Sabtu, 07 Januari 2012

Ke Mana Engkau, Wahai Jurnalisme Mabrur?


Oleh H. WAKHUDIN

IDULADHA merupakan ritual yang agung. Menapaki sejarah Bapak Para Nabi, Ibrahim a.s. dan Ismail. Kaum Nasrani menyebut itu kisah Nabi Ishak. Makna di balik ritual juga begitu besar. Ada solidaritas sosial, pentingnya berbagi, pentingnya kolesterol dan lemak bagi si miskin, dan banyak makna mendalam lainnya. Dalam empat hari, jutaan ton daging dibagikan secara gratis kepada kaum papa.
Tapi apa yang diberitakan TV, Koran, radio, internet serta media kita? Berita ecek-ecek. Ditemukan cacing dalam hati sapi kurban; Sejumlah hewan kurban diketahui mengandung antrax; Rusuh, penerima kurban berdesak-desakan; Hewan kurban mengamuk saat akan disembelih; Tukang jagal tertusuk pisau sendiri saat akan menyembelih hewan kurban; Jatuh korban pada penyembelihan kurban; Takut rusuh, pembagian hewan kurban dialihkan subuh. Semua berita itu tak satu pun yang mencerminkan keagungan Iduladha. Bahkan terkesan, Iduladha menyebabkan bencana.
Penulis betul-betul mengeluh. Padahal, sebagian besar wartawan dan redakturnya adalah umat beragama. Tapi tanpa sadar mereka tidak menjadikan momentum Iduladha sebagai syiar agama. Tapi justru menorehkan noktah pada citra agama. Keluhan seperti ini sesungguhnya tidak saja terjadi saat Iduladha, tapi juga dalam kehidupan di hari lain. Saat Idulfitri, misalnya, media kita sangat produktif memberitakan secara simplistik: Gara-gara Idulfitri, Pantura macet total; Gara-gara Idulfitri, harga bahan pokok terus melonjak; Gara-gara Idulfitri, kecelakaan meningkat.
Islam dan umat Islam dalam citra media di seluruh dunia memang terus dipojokkan. Sejak isu terorisme diluncurkan, semua tangan menuding umat Islam biangnya. Meskipun sederet fakta menunjukkan ada teroris yang lebih hakiki, tetap saja umat Islam menjadi objek penderita. Umat Islam sendiri yang menyusun agenda setting media tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya turut memproduksi informasi yang tidak proporsional ini. Umat Islam sendiri sangat produktif menghasilkan informasi buruk tentang Islam dan dunia Muslim.
Fakta lain menunjukkan, berita dari dunia Muslim selalu perang, saling mengebom antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Semua dilihat dari sisi buruknya. Tapi kalau dari Barat, informasinya tentang peluncuran film terbaru, produk teknologi mutakhir, pertandingan bola yang seru, dll. Hanya saja belakangan memang dunia akan berbalik. Barat menuju kebangkrutan. Ekonomi mereka melesak, dimulai dari Yunani akan merembet ke Uni Eropa. Amerika Serikat juga pertumbuhan ekonominya terus merosot hingga 2,5%.
Tulisan ini hanya bermaksud mengingatkan bahwa bermedia itu sangat penting. Kebatilan dan keburukan yang diulang-ulang seribu kali di media bisa berubah menjadi kebenaran dan kebaikan. Dengan pemberitaan yang diulang-ulang, dengan berbagai media, bahwa Iduladha adalah rusuh, Iduladha adalah bencana, maka lama kelamaan tercipta bayangan bahwa Iduladha adalah benar-benar bencana. Maka bagi umat Islam, mengembangkan media untuk dakwah menjadi titik strategis. Umat Islam tidak bisa mengabaikan media sebagai salah satu pilar kehidupan berekspresi.
Berita buruk lebih mudah dijual ketimbang informasi yang bersifat positif. Mereka menyebut bad news is good news. Tapi paradigma ini tidak selamanya benar. Banyak berita postif juga menarik diikuti. Semua tergantung dari bagaimana mengemasnya. Informasi sepele yang dikemas baik juga menarik. Yuni Shara pisah dengan Rafi sangat adalah persoalan sangat pribadi dan bukan persoalan umat, tapi informasi ini menarik dan dikonsumsi jutaan pemirsa.
Persoalannya, bagaimana visi dakwah dan syiar bisa memegang kendali melakukan agenda setting media itu? Caranya, umat Islam harus membangun sistem media sendiri. Setidaknya, media yang bisa dikonsumsi sendiri. Itulah sebabnya, penulis manawarkan gagasan tentang Jurnalisme Mabrur, yaitu jurnalisme yang mampu memberikan inspirasi bagi orang lain untuk berbuat baik. Media yang mabrur adalah media yang bertanggung jawab.
Jurnalisme saat ini pada umumnya berkaitan dengan industri, maka jurnalisme memiliki paradigma tersendiri yang dapat mendorong agar produk yang dihasilkannya dapat dijual. Maka berbagai persoalan yang bersifat populair selalu menjadi objek pembahasan. Itulah sebabnya, media pada umumnya ber­paradigma bahwa bad news is good news, berita buruk adalah beria yang baik. Sebab, berita buruk biasanya lebih menarik ketimbang berita tentang kebaikan. Kecelakaan yang menyebabkan tewasnya 50 orang, misalnya, adalah berita yang bagus ketimbang berita tentang arus lalu lintas yang lancar. Itulah sebabnya, insan media sering diibaratkan dengan “burung pemakan bangkai”. Mereka akan melahap habis seluruh berita buruk sampai “ke tulang-tulangnya”, namun mereka tidak “doyan memakan” peristiwa yang baik. Saat seseorang sukses, wartawan tidak suka memberitakannya, sementara saat terjadi peristiwa buruk, wartawan selalu mem­beritakannya sampai tuntas.

