkan kesempatan luas mengurus kepentingan akhirat. Persoalannya, apa istimewanya orang yang tidak pernah berurusan dengan uang kemudian tidak melakukan tindakan koruptif? Apa hebatnya petani yang terbiasa bekerja di ladang dan jauh dari kekuasaan tapi tidak pernah bertindak otoriter dan tidak korupsi? Tentu saja tidak ada yang aneh.
Yang istimewa adalah, pimpinan projek yang memiliki tanggung jawab atas uang dalam jumlah yang besar namun tidak tertarik mengorupsinya, walaupun memiliki kesempatan. Yang juga sangat mengagumkan adalah pemimpin yang memiliki kewenangan besar namun tidak bertindak sewenang-wenang. Ia tetap berlaku demokratis dan memberikan kesempatan kepada anak buah untuk mengembangkan kreativitasnya.
Walaupun memiliki kesempatan dan kemampuan mengambil uang bukan haknya, bahkan ia tidak perlu melakukannya, karena tinggal “menerima bersih” atas rekayasa orang lain, ia tidak mau melakukannya. Itulah yang disebut zuhud sejati.
Zuhud merupakan akhlak utama seorang Muslim, terutama saat di hadapannya terbentang kesempatan meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya, baik kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Zuhud menjadi karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Bekerja di tempat yang krusial tak ubahnya seperti perang. Kemenangan yang sejati bukan diukur apakah seseorang berhasil memperebutkan projek dan mendapatkan keuntungan pribadi yang besar dengan cara apa pun. Kemenangan yang hakiki adalah melaksanakan projek dengan capaian terbaik. Kekalahan adalah melaksanakan projek dengan seadanya namun mendapatkan keuntungan yang maksilam, apalagi kalau dikerjakan dengan penuh manipulasi. Meninggalkan pekerjaan itu sama dengan meninggalkan peperangan.
Mendapatkan keuntungan maksimal sesuai dengan kontribusi yang diberikan dalam projek tersebut adalah halal. Kalau kontribusi seseorang begitu besar, layaklah ia mendapatkan keuntungan yang besar. Namun jika kontribusinya terlalu kecil dan mendapatkan keuntungan yang besar, sesungguhnya ada kezaliman, meskipun mungkin secara hukum termasuk legal. Yang pasti, zuhud mengajarkan proporsionalitas. Pekerja keras mendapatkan keuntungan yang besar, pemalas mendapat bagiannya yang paling buncit.
Zuhud model terakhir dalam perspektif spiritual Jawa disebut tapa ngrame, bertapa di dalam keramaian. Lazimnya, orang yang bertapa melakukan khalwat, bersepi-sepi sendiri di tengah hutan, di dalam gua, atau di atas gunung. Sedangkan bertapa di tempat ramai adalah ia melakukan apa pun yang berguna bagi orang lain di tempat keramaian. Bahkan kalau perlu, ia mencari orang yang mau ditolongnya. Ekstremnya, walaupun tinggal di komunitas setan, ia tetap beragama dan menjunjung tinggi kebersihan jiwa.
Meski demikian, ia tidak mengharap pamrih apa pun. Ia boleh saja menerima upah, tapi tidak berlebihan apalagi melampaui kemampuan yang dapat ia lakukan. Tapa ngrame berarti bertapa mencari keutamaan diri dengan bergaul di tengah masyarakat banyak tanpa terpengaruh oleh hitamnya kehidupan duniawi.
Zuhud merupakan ajaran Islam, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, “Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu.”
Alquran juga memerintahkan manusia untuk bertindak zuhud. Meskipun tidak secara eksklusif menyebutnya, perhatikan Alquran Surat Al-Hadid ayat 20 s.d. 23 yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan yang melalaikan. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Maka, umat Islam diminta berlomba-lombalah mendapatkan ampunan dari Allah dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi, bukan memperebutkan dunia.
Alangkah produktifnya negeri ini jika kaum zuhud mendapatkan amanat mengurus kepentingan publik. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan umat dengan tidak mengharapkan keuntungan berlebih selain mencari rida Allah SWT. Tipe sumber daya manusia model ini dapat menggantikan tipe manusia yang lebih suka akal-akalan, semisal mencari sisa lebih dari perjalanan ke Yunani untuk belajar etika. Bagaimana mungkin mereka meraih cita-cita mendapatkan pelajaran etika kalau dilakukan secara tidak etis.
Dalam dunia hukum, polisi, jaksa, dan hakim akan bekerja proporsional. Yang salah pasti mendapatkan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya, siapa pun yang melakukannya. Yang benar mendapatkan haknya memperoleh perlindungan dan nama baik. SDM zuhud seperti ini dapat mengganti aparat yang menuhankan materi. Siapa pun yang mampu membayar lebih akan mendapatkan perlindungan hukum. Sebaliknya, siapa pun yang berurusan dengan hukum dan tidak mamiliki modal untuk menyuap akan mendapatkan hukuman, meskipun belum tentu melakukannya.
Pejabat eksekutif yang zuhud akan memprioritaskan menolong warga negaranya yang sedang tercekik oleh bencana sampai tuntas. Ia akan mengabaikan seluruh kepentingan diri dan citranya. Pribadi seperti Mbah Maridjan adalah tipe pejabat eksekutif zuhud yang bisa diteladani. Meskipun mendapatkan gaji Rp 81.000 setiap bulan sebagai penjaga gunung, ia melaksanakan tugasnya hingga tuntas. Ia tidak meninggalkan tugasnya, apa pun yang terjadi, meskipun nyawa taruhannya.
Mbah Maridjan adalah tipe “pejabat eksekutif” yang tidak silau oleh harta dan kehidupan dunia. Ia bangga kalau mampu melaksanakan tugas dengan sempurna. Ia tidak pernah meninggalkan gelanggang, meskipun tinggal seorang. Ia bangga selalu mengenakan peci, baju batik, dan kain sarung, khas Indonesia.
Jika Indonesia ingin menjadi negara yang jaya di masa mendatang, pribadi zuhud harus mengganti pejabat yang hanya sibuk dan asyik maksyuk mengurus “investor” yang membantunya modal memenangi pemilu.
Rakyat yang zuhud selalu memimpikan negara yang makmur. Mereka tidak sekadar membuat keputusan untuk diri sendiri, namun juga memberi yang terbaik bagi bangsanya. Mereka akan memilih para pemimpinnya yang dapat dipercaya, menggantinya dengan pejabat yang zuhud, bukan para petualang yang menghamburkan devisa.
Kehidupan zuhud itulah yang dilakukan kaum sufi. Dalam perspektif modern, di era serbadigital, kaum sufi tidak hanya berkhalwat, tapi juga bisa berkiprah di dunia yang serba tak beretika. Imam Ghazali pun mengatakan, kaum sufi melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik. Akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi.
Dalam konteks inilah, seminar internasional tentang tasauf sebagai opsi utama untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lilalamin yang diselenggarakan Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat untuk memperingati ulang tahun ke-105 pesantren tersebut mendapatkan relevansinya.
Indonesia yang terus mengalami degradasi di berbagai bidang pada hakikatnya bertolak dari kekekoposan moral. Obatnya adalah spiritualitas gaya zuhud dan kaum sufi itu. Karena, sebagaimana dikemukakan Imam Al-Ghazali, tasauf bisa mengobati penyakit hati itu. Tasauf berkonsentrasi pada tiga hal. Pertama, mereka selalu melakukan kontrol diri, melakuka muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah) dan muhasabah (introspeksi). Kedua, kaum sufi juga selalu berzikir, mengingat Allah SWT di mana pun. Ketiga, kaum sufi menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur, sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. (Wakhudin/”PR”)***

