Kamis, 28 Juni 2012

Memberatas “Hama” Dunia Pendidikan

Oleh WAKHUDIN
(Penulis wartawan senior. Doktor bidang Pendidikan Umum 
Universitas Pendidikan Indonesia) 

 TIDAK hanya padi dan tanaman yang terkena hama, tapi hampir semua kehidupan memiliki “hama” masing-masing. Hama pemerintahan dan birokrasi, misalnya, berupa korupsi kolusi, dan nepotisme (KKN); Hama dunia bisnis adalah kecurangan, dan mengurangi timbangan; Hama dunia olah raga, misalnya wasit curang, kerusuhan suporter, dan sebagainya. Dunia pendidikan mestinya menjadi penawar terhadap berbagai racun dan hama dunia yang lain, tapi dalam praktiknya, dunia pendidikan sendiri mengalami keracunan yang parah. Salah satu “hama” dunia pendidikan adalah praktik wartawan gadungan. Mereka bergentayangan mendatangi pimpinan sekolah dengan berbagai alasan, tapi ujungnya memeras meminta uang. Kalau tidak memberi, “Awas, kebobrokan sekolah ini akan kami muat di surat kabar,” dalih mereka. Wartawan gadungan memiliki banyak sebutan. Di Jakarta, mereka disebut wartawan boderek. Sebagian orang menyebut wartawan Muntaber (Kerap muncul tapi tanpa membuat berita), kadang disebut juga WTS (Wartawan tanpa surat kabar), juga dijuluki Wartawan Abal-abal. Di setiap daerah, mereka punya sebutan sendiri-sendiri sebagai kode bahwa mereka datang, dan yang didatangi supaya hati-hati. Saat tertentu, mereka mengaku sebagai anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun di saat yang lain mengaku sebagai wartawan. Bahkan, mereka mengaku diri sebagai wartawan investigasi, wartawan yang khusus melakukan penyelidikan terhadap penyalahgunaan wewenang sekolah. Mereka biasanya datang bergerombol, meskipun saat tertentu datang sendiri-sendiri. Modusnya, mereka mendatangi kepala sekolah, terutama saat sekolah tersebut baru menerima dana dari pemerintah, misalnya biaya operasional sekolah (BOS). Kadang, dengan gaya menginterogasi mereka menanyakan banyak persoalan, dari mulai bangunan sekolah, jenis kayu yang digunakan, genting sekolah yang tidak lurus, warna cat sekolah, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, mereka menyalahkan pengurus sekolah, karena spesifikasi yang dimaksudkan tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah. Dengan demikian, kepala sekolah bisa dipanggil polisi atau jaksa karena diduga telah menyelewengkan dana pemerintah melalui bantuan operasional sekolah (BOS) atau dana yang dikumpulkan dari masyarakat. Apalagi kalau kasus mereka dimuat di surat kabar mereka. “Sekarang persoalannya, kasus ini mau dimuat di surat kabar atau tidak? Kalau ingin tidak dimuat, kami bisa bantu. Tapi perlu biaya, sekadar untuk menutupi kasus dan biaya rokok untuk kami yang menguruskan,” demikian kurang lebih cara mereka membujuk pimpinan sekolah agar membayar sejumlah uang atas “kasus” yang mereka karang sendiri. Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, atau guru yang tidak pernah berurusan dengan dunia hukum kerap gentar bahkan gemetar menghadapi gertakan mereka. Apalagi kalau oknum sekolah memang benar-benar melakukan kesalahan. Maka supaya kasusnya tidak muncul, mereka membayar sejumlah uang agar “wartawan” itu segera enyah dan tidak memuat pemberitaan yang berkaitan dengan sekolah mereka. Sebagian pengurus sekolah menyadari bahwa mereka sedang diperas, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Caranya, lagi-lagi, membayar sekadar uang rokok. Yang penting “wartawan” ini segera pergi. Tapi sikap wartawan gadungan ini memang benar-benar seperti hama. Sekali dikasih, apalagi kalau pimpinan sekolah bersikap baik dan memberikan uang dalam jumlah yang memadai, mereka kerap datang lagi. Tak hanya sendiri, tapi berombongan dan berulang-ulang. Sebagian wartawan gadungan ini bahkan melakukan pengawasan, benar-benar mengawasi kepala sekolah dari jarak sangat dekat, satu atau dua meter. Mereka mengambil kursi sendiri kemudian duduk di depan atau di samping kepala