Kata mabrur berasal dari kata “barra” atau “birru”, artinya baik. Kata “birrul walidain” atau berbuat baik kepada kedua orang tua, diambil dari kosa kata yang sama, “birru” atau “barru” itu. Itulah sebabnya, kemabruran haji tidak terbatas saat jemaah sedang melaksanakan ritus haji di Tanah Suci, melainkan terus ditumbuhsuburkan saat mereka kembali ke tanah air, dan buahnya dapat dipetik oleh masyarakat sekitar.

Itu artinya, jemaah haji yang mabrur adalah sumber daya manusia Indo­nesia yang secara spiritual telah terbarukan dengan proses daur ulang melalui proses ritus haji. Sebab, jemaah yang meraih haji mabrur siap berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan dirinya, keluarga dan handai tolan, lingkungan sekitar, dan untuk kejayaan bangsanya. Menilai seseorang mabrur atau mardud (ditolak) memang hak Allah, tapi kalau seseorang yang sudah berhaji tidak juga mengubah perilakunya yang buruk, maka itu pertanda hajinya ditolak. Dan orang lain dapat merasakan dampaknya.

Maka, jurnalisme mabrur tak berbeda dengan jurnalisme yang bertanggung jawab. Artinya, jurnalisme yang bebas memberitakan apa pun. Tapi kebebas­annya dibatasi oleh diri sendiri hanya memberitakan segala sesuatu yang dapat mendorong masyarakat berbuat yang terbaik, dan menghentikan peristiwa buruk.

Jurnalisme mabrur sesungguhnya merupakan bagian dari jurnalisme pada umumnya yang bergelut dengan industri. Itulah sebabnya, jurnalisme mabrur juga tidak boleh steril dari persoalan yang sedang trend dan popular di dalam masyarakat. Meski demikian, menurut hemat penulis, jurnalisme mabrur harus didasarkan pada paradigma yang berbeda. Jurnalisme pada umumnya berpara­digma bahwa bad news is good news, sedangkan jurnalisme mabrur harus berpara­digma bahwa apa pun berita dan informasi yang disampaikan harus mampu meng­inspirasi penerima informasi untuk berbuat baik.***

Penulis, jurnalis senior.

HPN Kupang: PWI Rilis 17 Buku Karya Wartawan

Jakarta (Rakyat Merdeka) – Sebanyak 17 buku dilaunch pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 9 Februari lalu
Belasan buku karya para jurnalis itu dipersembahkan sebagai bakti PWI kepada negeri dalam rangka penguatan sumber daya insani.
Penerbitan buku ini adalah bukti komitmen kuat PWI untuk menata kecerdasan bangsa agar lebih demokratis dan berperadaban.
Ketua Umum PWI Margiono menegaskan, peringatan Hari Pers Nasional 2011 harus dijadikan momentum untuk melecut insan pers melahirkan karya-karya yang bermanfaat, baik bagi masyarakat pers sendiri, maupun bagi bangsa dan negara.
Hal tersebut, tambah Margiono, merupakan tujuan yang relevan dan aktual untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam kata sambutan di semua buku yang diterbitkan, Margiono mengatakan, tujuan tersebut tercapai apabila pers nasional memiliki sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi serta senantiasa mau terus belajar, membaca, menulis bahkan menulis buku.
“Oleh karena itu kita patut bersyukur menyambut baik atas terbitnya sejumlah buku karya wartawan dan tokoh pers nasional yang sengaja diluncurkan dalam menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2011 ini,” kata Margiono.
Pernyataan Margiono tersebut diamini oleh Ketua Pelaksana Hari Pers Nasional 2011 Priyambodo RH.
“Khusus Hari Pers Nasional 2011 menfokuskan pula kegiatan melek media (media literacy) dan pengembangan potensi kepulauan,” ujar Priyambodo.
Dijelaskan Priyambodo, 17 buku yang diterbitkan sepenuhnya ditulis oleh para wartawan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.
Sebut saja buku; Bila Parodi Diadili karya Karim Paputungan, Off The Record, Kisah-kisah Jurnalistik dari Lapangan & Meja Redaksi Surat Kabar racikan Zaenuddin HM. Berikutnya, buku Jurnalisme Haji yang disunting Wakhudin.
Ada juga yang khusus menilik bahasa visual, Politik Santun dalam Kartun yang digarap Misrad dan Ratna Susilowati serta buku Jurnalisme Karikatur karya Gatot Eko Cahyono.
Dalam paket penerbitan buku ini tak ketinggalan buku yang menegaskan kearifan lokal, seperti Wartawan NTT Bicara, yang disunting Tony Kleden.
Selebihnya buku-buku tersebut diracik, karena kedalaman para wartawan tanah air atas berita, baik nasional maupun internasional. Selain buku-buku konvensional, PWI juga meluncurkan buku-buku digital (e-book) agar bisa diakses lebih luas.
Penerbitan e-book tersebut sebagai lanjutan dari rilis Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI) yang dapat diakses melalui kenal Presspedia di laman http://www.pwi.or.id
Dari 17 buku yang diterbitkan Rakyat Merdeka Books (RMBooks) dipercaya menggarap 15 judul buku yang akan diluncurkan di Kupang nanti.
Penerbitan buku ini menegaskan “getaran intelektual” luar biasa dari para wartawan tanah air. Semoga terus bisa berkarya untuk meramaikan pasar intelektual. Dan tentu saja, Selamat Hari Pers Nasional 2011 untuk bangsa dan negara! * (RM)