Minggu, 24 Oktober 2010

Western World Crisis


The war that lasted nearly ten years and even tend to embarrass the U.S. and the West in general.


THESIS Samuel Huntington about the clash of civilization (civilization clash), consciously or unconsciously, has plunged the West into the abyss of previously unimaginable crisis. In the 1990s, when the Soviet Union disintegrated and collapsed, the United States to be a winner and became the only super power country. But because it was won, the U.S. became jumawa. He was like feeling "lonely" and searched for the enemy. That's when Samuel Huntington's book appeared titled Clash of Civilization (1993) which states will be the clash between six or seven world civilizations, namely Western, Islamic, Confucian, Hindu, African, and Latin America. The most probable clash into a hot fire point is the conflict between Western civilization and Islam.
Huntington was a scholar from Harvard University who made the analysis. Yet this is precisely the analysis steps followed by U.S. President George W. Bush with an attack against Afghanistan (2001) subsequent invasion of Iraq (2003). That is why, increasingly harsh criticism directed at Huntington to call it a provocateur. Rare United States as a leader when it followed throughout the West in Muslim countries invaded. Although West did not recognize that their step as the fruit of inspiration from Huntington, but in fact, almost every step taken no single step out of the thesis.
Regardless of whether the collapse of World Trade Center (WTC) in Washington from a terrorist attack led by Osama bin Laden as a step or a Western conspiracy, which would cause the event the U.S. has a "ticket" to attack any country desired. By cooperating with allies who are members of the North Atlantic Treaty Organization (NATO), American troop overthrow the Taliban-led Afghanistan. Lapse of two years later, the same power undermine the Iraqi government led by Saddam Hussein.
Logically, the U.S. and its allies will win this battle very easily. Because, the U.S. is the country's largest and sole super power, plus all the allied countries in the European Union, Asia and even Australia. Indeed, the Taliban government in Afghanistan and Saddam Hussein in Iraq collapsed. However, the war could not be quits in quick time. The war that lasted nearly ten years and even tend to embarrass the U.S. and the West in general.
NATO forces did manage to kill tens of thousands of Afghan people suspected Taliban members and suspected of killing the Iraqi people become followers of Saddam Hussein. But many victims of the Afghan people and the Iraqi insurgents do not discourage resistance against this occupation army. When the U.S. is more focused to do battle in Iraq, while it also fought persistent insurgents. As one grows a thousand dead. Although a lot of casualties, but the Muslim guerrillas can hit back the U.S. and its allies with weapons of a simple rocket.
However, throughout the war in Iraq, 5,000 U.S. troops and allies were killed in the Country A Thousand and One night, and more than 3,000 people of Western soldiers killed in Afghanistan. Even in the last month, 45 NATO soldiers killed in Afghanistan. So the U.S. blamed Iraq's neighbors, Iran. Bush and his successor Barack Obama accused Iran of being behind the Iraqi people's resistance against the occupation of the West. Iranian President Mahmoud Ahmadinejad never admit it, but he was always in a loud voice against Western hegemony in the Muslim world. So many sentences designed the U.S. and its allies through the United Nations (UN). Instead of effective sanctions, the U.S. and its allies even more cornered. Instead, Ahmadinejad's name more popular in the Muslim world.
U.S. and NATO also blamed Pakistan border allegedly used to hide al Qaeda and Taliban forces. That is why, the U.S. repeatedly attacked Pakistan using unmanned aircraft. In fact, this attack had killed Pakistani forces. And the Pakistan-US relations had chills, so that the supply of accommodation from Pakistan into Afghanistan had faltered. Even hundreds of tanks carrying fuel for NATO forces sabotaged the Taliban.
Internal factors also affect Western society alotnya U.S. victory in the war in Afghanistan and Iraq. U.S. propaganda about the war against terrorism associated with Islamic radicalism would lead to Western societies that have curious (curiousity) became curious about Islam. That is why, they were a lot of studying the Koran and Islamic teachings. Most Western societies were later converted to Islam. Even some West season went into battle in Iraq and Afghan troops against their own country.
Various factors that cause the West never won a war, even a crisis that was finally trapped unclear when the recovery. A number of countries have been allies to leave Iraq and Afghanistan. U.S. and some EU countries that still survive the world crisis. Surviving the war will cost a very large, with the absurd victory. So the best, the West better flag of peace, than war .***