sekolah, dan terus melihat setiap gerak kepala sekolah itu, seharian. Ke mana pun kepala sekolah bergerak, ia mengikutinya. Dalihnya, mereka bertugas mengawasi kepala sekolah. Tentu saja kepala sekolah merasa risi, apalagi kalau kepala sekolahnya wanita. Maka jalan paling mudah, wartawan gadungan itu diberi uang supaya pergi. Karena memang itu yang ditunggu, maka mereka benar-benar pergi setelah mendapatkan uang itu. Surat kabar sekolah Dunia pendidikan di Indonesia memang aneh, dan ini pula mungkin yang menyebabkan tumbuhnya “hama” yang sangat menyebalkan itu. Dunia pendidikan dari mulai sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi mestinya mengajarkan siswa menulis, termasuk menulis populer. Namun pada kenyataannya, siswa dan mahasiswa sedikit yang memiliki keterampilan menulis. Maka, saat ada satu atau dua orang yang merasa mampu menulis, mereka pun menyalahgunakan kemampuan menulisnya dengan menyamar sebagai wartawan. Tapi, ujung-ujungnya memeras. Di negara maju, menyampaikan pendapat, baik melalui lisan (public speaking) maupun tulisan (writing) sudah menjadi pendidikan umum. Artinya, setiap pelajar, mahasiswa, apalagi guru dan dosen, wajib memiliki keterampilan itu. Maka jangan heran, tukang cuci piring di rumah makan yang sudah bekerja selama 10 tahun bisa menulis buku, misalnya bagaimana cara mencuci piring yang efektif. Tapi di Indonesia, jangankan siswa dan mahasiswa, bahkan guru dan dosen sekalipun, menulis merupakan pekerjaan yang amat berat. Sebagian dari mereka yang tidak sabar kemudian mengambil jalan pintas dengan melakukan plagiasi. Itulah sebabnya, banyak guru dan kepala sekolah yang mentok di Golongan IVA sulit naik ke Golongan IVB, karena mengalami kesulitan dalam membuat laporan ilmiah. Maka, dunia pendidikan, terutama siswa, mahasiswa, guru dan dosen harus mempunyai keterampilan dan kebiasaan menulis. Apalagi, perkembangan teknologi informasi sekarang memungkinkan bagi setiap orang menjadi wartawan, apalagi insan pendidik dan pendidikan. Dunia maya memungkinkan setiap orang membuat situs, blog, atau setidaknya mempunyai akun di jejaring sosial. Melalui sarana yang ada, seseorang bisa membuat media sendiri, menyusun berita sendiri dan menyampaikannya kepada publik. Semangat Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik adalah setiap bangsa Indonesia saat ini memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengakses, mengelola, dan memberikan informasi. Ini artinya, setiap orang adalah wartawan. Setiap siswa, mahasiswa, guru, dan dosen adalah wartawan. Menjadi wartawan tentang dunia mereka sendiri. Surat kabar yang digunakan bisa berupa, situs, blog, akun di jejaring sosial, atau bahkan majalah dinding sekolah dan kampus. Bisa juga berupa majalah sekolah, tabloid, dan berbagai media yang lain. Kalau setiap insan pendidikan adalah wartawan, maka mestinya mereka tidak akan lagi gentar apalagi gemetar menghadapi wartawan gadungan itu. Kalau saja setiap sekolah mengelola majalah dinding dengan baik, misalnya setiap minggu informasinya di-up date, maka mereka bisa gagah berani menghadapi “hama” ini. Misalnya, saat wartawan gadungan sedang menggertak, kepala sekolah bisa membalas, “Lho, saya juga seorang wartawan. Wartawan majalah dinding. Kalau kalian mau memeras, foto kalian saya pajang di majalah dinding. Kami tulis, ‘Awas: Hati-hati Wartawan Gadungan’,” sambil membidikkan kamera ke wajah para wartawan gadungan. Dijamin, mereka akan kabur. Apalagi kalau majalah dinding sekolah juga dibuat dalam situs. Katakanlah, majalah dinding sekolah bernama Majalah Dinding Melati. Maka, sekolah bisa membuat situs www.madingmelatismp28.com atau nama yang lain. Kalau situs dikelola dengan baik, maka majalah dinding akan ter-up date dengan baik pula. Setidaknya, paling lama dalam seminggu majalah dinding harus diganti isinya. Salam, dan selamat mencoba. Tulisan ini dimuat di HU Pikiran Rakyat 8 Juni 2012.