Rabu, 30 Maret 2011

Berkuasa


SAAT masih muda dan lemah, Rahwana alias Dasamuka dikalahkan Resi Subali. Ia pun bersabar bahkan merendahkan diri dengan berguru kepada manusia kera anak Resi Gotama ini. Apa pun perintah guru, ia taati, termasuk harus bertapa seperti kelelawar, tidur terbalik dan menggantung di atas pohon. Kedisiplinannya belajar membuahkan hasil dengan meraih Aji Pancasona, ia seperti memiliki nyawa rangkap lima. Bahkan karena kerja kerasnya pula, Rahwana mendapatkan Aji Rawarontek dari kakak tirinya, Prabu Danaraja, meskipun meraihnya dengan kekerasan.
Namun dengan kedigdayaannya, Rahwana lupa diri. Ia menjerumuskan gurunya, Subali berkonflik dengan adiknya Sugriwa. Dengan kekuatannya pula, ia merebut kekuasaan dari kakeknya, Sumali dengan menyingkirkan pamannya Prahasta. Dasamuka juga membunuh Prabu Danaraja, kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.
Ia menyerang Suralaya dan memetik Dewi Tari, putri Batara Indra sebagai istrinya sehingga berputra Indrajid. Kekuasaan mendorongnya berwatak angkara murka. Dasamuka kemudian memperistri Dewi Urangrayung dan memperistri beberapa gadis lainnya. Meski demikian, ia selalu gagal menaklukkan titisan Dewi Widowati. Makanya, ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama, dan menyekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama, selama 12 tahun di Taman Hargasoka.
Bersabar saat keadaan memaksa merupakan sesuatu yang lazim, sebagaimana Dasamuka bersabar saat masih ringkih. Hidup hemat saat tidak punya uang merupakan hal biasa. Tidak mabuk karena sedang sakit, tidak memiliki nilai lebih. Tidak berselingkuh karena tidak punya modal dan tak punya tampang, tidaklah istimewa. Bersabar saat berkuasa jauh memberikan tantangan dan memiliki nilai lebih yang luar biasa.
Rasulullah, Muhammad saw. adalah pribadi mulia yang selalu bersabar saat dalam keadaan sempit maupun ketika berkuasa. Saat beliau menunggu kering pakaian yang dijemur dan melepas pedangnya, tiba-tiba seorang kafir Da'tsur mengambil pedagnya dan menodongkan ke lehernya. Da'tsur pun membentak, "Sekarang aku akan memotong lehermu. Siapa yang akan menolongmu?" Rasulullah pun dengan tenang mengatakan, "Allah". Mendengar jawaban Nabi, tangan Da'tsur gemetar, keringat meleleh dari sekujur tubuh, dan lemas lunglai. Pedang yang di tangan pun jatuh. Kini keadaan berbalik. Pedang kembali dipegang Nabi dan beliau mengalungkan pedang itu ke leher Da'tsur. Meskipun Rasulullah bisa memotong leher orang yang sudah menyerah ini, namun Rasulullah kemudian memaafkannya. Datsur pun mendapatkan hidayah dan masuk Islam.
Bangsa Indonesia saat ini tengah merindukan pemimpin yang bersabar seperti Rasulullah. Bersabar saat susah maupun saat berkuasa. Mereka bersabar bukan hanya saat ingin meraih suara dengan sekadar memberi "gula-gula" menggunakan pancing sejumput beras dan mie instan. Namun setelah menduduki kursi justru mereka menjual suara rakyat itu kepada siapa pun yang mau membayarnya. Bangsa ini tengah menanti penguasa yang bersabar dengan kekuasaannya untuk kesejahteraan bersama, meski harus berhadapan dengan para "investor" yang menanamkan modal mengantarkannya berkuasa saat mereka menagih jatah uang negara. (Wakhudin/"PR")***