Documents on Wikileaks


Perhaps, the West does not know the theory of "kuwalat", but Wikileaks has taught them the concept.

FREEDOM West introduced to the world as long as it actually is an absurd concept. Therefore, the freedoms that are not clear directions. Freedom means freedom to do anything. Free to do good, but also free to do bad. Freedom is without these limits in turn can destroy liberty itself. That is why Western society and then restrict that freedom with the deal. Free society to do anything, provided it be agreed. Instead, they do not do something, because it agreed not to do. The rest, they are free to do or leave.
Because they interpret the concept of freedom thus, this time freedom that they agree to eat his master. On behalf of freedom, the site Wikileaks, 22 October, again reveal the secret U.S. military documents that contain army action during the war in Iraq. No fewer than 391,832 logs or notes during the war January 1, 2004 until December 31, 2009 was released to the public. Previously, documents about the war in Afghanistan also released a site that is based in Sweden. The leak was the biggest in U.S. military history and the West.
Could not help, a number of Western governments were inflamed. America and Britain, for example, condemned the publication of this confidential document. Minister of Foreign Affairs of the United States Hillary Clinton and Secretary of Defense England states, publishing it only makes the lives of people threatened. Pentagon spokesman tried to annul the problem by saying that the document was only a crude observation of a number of tactical units of the contents of tragic events and regular footage. But they acknowledge that the spread of this document as a tragedy which helped the Western enemy.
Western governments could persuade Julian Assange, founder of Wikileaks is to undo the secret documents aired Western war in Afghanistan and Iraq. But in the name of freedom, Assange not get banned. In fact, Assange was bullied by her arrest for alleged rape in the past. However, the Attorney General in Sweden and then abandoned it, because there is no evidence that Assange rape.
Freedom of the West introduced during this applied double standards. Freedom is no more understood as freedom to support their ambitions and interests. Anyone who does not support them, let alone hinder their ambitions, then the person, institution, or country stigmated as terrorists, axis of evil, axis of evil, and so forth. In fact, refers to their concept of freedom, anyone may think and do anything. But in reality, no one, especially state institutions and may inhibit the West do hegemonic ambitions throughout the world.
Unfortunately, the delivery of secret U.S. war and its allies comes as their war position worse off, both in Iraq and in Afghanistan. Although they have killed tens of thousands, maybe even hundreds of thousands of Iraqis and Afghans who claimed to be the enemy, but in fact the occupying forces also continued to experience Nahas. A super-sophisticated war equipment plus war tactics and strategies involving all coalition partners from around the world, was not able to paralyze the resistance forces. Instead, it continues to haunt the Muslim guerrillas occupying army, so one by one coalition troops retreated from the battlefield.
Demolition scandal of human rights violations committed Wikileaks further weaken the U.S. position and its allies in the two-stage war. At least, the world's eyes and glared at getting to know what actually happened in the war in Iraq and Afghanistan. So secured, support the world community against the Western war in two countries will further decline. On the contrary, the U.S. image and its allies will be a month thereafter.
In addition, the tactics and strategy of the United States and Afghanistan will be more easily monitored by the guerrilla forces. Thus, anyone who is considered involved in the tragedy of war in Iraq and Afghanistan will be hunted enemy to be held accountable. Unfavorable position for the U.S. and its allies is certainly not going to be wasted by troops guerrillas to free his country from the occupying army. Even if U.S. forces joined with allies in NATO will remain at two points in the battle, they will lose control. In contrast, guerrilla forces who are Iraqi natives and citizens of Afghanistan can soon take over the reins loose it.
Serving secret documents on Wikileaks and prove that the correction of the error was coming from the Western world of their own. Assange originating Scandinavian nation by a landslide correcting their arrogance by the West itself, freedom. While Eastern nation that became the object of Western hegemony only confirms the theory that the Indonesian people called kuwalat. West might not recognize kuwalat theory, but Wikileaks has taught them the concept. That whoever is doing good will get good, otherwise who do evil will reap similar ugliness. So, if the West wants to reap goodness, let's sit together West and East stands at a low and high .***