Selasa, 13 Maret 2012

Perbenturan Islam-Barat, Siapa Yang Menang?


Oleh H. WAKHUDIN
Jurnalis, doktor bidang pendidikan moral Universitas Pendidikan Indonesia

Dihitung dari terbitnya buku The Clash Civilization and the Remaking of World Order yang ditulis Sammuel P Huntington 1998, maka perbenturan antara Barat dan dunia Islam sudah berlangsung selama 14 tahun. Setidaknya, perbenturan itu sudah berjalan selama 12 tahun terhitung sejak runtuhnya Uni Soviet tahun 1990. Perbenturan dua peradaban itu sudah relatif lama. Bagaimana hasilnya? Siapa yang kalah dan siapa yang memenangi perbenturan itu?
Dalam The clash of civilization Huntington menulis tentang benturan peradaban. Jika di masa lalu, konflik terjadi berdasarkan peta ideoligis, Barat dan Timur, namun setelah perang dingin berakhir, perbenturan terjadi berdasarkan peta peradaban dunia. Secara garis besar ada delapan peradaban dunia yang potensial saling berbenturan, yakni Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavik, Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika. Namun potensi konflik yang paling besar adalah perbenturan antara Barat dan koalisi Islam-Konfusius.
Umat Islam tidak begitu menyadari adanya perbenturan peradaban itu antara tahun 1990 hingga tahun 2000-an. Jatuhnya Presiden Soeharto tahun 1998, bisa jadi merupakan bagian dari perbenturan peradaban itu. Maklum, Pak Harto ketika itu begitu dekat dengan umat Islam. Berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menandai pemerintahan yang “ijo royo-royo” itu. Sebab, Pak Harto mengangkat para pembantunya yang berasal dari santri. Demikian pula parlemen, serta Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) atau sekarang TNI. Posisi strategis di DPR/MPR serta di tubuh ABRI didominasi santri.
Bahwa Presiden Soeharto dibelit kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), memang ya. Tapi “dosa” terbesar Pak Harto sesungguhnya karena ia dekat dengan umat Islam itu. Itulah sebabnya, Barat meruntuhkan Orde Baru dengan menciptakan krisis moneter (krismon) melalui tangan George Soros yang menanam uang panas dalam jumlah besar dan kemudian menariknya secara besar-besaran dalam waktu cepat. Penarikan uang dalam jumlah besar itu menimbulkan kepanikan (rush) yang kemudian memicu krisis ekonomi. Rupiah yang selalu stabil sekitar Rp 2.500 perdolar AS selama Orde Baru tiba-tiba melonjak hingga Rp 16.000 perdolar AS. Krisis ekonomi kemudian merembet ke krisis politik, dan akhirnyanya menjadi krisis multidimensi sehingga Soeharto jatuh di tengah demonstrasi mahasiswa yang menduduki gadung parlemen.
Perbenturan peradaban Barat dan dunia Islam itu mulai terasa saat terjadi serangan terhadap World Trade Center (WTC) di Washington DC tahun 2001. Saat Presiden Amerika Serikat mendeklarasikan perang terhadap terorisme menyusul runtuhnya menara kembar itu, hari-hari dunia Islam terasa semakin pahit. Taliban yang baru saja berkuasa merebut kekuasaan dari penjajah Rusia di Afganistan langsung diruntuhkan. Alasannya, penguasa Afganistan melindungi Osama bin Laden yang dituduh menjadi otak utama penyerangan WTC itu.
Kalau alasannya karena penguasa Kabul terlibat penyerbuan WTC, mengapa AS, Uni Eropa dan sekutunya menghajar Irak tahun 2003? Padahal, tidak ada track record Presiden Irak Saddam Husein melakukan penyarangan terhadap menara kembar itu. Presiden Bush ketika itu menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal. Namun inspeksi IAEA, Badan Pengawas Nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap negeri seribu satu malam itu membuktikan bahwa Irak tak memiliki senjata yang dituduhkan Barat itu. Meski demikian, AS dan sekutunya tetap menginvasi Irak, sehingga Saddam Husein jatuh dan digantung.
Barat mengira dapat menyelesaikan pertempuran di Afganistan dan Irak dalam waktu singkat. Sebab, mereka ingin segera menekuk Iran dan menggulung Suriah. Boro-boro memperluas peperangan ke kedua negara itu, mempertahankan basis pertempuran di Afganistan dan Irak saja berat dan kewalahan. Berhasil membantai rakyat dua negara itu sampai hingga puluhan ribu orang bukan jaminan mereka menang. Para pejuang Muslim yang berasal dari berbagai negara bagaikan hantu di siang bolong. Pemberontak ini satu persatu berhasil membunuh tentara AS dan sekutu.