Rabu, 23 Februari 2011

Menjaga dan Melestarikan Bersama Wayang Indonesia











GEDUNG Olah Raga Komite Olah Raga Nasional Indonesia (GOR KONI) Jawa Barat di Jln. Jakarta Kota Bandung, berkapasitas sekitar 4.000 orang. Namun, Sabtu (12/2) malam Minggu (13/2) penuh sesak. Kursi yang tersedia di kelas VIP dan tribun atas 90 persen terisi. Setiap tamu yang datang mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya, karena tamu yang datang di luar perkiraan. Maklum, malam itu, dalang terkenal asal Banyumas Ki Sugino Siswocarito pentas. Meskipun membawakan wayang gagrag Banyumas, namun para penggemar wayang dari berbagai daerah di Jawa pun menonton.
Dalam sejumlah pementasan sebelumnya, setiap digelar wayang kulit di Bandung, penonton selalu membludak. Sebuah fenomena yang tidak lazim di era modern yang lebih suka menonton budaya kontemporer. Aula RS Dustira Cimahi yang menampilkan Ki Sutarno Rahardjo mampu menyedot penonton yang banyak di malam tahun baru, di saat semua orang berburu tontonan kontemporer dan pesta kembang api. Ki Kasno Purbo Carito yang pentas di Taman Pramuka belum lama ini juga menyedot banyak penonton.
Padahal, masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta sendiri tanpa menyadarinya secara perlahan meninggalkan kesenian milik mereka di kampung halamannya. Budaya modern cenderung mengarah ke uniformitas. Seni musik dengan berbagai genre lebih digandrungi generasi muda ketimbang kesenian tradisional yang menjadi kekayaan budaya Nusantara. Hanya dalang tenar seperti Ki Mantep Sudarsono asal Sukoharjo atau Ki Anom Suroto dari Surakarta, atau Ki Enthus Susmono dari Tegal, Ki Timbul Hadiprajitno dari Bantul yang mampu mengumpulkan massa dalam jumlah yang masif.
Generasi muda yang masih suka menonton wayang lebih tertarik karena dalang saat ini banyak menampilkan campur sari, yakni tembang Jawa yang dikemas dengan kesenian modern seperti keyboard, jass, gitar dan berbagai alat musik moder lain. Dengan alat ini, wayang tak ubahnya pentas musik yang bisa digunakan untuk berjoged seperti musik masa kini.
Sejumlah dalang muda juga mulai tenar menggantikan generasi sebelumnya. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta relatif produktif mencetak para dalang muda. Selain menampilkan sabetan yang cekatan dan atraktif, mereka juga menampilkan campur sari sebagai daya tarik sekaligus sebagai ajang penciptaan kreasi para seniman kontemporer.
Namun saat kesenian Jawa pentas di Kota Bandung, maka semua eksponen kesenian ini turut menonton, baik penggemar wayang klasik maupun wayang kontemporer. Pementasan wayang kulit menjadi momentum bersilaturahmi para pendatang dari Timur ini. Sebab masyarakat Jawa yang tinggal di Bandung berasal dari berbagai lapisan generasi. Asalkan kesenian Jawa, mereka bersedia datang, karena menonton kesenian tradisional berarti bertemu dengan sanak keluarga sedaerah.
Wayang kulit kini sesungguhnya tak lagi hanya milik masyarakat Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Sebab, Persatuan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sejak tujuh tahun lalu mengakui bahwa wayang Indonesia merupakan world masterpiece of oral and intengible of humanity. Maka, wayang telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Itulah sebabnya, H. Sidik penyelenggara wayang kulit di Kota Bandung tidak malu menampilkan wayang kulit di tengah masyarakat Bandung. Sebab, penontonnya tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta, melainkan dari berbagai daerah, bahkan warga Jepang, Cina dan Eropa sempat menonton wayang kulit di Bandung ini.
“Selain mementaskan wayang kulit, kita juga secara rutin mementaskan wayang golek di Bandung. Saat merayakan ulang tahun Kota Bandung, kita menggelar wayang kulit sekaligus wayang golek di Taman Pramuka,” kata H. Sidik dan H. Purwadi.
Bagi masyarakat Jawa, termasuk masyarakat Sunda, wayang seakan sudah menjadi “guru” bagi penggemarnya. Para tokoh wayang terlanjur dianggap benar-benar pernah hidup layaknya manusia yang mengisi zaman purwa. Zaman yang diyakini pernah ada di mana zaman waktu itu masih kosong.
Dalam setiap perkembangan, wayang tumbuh melalui berbagai pengaruh dan mengalami interpretasi baru yang memperkaya dirinya dengan sangat pesat. Dalam perkembangan mutakhir, wayang berkembang sedemikian pesat, sehingga nyaris memusnahkan keskaralan wayang itu sendiri. Di tengah pentas wayang, penyanyi bebas berjingkrak sekadar memenuhi tuntutan zaman karena terbawa kesenian modern. Dalam banyak pementasan, wayang dan gamelan tidak lagi disandingkan dengan sesaji.
Di sisi lain, generasi baru saat ini mengembangkan wayang dalam berbagai media. Mereka memperlakukan wayang layaknya sebagai kekayaan agung (masterpiece). Bahkan Ir. Budi Rahardjo, M.Sc. Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung sempat menggagas agar wayang menjadi salah satu game dalam internet. Setiap orang boleh memilih memainkan peran, misalnya, sebagai Gatotkaca, Bima, atau menjadi Duryudana, dan keluarga Kurawa. Dengan cara ini, genarasi muda dapat menikmati kultur wayang dengan caranya sendiri. Sayang, gagasan ini masih sekadar wacana, sehingga bangsa Indonesia tetap mengonsumsi game yang berasal dari kultur Barat.
Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memberi kesenian ini tumbuh dan kemudian memeliharanya. Kini adalah saat yang tepat untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada generasi baru untuk mengambil tongkat estafet, tanpa harus memotong generasi terdahulu, menuju babak baru, wayang Indonesia. Bukan lagi wayang Jawa, wayang Sunda, wayang Bali, dan sebagainya. Sebab, wayang sudah menjadi kekayaan dan milik bersama. (Wakhudin/”PR”)***