Selasa, 06 Juli 2010

Bermimpi Memiliki Pesantren Bola


Oleh H. WAKHUDIN

MASYARAKAT dunia berpesta bola di Afrika Selatan, Juni-Juli 2010. Pemenang berpesta pora, yang kalah menangis. Tapi aneh bagi bangsaIndonesia, siapa pun pemenangnya, dia ikut berpesta. Itulah sebabnya kafe dan berbagai tempat nonton ramai dikunjungi penggila si kulit bundar.
Maklum, Indonesia tidak pernah mengirimkan timnya ke pentas bola dunia. Jangankan masuk piala dunia, bahkan mewakili Asia, atau ASEAN pun tidak. Karena hanya menonton, maka bangsa ini ikut bersorak siapa pun yang menang. Bahkan banyak orang yang latah ikut mengenakan kausseragam kesebelasan tertentu.
Mengapa bangsa Indonesia senantiasa menjadi penonton dan menjadi objek? Padahal penduduk negeri ini begitu banyak, mencapai 240 juta orang. Apakah tidak ada11 orang ditambah beberapa orang lagi sebagai cadangan yang piawai bermain bola? Inilah ironi betapa terpuruknya pengelolaan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Memang ada anggapan bahwa kemajuan sepak bola suatu bangsa banyak ditentukan oleh kemajuan ekonomi suatu negara. Maka, bangsa-bangsa di Eropa yang secara ekonomi lebih baik, mendominasi sebagai negara peserta Piala Dunia terbanyak. Bahkan, Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, dan negara Eropa lainnya selalu menjadi peserta favorit, di samping Brazil dan Argentina, dan Paraguai dari Amerika Latin. Sementara Indonesia yang ekonominya tak kunjung bangkit dengan sendirinya tidak memiliki harapan memiliki pesepak bola andal. Benarkah demikian? Jawabannya tergantung kita, bisa ya bisa tidak. Kalau tak pernah usaha, maka keberhasilan itu tidak akan pernah ada. Sebaliknya, kalau kita berjuang keras, insya Allah kita akan memilikinya.
Kalau begitu, apakah bangsa Indonesia mungkin mengirimkan timnya ke Piala Dunia? Persoalan dunia, apa yang tidak mungkin? Menurut saya, Indonesia mungkin mengirimkan timnya ke Piala Dunia, bahkan harus menjadi pemenang. Bisa gitu? Kenapa tidak? Caranya, Indonesia harus membuat pesantren bola. Hah? Apa pula itu pesantren bola?
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat terkenal di Indonesia. Lembaga pendidikan ini mengajarkan santrinya selama 24 jam. Tak hanya mengajarkan kecerdasan otak, tapi juga mengajarkan moral, perilaku, dan nilai. Pendeknya, mengambil istilah Bloom, pesantren mengajarkan ranah kognitif (kecerdasan), afektif (nilai moral), dan
psikomotorik (gerak).
Suasana pesantren memungkinkan tersedianya SDM yang qualified untuk bermain bola. Bayangkan, kalau ada pesantren bola, maka pagi setelah subuh,santri wajib lari pagi atau latihan fisik. Setelah sarapan dan mandi, siswa belajar berbagai ilmu tentang bola secara teoretik.
Inilah yang jarang dipelajari oleh pemain bola di Indonesia, mereka jago bermain bola, tapi tidak memiliki ilmunya secara mendalam. Setelah salat zuhur dan makan, santri bisa beristirahat sampai salat asar. Setelah salat asar, santri kembali ke lapangan untuk belajar teknik dan taktik. Sesekali santri bertanding antar kelas.
Setelah salat magrib, santri bola harus belajar agama. Pelajaran ini penting untuk memompa semangat,ghirah, bahkan untuk membimbing kedisiplinan santri. Pelajaran yang bersifat afektif ini dimaksudkan untuk membentuk karakter santri sehingga membentuk jiwa ksatria, sportif, jujur, terbebas dari sikap jahil, kasar, dan sikap jahat
lainnya.
Setelah salat Isya dan makan malam, santri diajak masuk gedung bioskop khusus yang menayangkan berbagai pertandingan kelas dunia. Setelah menonton film, santri dan kiai kemudian berdiskusi tentang tayangan yang mereka tonton.
Jika dalam sehari semalam santri disiapkan secara afektif, kognitif dan psikomotorik, maka sangat memungkinkan terciptanya SDM yang andal dalam bermain bola. Jika santri dimulai dari SD, maka tidak mustahil, begitu lulus, para santrinya mampu melawan klub profesional Indonesia seperti PSIS Semarang, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, AremaMalang, dan sebagainya.
Begitu tamat SMP, sangat memungkinkan bagi mereka untuk tampil di ajang pertandingan tingkat nasional. Baru kalau tamat SMA, mereka siap bertanding di ajang internasional sampai dengan usia mereka mencapai 30-an tahun.
Sejak masuk pesantren ini, santri mestinya dibebaskan dari berbagai biaya. Pemerintah mestinya membiayai seluruh operasional pesantren bola ini. Kalau tidak, klub tertentu bisa membiayainya. Daripada membayar pemain asing yang tidak juga memenangkan klubnya, mengapa uangnya tidak digunakan untuk kaderisasi?
Santri harus mendapatkan makanan dan minuman yang cukup dan bergizi. Sebab, untuk menunjang pertumbuhan fisik yang bagus harus ditunjang oleh makanan yang cukup dan berimbang. Dengan makanan dan gizi yang cukup, maka tulang, otot, dan seluruh fisik yang sangat diperlukan dalam permainan bola akan berkembang dengan pesat dan baik.
Dengan pesantren bola, memungkinkan bangsa Indonesia tidak melulu menjadi penonton, tapi tidak mustahil menjadi pemain di ajang internasional. Kapan mulai? (Penulis wartawan HU Pikiran Rakyat Bandung, alumni Pondok Pesantren Madrasah
Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, Banyumas, 1983)***