“Perang Besar” Dalang Jawa di Kota Bandung






BARATA Yudha merupakan perang besar, seperti Perang Dunia IV, versi perwayangan. Makanya perang ini digambarkan terjadi banjir darah setinggi lutut selama berhari-hari sampai tumbuh ganggang (tanaman gulma) yang terbuat dari rambut, sementara gigi para prajurit yang rontok bertebaran di mana-mana bagaikan kerikil. Mayat manusia bergelimpangan di semua sudut Medan Kurusetra, berbau menyengat karena lebih banyak yang tewas ketimbang yang selamat sehingga. Tak seimbang jumlah pekerja yang menyingkirkan mayat ketimbang jumlah prajurit yang gugur di medan laga.
Terdapat sejumlah perang yang sangat besar dalam episode perwayangan. Misalnya, perang antara Patih Suwanda dengan rajanya Prabu Sasrabahu. Di dalam perang ini, lebih dari separuh manusia (wayang) menyaksikan kedigdayaan Raja Mahespati melawan patihnya yang berasal dari kampung bernama Somantri yang kemudian diangkat menjadi patih bernama Suwanda.
Demikian juga perang sehari yang sangat bengis antara Raja Hastina Prabu Pandhu dengan Prabu Trembuku dari Kerajaan Pring Gondani yang menewaskan beberapa raja. Perang anak Krisna Boma Narakasura dengan adiknya Samba dari Parang Garuda juga termasuk perang besar. Namun selama ini, lakon tersebut ditampilkan hanya dalam satu episode.
Perang Barata Yudha juga selalu menjadi lakon yang paling populer dan ditampilkan dalam episode yang banyak secara serial. Ya, bahkan dalang wayang hanya bercerita tentang pertempuran sesama darah Kuru, yakni cucu Resi Wiyasa yang menguasai Hastina yang disebut Kurawa dengan penguasa Amarta yang disebut Pandawa. Wayang purwa selain menampilkan Mahabharata, paling mementaskan lakon Ramayana, yakni perang antara satria Ayodya yang kemudian menjadi raja di Pancawati melawan Prabu Rahwana, Raja Alengkadiraja karena mencuri Dewi Shinta, istri Prabu Rama.
Puluhan, bahkan ratusan lakon dapat diciptakan dari episode Mahabarata. Dari mulai zaman kakek moyang penguasa Hastina Sekutrem, Palasara, Prabu Pandhu, Prabu Putadewa hingga Raja Parikesit. Untuk mementaskan perangnya saja, para dalang biasanya membagi dalam puluhan lakon, dari mulai Krisna menjadi duta Pendawa menagih kembalinya Hastina; Tewasnya Prabu Destarasra, ayah para Kurawa, tewasnya Resi Bisma, pemiliki Hastina yang sejati; Tewasnya Adipati Karna; Tewasnya Prabu Salya; Tewasnya Pandita Durna; Tewasnya Sangkuni; Tewasnya Prabu Duryudana; Tewasnya Kartamarma dan Haswatama, putra Pendita Durna; Sehingga akhirnya Parikesit menjadi raja termuda di Hastina.
Meskipun Perang Barata Yudha selalu memakan puluhan epiode, namun di tangan tiga dalang, perang ini cukup dipentaskan dalam semalam. Inilah pentas wayang kulit kolosal yang akan dimainkan tiga genarasi dalang yakni Letkol (Purn) Ki Amanu Pawiro Sudjono (70 tahun); Kapten (Kav) Ki Gempur Widodo Dwija Carito (45 tahun); dan Dhimas Hariyanto A. Juwono (21 tahun). Pentas berlangsung Sabtu, 19 Februari 2011 di Kampus Institut Teknologi Nasional (Itenas), Kota Bandung.
Selain menampilkan perang besar dalam semalam, pementasan wayang ini benar-benar besar dan lebar. Besar karena menampilkan tiga dalang sekaligus dalam satu panggung dan satu kelir. Dengan tampilnya tiga dalang sekaligus memungkinkan kisah semua perang ditampilkan dalam satu malam. Sebab, dalam satu perang, dalang satu memerankan perang antara Resi Seta melawan Resi Bisma, namun dalang yang satu memainkan perang antara Kurawa yang melawan Pandawa, sehingga perang yang sedemikian banyak dimainkan dalam satu waktu.
Pementasan ini disebut besar, karena pergelaran ini juga menampilkan kirab para dalang. Selain menampilkan dalang tiga generasi juga mengenalkan tiga dalang lainnya yaitu Ki Wang Chu, Ki Rebi Sajiwo Guno Warsito, dan Ki Surono Duto Bayangkoro. Secara perorangan, tiga dalang ini kemudian akan pentas secara personal di Kota Bandung dan sekitarnya dalam waktu berikutnya.
Pentas ini disebut lebar, karena mementaskan pakeliran yang lebar. Lazimnya, seorang dalang hanya membutuhkan satu panggung dengan satu kelir, namun pentas kali ini satu panggung satu kelir namun yang sangat lebar, karena digunakan tiga dalang sekaligus, sehingga lebar. Luasnya kelir wayang kulit biasanya digunakan untuk menjajarkan wayang yang tidak dimainkan, namun kali ini lebarnya kelir digunakan semua untuk pentas. Inilah konsep yang dilahirkan Dhimas Hariyanto A. Juwono, dalang kelahiran Bandung yang sedang menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Dapat dikatakan, pementasan wayang semalam suntuk ini merupakan “barata yudhanya” seniman Jawa yang tinggal di Bandung Raya. Sebab, pada malam itu hampir semua kesenian ditumpahkan. Di tengah wayang yang membawakan perang besar, juga ditampilkan campur sari Sang Wadjendra, sendra tari dan tampilnya tiga master of ceremony (MC) yakni Ng. Widianto, Sukoyo, dan Mas Yan.
Hampir seluruh kekayaan khasanah budaya Jawa ditampilkan. Ki Amanu adalah dalang generasi pendahulu yang sangat kagum terhadap Ki Narto Sabdo, sehingga memainkan wayang dengan versi Semarang. Sementara Ki Gempur Widodo adalah dalang generasi tengah yang menampilkan wayang gagrag Solo. Sedangkan Dhimas Hariyanto adalah dalang generasi muda yang menampilkan gagrag Yogyakarta. Meskipun tiga gagrag ini bagi masyarakat Bandung tidak ada bedanya, namun bagi penggemar wayang, setiap gagrag memiliki pakemnya masing-masing yang kadang sulit dipertemukan.
Saat latihan selama beberapa bulan terakhir, mempertemukan tiga gagrag ini sering mengalami kendala, terutama berkaitan dengan kultur. Para penabuh gamelan yang terbiasa membawakan gagrag Solo sering salah persepsi ketika harus membawakan gending dengan gagrag Yogyakarta. Sebaliknya, para penabuh gamelan yang penggemar wayang gagrag Yogyakarta kerap sulit mengikuti irama gagrag Solo. Sedangkan mereka yang terbiasa dengan irama gagrag Semarangan yang kemudian melahirkan gagrag Banyumasan justru lebih mampu memvariasikan antara Solo dan Yogya. Sebab, hakikat gagrag Semarang dan gagrag Banyumas merupakan perpaduan antara Solo dan Yogya.
“Lebih baik kita sebut sebagai gagrag Bandungan. Karena seluruh gagrag ditampilkan dalam pementasan ini,” kata Ki Amanu saat melakukan latihan di Jln. Turangga Barat Buahbatu, Rabu (16/2) malam.
Maklum, mempertemukan tiga gagrag dalam satu pementasan memang tidak mudah. Dalam sulukan misalnya, satu dalang melantunkan sulukan dalam irama Solo, kemudian dilanjutkan dengan irama Semarang, dan diakhiri dengan irama dan langgam Yogya. Terasa aneh, tapi menjadi merata. Semua kebagian.
Pesta kesenian Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur di Kota Bandung ini sekaligus menandai era baru mereka berkesnian. Sebab, momentum ini menjadi ajang pertemuan berbagai kesenian Jawa yang selama ini berjalan secara parsial. Para seniman asal Yogyakarta selama ini melakukan latihan sendiri dengan menggelar panggung sendiri. Demikian juga seniman asal Solo dan asal Banyumas, semua menggelar kesenian secara terpisah. Malam minggu lusa, semua pentas dalam satu panggung dalam dinamika yang unik dan kolosal.
Maka, para nayaga yang menabuh gamelan dari berbagai aliran pun “turun gunung”. Para pengrawit dari Sri Katon pimpinan Ki Amanu merupakan inti para penabuh gamelan. Mereka kemudian di-back up para penabuh dari rombongan kesenian Rumah Sakit Dustira Cimahi, Serayu Krido Laras di PT Telkom, Adi Budoyo Padalarang, rombongan pengrawit dari Bina Marga Cibiru dan sebagainya. Benar-benar kolosal, karena semua panitia dan penabuh gamelan tak kurang dari 200 orang.
“Sangat tidak mudah, mengumpulkan sekian banyak orang dengan latar belakang yang berbeda dalam satu panggung,” kata Mas Yan, Direktur Pergelaran ini yang ditemi di tengah gladi kotor di Jln. Turangga, Rabu (16/2) malam.
Pentas wayang kali ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi para perantau dari Jawa yang bekerja di berbagai profesi. Ki Amanu adalah purnawirawan, Ki Gempur Widodo adalah tentara aktif, dan Dhimas Hariyanto adalah seorang mahasiswa. Mereka berkolaborasi secara apik, meskipun kadang terjadi kesalahpahaman, karena pentas tiga dalang dalam satu panggung merupakan sesuatu yang baru.
Sibuknya tiga dalang dibantu para asisten seperti Ki Wang Chu (wartawan HU Pikiran Rakyat) dan Ki Surono Duto Bhayangkoro (polisi). Semua ditampung oleh akademisi Prof. Dr. Harsono Taroepratjeka, M.Si.E, Rektor Itenas. Maka, jadilah pentas besar dan kolosal ini.
Profesi para penabuh gamelan lebih bervariasi, dari mulai pejabat, pegawai rumah sakit, wartawan, pedagang sayuran, bahkan para tukang bakso. Maka, pentas wayang berjudul “Tawur Getih Tegal Kurusetra” ini menandai episode “barata yudha” para seniman Jawa di Kota Bandung. Ini adalah pertemuan besar yang menjadi triger gerakan seni masyarakat Jawa di Tatar Pasundan. (Wakhudin/”PR”)***

Sabtu, 11 Desember 2010

Keracunan Informasi


MEDIA selama ini berparadigma bahwa bad news is good news. Berita buruk adalah berita baik. Semakin buruk suatu keadaan, semakin baik untuk diberitakan. Musibah dengan korban ribuan jiwa menjadi berita yang lebih baik dibandingkan dengan kecelakaan dengan korban ratusan jiwa. Semakin kecil jumlah korban, semakin kecil nilai news-nya. Akibat paradigma ini, maka setiap media berupaya menampilkan berita buruk. Demontrasi yang dilakukan secara damai dianggap kurang menarik. Sebaliknya, unjuk rasa yang chaos disertai dengan pengrusakan dianggap sebagai berita yang lebih bagus ketimbang penyampaian pendapat secara prosedural.
Maka, televisi, radio, surat kabar, dan situs berita seperti berlomba memberitakan berbagai peristiwa kriminal. Semakin sadis suatu pembunuhan akan mendapatkan pemberitaan secara berulang-ulang dan terus menerus. Apalagi jika jumlah korbannya tidak tunggal, dan cara membunuhnya pun dengan cara kejam. Pembunuhan dengan cara apa pun sesungguhnya sadis, tapi pembunuhan yang disertai mutilasi akan menambah “bumbu” berita, sehingga semakin menarik diberitakan.
Penyelewengan dalam penegakan hukum menjadi menu utama informasi sepanjang pagi, siang, sore dan malam. Korupi yang merajalela masuk dalam agenda pemberitaan yang tidak pernah habis. Apalagi jika yang melakukannya penegak hukum, seperti polisi, jaksa, dan hakim, maka peristiwanya tak kunjung habis dan pemberitannya tak kunjung tuntas. Apalagi jika unsur politik masuk di dalamnya, maka berita menjadi semakina mengharu biru. Ditambah saling tuduh, saling menyalahkan, saling memaki, bahkan pada akhirnya saling mengerahkan massa.
Informasi buruk mengalir deras bagaikan air bah yang tak bisa dibendung. Saat menikmati rendang dan ayam pop di restoran Padang sekalipun, tiba-tiba mata tak sengaja mengikuti berita kriminal yang ditayangkan TV. Suami membunuh istrinya, atau cucu membunuh neneknya. Maling motor digebuki sampai tewas. Darah terus mengalir di mana-mana, nyawa juga meregang karena sia-sia. Tapi kita tetap asyik menikmati rendang beserta kuah dan sambal hijaunya. Sadisme yang ditayangkan TV seperti tak ada kaitannya dengan penikmat makanan Minang.
Karena berita kekerasan, penyelewengan, sadisme, pornografi dan pornoaksi terus memenuhi otak membanjiri lambung bangsa Indonesia, maka bangsa ini secara tidak sadar keracunan informasi. Masyarakat secara perlahan semakin permisif dan menganggap bahwa menyeleweng dan berkianat sebagai sesuatu yang lazim. Bahkan, secara perlahan, mereka mati rasa. Melihat pengendara sepeda motor yang terkapar di jalan akibat kecelakaan pun menjadi biasa. Tak ada yang perlu dibicarakan, bahkan dengan nyaman lewat begiu saja, tanpa ikut menolong.
Sejak kebebasan informasi diperkenalkan, maka sepanjang itu pula bangsa Indonesia menghirup racun informasi. Kini keadaannya semakin tak keruan. Agar normal, bangsa ini membutuhkan informasi penawar yang dapat menormalkan suasana. Membalikkan informasi dari yang serbaburuk kepada yang serbabaik bukanlah jalan keluar yang panasea. Sebab, peristiwa bagus sering tidak menarik sehingga tidak menjadi berita bagus.
Namun dalam keadaan bangsa Indonesia sdang mengalami keracunan informasi, kabar yang mencerahkan dan menyenangkan dapat menjadi obat penawar, Bahkan dapat menjadi oase bagi bangsa Indonesia yang sudah lama mengembara di belantara informasi serbanegatif.
Berita bagus yang dapat menginspirasi orang lain berbuat kebajikan adalah saat ini diperlukan. Sebab, kebaikan dapat diajarkan kepada orang lain melalui tingkah laku dan contoh. Maka, kalau bangsa ini ingin kembali normal, media ditantang memberikan solusi secara bertanggung jawab dengan mengungkapkan fakta tentang petingnya menginspirasi masyarakat berbuat baik. Cara ini bukan berarti tidak kritis. Kritis silakan, tapi perlu menginspirasi masrakat lain untuk berbuat yang terbaik. (Wakhudin/”PR”)***