Minggu, 20 Juni 2010

Menangkal Pornografi dengan Media Literasi


Oleh H. WAKHUDIN

ADEGAN seks dalam film antara orang mirip Ariel "Peterpan" serta wanita mirip Luna Maya dan Cut Tari, merupakan anak kandung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi. Melalui media, informasi yang masuk kepada masyarakat sangat dahsyat, sehingga kekuatan pengaruhnya melebihi pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak, atau pendidikan yang dilakukan guru kepada siswanya, atau pengaruh ustaz di musala atau masjid kepada para santrinya.

Semakin populernya telefon seluler yang dapat merekam gambar, justru digunakan untuk merekam berbagai macam adegan seks, ketelanjangan, dan segala macam kegiatan tak senonoh lainnya. Dalam waktu lima tahun setelah munculnya VCD "Bandung Lautan Asmara", beredar lebih dari lima ratus film porno amatiran (Sony Set, 2007). Setiap hari, minimal dua film porno lokal baru diunggah ke internet. Sebagian besar dibuat menggunakan handphone berkamera dalam durasi yang singkat (kurang dari 10 menit). Cuplikan video porno tadi dikonversi menjadi file berukuran kecil, yang tersebar di handphone dan pemutar film mini (MP4 player) yang harganya semakin murah. Set (2007: 10) juga mengungkapkan, sembilan puluh persen pelaku dan pembuat film video porno amatiran tersebut adalah pelajar dan mahasiswa.

Persoalannya, bagaimana agar bangsa Indonesia bisa selamat agar tidak tenggelam dalam arus informasi yang kontraproduktif, semacam pornografi itu? Sebaliknya, informasi yang melimpah di dalam media tersebut justru menjadikan bangsa ini semakin bernilai dan bahkan memberikan nilai tambah?

Setidaknya ada tiga pilihan. Pertama, pemerintah membebaskan rakyatnya untuk mengakses media seluas-luasnya. Silakan masyarakat mengonsumsi informasi apa pun, dari mulai persoalan yang baik, hingga persoalan yang selama ini termasuk tabu. Cepat atau lambat, pada gilirannya, masyarakat akan jenuh dengan sendirinya. Pilihan ini tentu sarat risiko. Sebelum masyarakat mencapai tingkat jenuh dan membutuhkan informasi yang berguna, mereka telah tersesat ke arah yang tak terbayang jauhnya. Oleh karena itu, pilihan ini sangat riskan, mengancam kesatuan dan persatuan bangsa, bahkan dapat menghancurkan bangsa dan negara Indonesia.

Pilihan kedua, pemerintah memberlakukan sensor total. Pemerintah bisa menggunakan wewenang yang dimiliki memilihkan informasi yang bermanfaat untuk rakyat, dan mengendalikan informasi yang dinilai tidak baik mereka. Pemerintah bisa memblokir pada tingkat masyarakat, tingkat institusi/perkantoran, dan tingkat internet service providers (ISP). Metode bisa dilakukan menggunakan piranti lunak software filter.

Meski demikian, menurut para pakar teknologi informasi, jika langkah sensor seperti itu dilakukan, pemilik situs porno Indonesia dapat menutup "warungnya", tetapi mereka mengganti alamat kontak di data whois kepemilikan domain ke nama orang lain atau sekalian diubah ke mode privacy protect yang disediakan di kontrol domain. Dengan privacy protect, siapa pun tak akan tahu pemilik domain itu. Dari sisi hosting (kapasitas server untuk meletakkan data atau file website) mereka dengan singkat (hanya hitungan menit) bisa memindahkan ke hosting luar negeri yang lebih aman.

Pakar teknologi informasi Onno W. Purbo (2003) mengemukakan, undang-undang yang dikeluarkan berasumsi pemerintah Indonesia superpower dan serbabisa. Yang terjadi di lapangan, pemerintah lebih sering bermain power (bedil dan kekuasaan) daripada memberdayakan rakyat serta memfasilitasi pembangunan untuk kemajuan rakyat. Ini yang terjadi di dunia internet.

Pendeknya, teknologi informasi kini sedemikian berpengaruh, dan tidak mustahil dapat menjadi tuhan baru (thaghut) sehingga pada gilirannya masyarakat menyembah selera dan nafsu. Masyarakat akan berubah secara drastis menjadi masyarakat yang hedonistis, ingin senantiasa bersenang-senang, pendek akal, sangat mencintai dunia dan takut mati (wahn). Sementara arus informasi tidak dapat dibendung lagi karena sedemikian deras bagaikan air laut yang menerjang daratan seperti tsunami.

Maka, alternatif ketiga merupakan pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia. Membendung derasnya arus informasi media itu bukan dengan cara menghentikan informasi media tersebut, melainkan justru membuat masyarakat semakin melek media (literasi media). Model pembelajaran literasi media menawarkan berbagai keterampilan proses, dari mulai bagaimana mengakses media, menganalisis media, mengevaluasi, bahkan sampai menciptakan media. Dengan pembelajaran literasi media, masyarakat tidak diasingkan dari media, melainkan justru dilibatkan sekaligus ke dalamnya.

Orang yang melek media mampu memanfaatkan teknologi informasi secara positif, dan mampu menghindari penggunaan teknologi untuk kepentingan yang kontraproduktif. Keterampilan menggunakan teknologi untuk kebajikan dan menolak keburukan bukan atas dasar pemaksaan, melainkan tumbuh dari dalam diri sendiri melalui berbagai pelatihan literasi media. Dengan literasi media, pengetahuan dan keterampilan masyarakat ditingkatkan, tidak hanya pasif menerima apa pun yang disajikan media, melainkan mereka mampu menganalisis arus informasi yang masuk, sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan kritis terhadap media. Bahkan suatu waktu, generasi baru bangsa Indonesia diharapkan mampu menciptakan media sendiri yang menjadi alternatif dari media yang dinilai tidak sehat dan kontraproduktif.

Pembelajaran literasi media ini disarankan dilakukan setiap orang tua kepada putra dan putrinya yang mulai berminat terhadap komputer dan mulai mengakses internet. Awal mengakses internet merupakan masa yang amat penting. Jangan biarkan anak yang secara dini membuka internet melakukan trial and error, melainkan langsung diarahkan untuk belajar literasi media sehingga anak dapat memanfaatkan internet untuk kepentingan masa depannya yang lebih gemilang.

Pembelajaran multimedia ini juga dapat dilakukan dalam lembaga pendidikan formal dan nonformal. Pelajaran internet yang bernilai ini dapat dilakukan dalam pelajaran ekstrakurikuler atau masuk ke dalam mata pelajaran berinternet yang reguler. Setiap pendidikan internet yang bernilai ini dapat disusun kurikulumnya secara lebih rinci.***

Penulis, wartawan HU "Pikiran Rakyat" Bandung, doktor bidang pendidikan nilai.