Senin, 22 November 2010

Pakem Wayang Golek dan Modernitas




LAKON Bambang Sumantri mengabdi kedapa Raja Mahespati, Prabu Sasrabahu sesungguhnya cerita klasik dan termasuk kisah tua. Disebut tua karena peristiwa ini terjadi sebelum kisah Mahabarata, kisah pertempuran antara sesama darah Kuru di medan pertempuran Kurusetra. Bahkan, kisah ini lebih tua dibandingkan dengan cerita Ramayana.

Kisah Ramayana diyakini terjadi lebih tua dibandingkan dengan Mahabarata. Sebab, Prabu Rama Wijaya dari Ayodya yang menjadi titisan Dewa Wisnu merupakan kakek moyang Prabu Kresna dari Dwarawati. Prabu Kresna adalah operator perang Baratayudha. Dia adalah tokoh yang keukeuh agar "Perang Dunia III" dalam pewayangan ini harus terjadi. Sebab, perang ini sudah menjadi nazar para dewa, demi sirnanya angkara murka.

Meskipun kisah Bambang Sumantri Mengabdi termasuk kisah yang klasik, di tangan dalang Ki Umar Darusman Sunandar (30), kisah itu menjadi sedemikian aktual. Dialog antara satu tokoh dan tokoh lainnya sangat masa kini. Lihatlah nasihat ayah Sumantri, Resi Suwandageni dari Pertapan Jaka Sampurna tentang pengabdian seorang warga terhadap negara. Pengabdian seorang ksatria terhadap negara harus tanpa pamrih, bukan sekadar mendapatkan takhta agar berkuasa dan memperoleh kuasa, melainkan merupakan ekspresi pengabdian seorang makhluk kepada Sang Khalik yang diekspresikan dalam upaya menjaga keseimbangan kekuasaan antara pamong praja dan rakyat. Tugas aparat yang duduk di kursi kekuasaan bukan untuk menikmati kue pembangunan dengan porsi paling besar, melainkan mendistribusikan kesejahteraan yang berhasil dikuasai negara kepada sebagian besar warga.

"Tugas aparat bukan malah melarang warga mencari rezekinya masing-masing. Negara sudah tidak mendistribusikan kesejahteraan kepada rakyat, di saat yang sama malah membatasi warganya mencari rezeki sendiri. Pedagang asongan yang cuma menjual tiga bungkus rokok pun disita barang dagangannya. Lalu, di mana tingkat keadilan aparat yang demikian," kata Begawan Suwandageni ketika menasihati anaknya yang akan melamar menjadi aparat di Kerajaan Mahespati itu.

Kemudian, Suwandageni pun menceritakan nasib pilu yang dihadapi masyarakat yang diperlakukan secara tidak adil oleh aparat. Kisah para pedagang kaki lima yang tidak pernah tenteram berdagang di tempat strategis. Akibatnya, Si Amed nangis terus seharian karena gerobaknya disita aparat. "Yang paling membuat saya sedih, istri saya di gerobak itu sedang tidur, terbawa aparat," katanya.

Di tangan murid dalang kondang Ki Asep Sunandar Sunarya ini, semua yang klasik bisa berubah menjadi sangat aktual. Simaklah bagaimana bingungnya Sukrasana ketika bangun kesiangan dan ternyata kakak kesayangannya, Bambang Sumantri, tidak ditemuinya.

"Ama, Kakang Sumantri ke mana?" tanya Sukrasana, adik Bambang Sumantri yang berbadan raksasa dan bermuka buruk.

"Mungkin sedang mandi," ujar Suwandageni sembari membelai rambut Sukrasana.

"Sudah kubuka seluruh kamar mandi, tidak ada tuh?" ujar Sukrasana sembari penasaran.

"Atau mungkin ke warung?" ujar ayah Suwandageni yang semakin tua. Lagi-lagi, Sukrasana tidak percaya. Sebab, selama ini kakaknya Sumantri tidak suka ke warung, bahkan kalau memiliki kebutuhan kakaknya lebih suka menyuruh dia agar membelikan barang.

"Atau, kakakmu mungkin pergi ke warnet," ujar Suwandageni sembari membujuk Sukrasana.

"Ah, tidak mungkin. Kakang Sumantri termasuk orang yang gagap teknologi. Menggunakan Facebook saja tidak bisa. Bahkan, kirim sms saja tidak pakai spasi," ujar Sukrasana yang disambut gerrr... penonton.

Akhirnya, Suwandageni pasrah dan menceritakan kepergian Sumantri ke Mahespati untuk melamar sebagai aparat di negara itu.

Bagi dalang yang akrab dipanggil Ki Dalang Riswa ini, kekunoan kisah wayang dan kekakuan pakem tidak pernah menjadi masalah sebagai bahan bodoran. Ia termasuk dalang yang sangat produktif memproduksi kosa kata baru, termasuk berbagai macam idiom yang menunjukkan kelucuan.

Dawala dan Cepot yang bersaudara kadang harus terlibat konflik. Mereka pun bertengkar sengit. Namun, ketika satu dengan yang lain saling menyakiti, Cepot pun sadar dan berkata, "Kamu kok tega sih menyakiti aku yang fakir misscall?"

"Fakir miskin, meureun?" ujar Dawala menanggapi keluhan Cepot.

"Bukan, saya ini fakir misscall. Habis, menelefon pacar tidak kunjung diangkat sehingga misscall melulu," ujar Cepot.

Dawala juga mengeluhkan perilaku Cepot yang menganiayanya. "Saya ini seorang yatim piano, tetapi kamu tega menganiayaku?" keluh Dawala.

"Maksudnya, yatim piatu?" ujar Cepot berusaha membetulkan ucapan Dawala.

"Bukan yatim piatu, tetapi yatim piano. Kalau yatim piatu berarti tidak punya ayah dan ibu. Kalau yatim piano, berarti tidak punya gitar-gitar acan," ujar Dawala.

**

KESENIAN Sunda, khususnya wayang golek sesungguhnya bagaikan lautan yang tidak bertepi. Sangat luas. Kisah yang diceritakan sesungguhnya hanya lakon yang diambil dari kisah Ramayana dan Mahabarata atau akar dari kisah itu, serta kisah turunannya.

Namun, uraian antawacana, setting konflik, dan intrik yang berkaitan dengan kehidupan kontemporer seperti tidak pernah kering. Semakin piawai seorang dalang, semakin pintar ia mengelaborasi kisah wayang dalam kehidupan kekinian. Artinya, wayang sesungguhnya tidak pernah kering digunakan untuk melakukan proses edukasi manusia modern.

Di samping itu, sumber daya manusia yang berada di balik pergelaran wayang juga cukup banyak. Ki Dalang Riswa merupakan salah seorang dalang muda yang tengah bergelut dengan dinamika modernitas. Ia bersama teman seangkatannya dapat dikatakan sebagai pejuang untuk mempertahankan eksistensi kesenian dan budaya tradisi.

Itulah sebabnya, dengan berbagai kemasan, Ki Riswa berupaya menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Salah satunya adalah pergelaran Pojok Si Cepot di stasiun televisi Kota Bandung.

"Tujuannya, supaya setiap warga negara merasa memiliki terhadap seni budaya ini. Sebab, kalau bukan bangsa Indonesia yang mengembangkan seni budaya sendiri, lalu siapa lagi?" ujar Dalang Riswa.

Karena menonton wayang seseorang dituntut berkonsentrasi selama 6 hingga 8 jam, Ki Riswa pun mencoba mengakalinya dengan membuat wayang yang tidak ada sebelumnya, seperti dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Maka, ia pun membuat wayang bersosok hansip, petani, militer, pegawai negeri sipil, dan sebagainya. Tujuannya, untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka memiliki kesenian yang adiluhung ini.

Ki Asep Sunandar Sunarya yang menjadi guru Riswa di Pedalangan, telah terlebih dahulu membuat banyak kreasi menghadapi era modern dalam bidang perwayangan. Sabetan yang kreatif dengan ekspresi yang lebih manusia menjadi kekuatannya sehingga ia menjadi dalang tenar di era serbadigital ini.

Sayangnya, arah angin modernitas kurang memberi tempat bagi kekayaan seni tradisi orisinal karya Indonesia. Masyarakat lebih banyak tergiring untuk mencintai budaya manca yang tidak memiliki akar di dalam masyarakat. Bahkan, budaya manca tersebut menggerogoti akhlak dan moral bangsa.

Sementara itu, seni tradisi milik bangsa sendiri menawarkan keindahan estetika yang tak ternilai harganya. Di sinilah, para seniman telah menyumbangkan seluruh kreativitas dan kemampuannya untuk mengabdi.

Penonton yang hadir dalam pentas wayang golek semalam suntuk di Taman Pramuka, Jumat (5/11) malam pasti gemuruh dengan gelak tawa menyaksikan lakon Bambang Sumantri Ngenger. Mereka pun merenungi kisah dan petuah yang lahir dari tontonan itu.

Akan tetapi, sayang, tak banyak masyarakat yang tergugah untuk mengikuti tradisi ini. Di malam yang dingin disertai rintik hujan, masyarakat lebih enak tidur di rumah. Mungkin mereka tidak tahu akan adanya pementasan wayang dalam rangka HUT ke-200 Kota Bandung. Bahkan, yang tahu pun tidak tertarik menonton kisah wayang. Akan tetapi, jangan mengeluh jika kelak seni budaya ini tiba-sudah menjadi milik bangsa lain. Mengapa tidak kita pertahankan? (Wakhudin/"PR") ***