Jumat, 11 Juni 2010

Setiap Lelaki Ingin Seperti Ariel

SETIAP lelaki mungkin akan berbuat seperti yang dilakukan Ariel Peterpan, jika mereka memiliki wajah keren, banyak uang, tenar, dan jadi rebutan cewek. Jika kabar yang diberitakan media benar, bahwa Ariel melakukan hubungan seks dengan 32 selebritis, maka lelaki lain yang memiliki peluang sama juga akan melakukan perbuatan yang tak berbeda. Simaklah kisah para raja, biasanya mereka memiliki istri ditambah para selir yang jumlahnya puluhan. Coba baca pula kisah Tiger Wood, pegolf yang ganteng dan kaya raya, juga melakukan hal yang sama “menikmati kehidupan” secara maksimal sehingga ia berselingkuh dengan puluhan wanita yang memujanya.
Mengapa Ariel, Tiger Wood, para raja, juga lelaki pada umumnya suka melakukan seperti itu? Itulah fitrah manusia, itulah laki-laki. Merekalah pria sejati yang memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya secara optimal. Ini pula yang membedakan laki-laki dari wanita. Laki-laki memiliki cinta ganda, sedangkan wanita hanya memiliki cinta tunggal. Pria cenderung mampu mencintai lebih dari satu, dua, tiga, bahkan puluhan wanita, tanpa sedikit pun berkurang rasa cintanya kepada kekasih utamanya atau kepada permaisuri (istri padma). Sebaliknya, wanita cenderung hanya memiliki satu cinta. Cewek akan mencintai sepenuh hati pria yang diidam-idamkannya. Dan dia akan menolak pria lain yang gagah perkasa, kaya raya, baik hati, atau seperti apa pun, jika dia mencintai pria itu. Ketika wanita mencintai seorang pria, dia tidak bisa mencintai lelaki lain. Saat seorang istri berselingkuh, maka dia biasanya malah membenci suaminya.
Pendeknya, lelaki memiliki cinta lebih dari 400%, sehingga ia mampu mencintai wanita sepenuh hati, tanpa sedikit pun mengurangi cintanya kepada wanita lain. Sementara seorang perempuan hanya memiliki cinta 100%. Seorang wanita ketika tidak lagi mencitai seorang pria, dia akan mencabut rasa cintanya kepada pria itu, namun sering tidak mampu melakukannya, sehingga dia kerap mencintai suaminya yang baru tanpa sepenuh hati. Meskipun tanpa rasa cinta, wanita bisa melayani pria lain, karena mereka memiliki potensi baik hati, lembut, dan cenderung melayani. Meskipun melayani hubungan seksual, bukan berarti wanita itu sepenuh hati mencintai lelaki yang dilayaninya.
Kembali ke kasus Ariel, maka hanya lelaki yang berpegang kepada nilai moral dan agama yang mampu menahan diri untuk tidak mengumbar kelelakiannya sepeti yang diinginkan. Karena berpegang kepada normalah, seseorang mampu menahan diri untuk tidak mengumbar cintanya kepada setiap wanita yang menginginkannya. Nabi Yusuf a.s. sesungguhnya menyukai dan mencintai Zulaikha yang cantik, muda, mulia, dan menginginkannya. Tapi, Yusuf menolaknya, karena agama melarangnya berzina. Baru ketika tidak punya ikatan pernikahan dengan Raja Mesir, Yusuf menikahi Zulaikha itu. Semakin taat seseorang kepada agama dan norma, maka semakin mampu seseorang menahan diri dari nafsu yang alami dan lelakiwi.
Lalu mengapa begitu banyak wanita yang menyukai Ariel, bahkan wanita yang sudah menikah sekalipun? Sabda Rasulullah, “Kecantikan laki-laki terlihat dari kepintarannya, sementara kecerdasan perempuan terlihat dari kecantikannya.” Laki-laki akan terlihat cakep, jika dia pinter. Pinter otaknya, pinter menyanyi, pinter cari uang, dan tentu pinter merayu. Sebaliknya, meskipun perempuan tidak cerdas dan tidak pintar, jika cantik, maka di mata laki-laki akan terlihat pintar dan cerdas. Melihat Ariel yang banyak uang, tenar, dan terlihat bersih, maka wanita pun memujanya. Meskipun tahu banyak wanita yang mengejar-ngejarnya, jika wanita mampu menyampaikan rasa hatinya, apa lagi sampai mampu mempersembahkan yang terbaik pada dirinya, maka dia akan melakukannya.
Lalu mengapa hubungan seksual harus direkam dan diperlihatkan di depan umum melalui internet? Jika Ariel mampu melakukan hubungan seksual dengan wanita tenar sampai berjumlah 32 orang hanya diceritakan, siapa yang percaya. Paling dikatain, “Membual lho?!” Maka ada keinginan dalam hati kecilnya untuk membuktikan bahwa ia tidaklah membuat, tapi memiliki bukti. Bahwa bukti itu hilang, dicuri orang, atau sengaja “dilepas ke pasar”, itu urusan lain. Polisi memungkinkan melakukan pelacakan.
Yang pasti, internet merupakan miniatur dunia. Pertanyaaan apa pun akan dijawab dengan segera, dari mulai pertanyaan keagamaan, ilmiah, sampai masalah yang melanggar etika dan susila. Masya¬rakat awam menyebutnya, internet memuat dari mulai masalah sajadah hingga yang haram jadah. Dalam soal pornografi, internet merupakan “mucikari” sekaligus “pelacur” yang paling lengkap yang menjajakan wanita dan pria sekaligus, dari mulai anak-anak hingga kakek-kakek dan nenek-nenek.
Internet menampilkan ketelanjangan yang mungkin tidak terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Di dalam internet, tidak ada lagi rahasia, semua yang sebelumnya menjadi ditutupi dan disembunyikan, dibeberkan segamblang mungkin, dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Maka siapa pun yang masuk ke dalam internet dengan bertelanjang, semua orang dapat menyaksikannya. Bahkan adegan ketelanjangan tersebut dapat diunduh serta dipublikasikan di dalam media massa, baik cetak mau¬pun elektronik. Kasus sejumlah anggota DPR yang bertelanjang dan berselingkuh adalah contoh betapa internet dapat memuat apa pun yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.
Ada beberapa model situs porno. Pertama menampilkan kisah persenggamaan dan ketelanjangan. Situs ini memuat teks yang secara eksplisit menyebutkan semua jenis pornografi dan ketelanjangan tanpa memperhatikan kesantunan yang tumbuh dalam masyarakat. Kedua, situs yang menampilkan gambar ketelanjangan dan persenggamaan. Gambar yang ditampilkan bisa berupa ketelanjangan setengah badan atau soft core ketelanjangan yang vulgar atau hard core. Ketiga, situs porno yang menampilkan video ketelanjangan dan persenggamaan, baik yang soft core maupun yang hard core. Ketiga situs porno yang menampilkan gambar dan animasi tentang ketelanjangan dan pornografi. Satu situs kadang hanya menampilkan satu jenis pornografi, na¬mun sebagian menampilkan semuanya. Audiens memilih jenis pornografi sesuai nafsunya.
Mengakses pornografi, apalagi mengunduh dan mengunggahnya meru¬pakan aktivitas yang tidak bernilai. Sebab, pornografi merupakan pintu le¬bar yang mengantar manusia terjerumus ke dalam penyimpangan seks, misalnya pelecehan seksual, seks bebas, homoseks, sodomi, selingkuh dan pemerkosaan. Pendukung pornografi, adalah orang yang men¬jadi sosok yang memengaruhi keberadaan dan perkembangan porno¬gra¬fi. Mereka mengemas pornografi dengan estetika dan seni.
Mengakses ketelanjangan melalui internet dengan tujuan studi, sementara waktu, dapat ditoleransi sebagai aktivitas yang bernilai. Demikian juga aktivitas wartawan yang mengakses dan mengunduh pornografi untuk kepentingan publikasi dan bukti pemberitaan. Aktivitas ilmiah seperti untuk kepentingan kedokteran, ketelanjangan menjadi sesuatu yang lazim. Namun aktivitas berinternet yang berkaitan dengan ketelanjangan dan pornografi, meskipun sekadar iseng ter¬masuk aktivitas yang tidak bernilai. (Wakhudin)***

Kamis, 10 Juni 2010

Entertainmen Menjadi Panglima


KETIKA Presiden Soekarno berkuasa, politik menjadi panglima. Dengan gerakan politik, Indonesia bisa merdeka. Sebagai negara yang baru terbebas dari penjajahan, Bung Karno membangun infrastruktur politik sebagai landasan pijak kehidupan berbangsa dan bertanah air. Saat Presiden Soeharto berkuasa, Orde Baru menjadikan pembangunan sebagai panglima. Maka, terjadilah depolitisasi. Partai politik direduksi hanya menjadi tiga parpol --Golkar, Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kegiatan politik, apalagi politik praktis, berkonotasi negatif. Hanya aktivitas yang diberi judul “pembangunan” yang bisa dijalankan. Maka, Pak Harto kemudian dijuluki “Bapak Pembangunan”. Pada era Reformasi sekarang ini, lalu apa yang menjadi panglima?
Entertainmen menjadi panglima pada era globalisasi ini. Hiburan merupakan inti dari berbagai aktivitas masyarakat sepanjang dua puluh empat jam. Lihatlah generasi muda dan juga generasi tua berbondong-bondong menyaksikan musik yang ditayangkan secara live oleh televisi. Subuh sekalipun, penonton musik selalu padat, siang hari juga ramai, malam hari tetap gegap gempita. Orang yang berduka lari ke musik, sedih mencari musik, senang diekspresikan dengan musik, kegiatan ilmiah dicampur dengan musik, bahkan berdakwah pun dibumbui musik. Musik menjadi semacam tuhan baru (thaghut) yang dianggap mampu menyelesaikan berbagai masalah.
Lawak menjadi bumbu utama aktivitas manusia Indonesia. Kegiatan tanpa bodor dianggap hambar. Bahkan ceramah agama tanpa tertawa dianggap tidak punya daya tarik. Guru dan dosen yang lucu dianggap sebagai pendidik favorit dan terbaik. Sebaliknya, para pengajar yang tekun dan konsentrasi hanya pada mata pelajaran atau mata kuliah disebut guru atau dosen killer dan zakelijk. Jangan tanya menu di televisi, semua berlomba menampilkan tawa dan canda sebagai menu utama. Progarm TV yang banyak mengundang tawa, semakin tinggi rating-nya. Sebaliknya, acara yang bermaksud memikirkan bangsa dan negara, jika tak dibumbui canda, disebut kaku dan tak menarik. Cukup dengan sekali pencet remote, tayangan TV sudah kembali ke acara tertawa dan musik. Maka, host yang dianggap lucu sangat laris. Waria menjadi pembawa acara favorit, sehingga menu pagi dibawakan oleh bencong, siang banci, dan malam pria yang kemayu.
Bacalah secara seksama profil setiap anggota situs pertemanan di internet. Mereka sebagian tidak mencantumkan pandangan politiknya. Setiap ditanya soal politik, mereka menyebutkan kalimat yang menunjukkan ketidaksukaan pada bidang ini. Misalnya, “No comment, Golput, Au ah... Gelap, dan sebagainya.” Tapi coba simak jawaban soal musik favorit, mereka akan menyusun kalimatnya secara panjang dan lebar melebihi pekerjaan rumah yang kerap dibebankan kepada para pelajar. Mereka menuliskannya secara detail judul dan syairnya secara lengkap dari mulai musik klasik, masa kini, bahkan musik yang akan datang. Demikian juga ketika ditanya soal program televisi, mereka paham betul, bahkan hafal, acara di pagi hari, siang, sore, dan dan acara tengah malam.
Apakah salah orang yang menikmati hiburan? Bukankah mereka tidak melanggar hukum dan tidak menabrak norma? Tentu saja tidak salah, tapi kalau sepanjang hidup, seseorang hanya mencari hiburan, maka kehidupan mereka tidak normal. Logikanya, hidup ini pada intinya memecahkan persoalan. Semakin banyak problem yang bisa diselesaikan, seseorang semakin dianggap sukses. Sebaliknya, semakin sedikit problem yang bisa diselesaikan semakin, seseorang dianggap gagal. Orang yang dianggap pengangguran adalah orang yang tidak punya problem, sehingga tidak ada masalah yang harus diselesaikan. Padahal, problem dia adalah tidak punya problem itu sendiri. Di tengah-tengah seseorang memecahkan masalah, dia butuh waktu untuk refreshing, menyegarkan ruang agar mampu memiliki tenaga kembali untuk meneruskan pemecahan masalah. Persoalannya, kalau sepanjang hari hari hanya berentertainmen, kapan menyelesaikan masalahnya? Entertainmen ibarat vitamin, diperlukan, tapi tak cukup hanya vitamin, butuh makanan yang lain. (Wakhudin/”PR”)***