Padahal, tentara Barat pada umumnya berusia muda, gagah, dan dipersenjatai dengan peralatan yang canggih. Kematian demi kematian tentara Barat selalu diratapi. Sebaliknya, kematian warga sipil dianggap sebagai peristiwa wajar dan biasa. Pembunuhan terhadap tentara yang berlangsung terus menerus dalam waktu puluhan tahun membuat tentara Barat frustrasi. Itulah sebabnya mereka mengalami paranoid, sehingga membantai warga masyarakat secara sembarangan. Mereka juga menyiksa para tahanan yang tak berdaya di Penjara Guantanamo dan kamp-kamp tahanan.
Perang Barat di dunia Muslim tak hanya menguras air mata, tapi juga menguras kantong mereka. Sumber minyak dan tambang yang menjadi incaran mereka tak kunjung dikuasai Barat. Bahkan, sekadar mengantar bahan logistik dari Pakistan menuju pusat militer NATO di Afganistan pun butuh pengawalan, yang konon disewa dari salah satu sel organisasi Taliban, yang notabene musuh mereka. Itulah sebabnya, AS dan Uni Eropa terus menyalahkan Pakistan yang dianggap tidak tegas terhadap Al Qaeda dan Taliban.
Maka, saat dukungan finansial AS dan Uni Eropa semakin menipis, hanya karena kemacetan investasi di sektor properti yang dikenal dengan morgan mortgage pun dapat mendorong ekonomi AS pada krisis ekonomi berkepanjangan. Ekonomi Eropa juga terus merosot yang dipicu oleh krisis ekonomi Yunani. Bahkan, kini ekonomi AS dan Uni Eropa tak mampu lagi dipertahankan oleh mereka sendiri, tanpa dukungan kepercayaan dari Republik Rakyat Cina sebagai investor terbesar mereka. International Monetary Fund (IMF) yang sok jagoan menyelamatkan ekonomi negara yang runtuh pun tak sanggup mengatasinya.
Ekonomi Barat yang terus merosot tentu saja tak mampu mempertahankan tentara mereka yang masih ada di lapangan, dengan dana yang sangat cekak. Apalagi, medan pertempuran semakin tidak mudah. Itulah sebabnya, Barat lebih memilih membangkitkan semangat oposisi mengambil alih kekuasaan di dunia Arab. Arab Spring, dunia Arab mengalami musim semi, dengan bangkitnya rakyat memusihi para penguasa yang dinilai diktator. Memecah belah bangsa model Arab Spring seperti itu merupakan perang paling murah bagi Barat. Toh nyatanya, sejumlah penguasa Arab runtuh. Dimulai dari terusirnya Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali yang kabur ke Arab Saudi, menyusul kemudian Presiden Mesir Husni Mubarok yang menyerah, tewasnya Presiden Libya Muammar Qaddafi yang dibantai massa, dan sekarang pertempuran di Suriah.
Meskipun para penguasa Arab jatuh, kenyataannya Islam tetap bersinar. Bahkan berbagai pemilu di dunia Muslim dimenangkan kekuatan Islam. Sebaliknya, Barat yang tengah hancur menuju ke kebangkrutan justru diwarnai dengan berbondong-bondongnya warga mereka masuk Islam. Sekitar 20.000 orang AS menyatakan bersyahadat setiap tahun dan di Eropa. Fenomena itu menunjukkan, perbenturan Barat dengan dunia Islam tidak dimenangkan oleh Barat. Perbenturan itu, bagaimanapun, membuat kedua belah pihak babak belur. Umat Islam sampai jengah dituduh sebagai teroris dan puluhan ribu orang tewas menjadi korban. Sementara Barat tidak semakin, cemerlang melainkan semakin terperosok ke tubir jurang kebangkrutan. Apakah Barat masih bernafsu meneruskan perbenturan peradaban itu? Mestinya, mereka melempar anduk untuk menciptakan perdamaian.
Memuncaknya perlawanan rakyat Afganistan dan umat Islam dunia terhadap pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan Amerika Serikat (AS) akibat pembakaran mushaf Alquran di Penjara Bagram bisa menjadi titik balik dan menandai runtuhnya kejayaan Barat. Di saat bersamaan, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa dan AS juga tengah mengalami krisis ekonomi parah, sehingga jika tidak mendapatkan solusi, mereka terjun ke dalam jurang krisis yang menjerumuskan ke dalam kebangkrutan itu.***

Arab Saudi, Puncak Arab Spring?



Oleh WAKHUDIN
(Wartawan Senior Pengelola Newsroom Universitas Pendidikan Indonesia)
MUSIM Semi Dunia Arab (Arab Spring) akhirnya memasuki Arab Saudi. Riak demonstrasi menentang penguasa mulai meletup di Ryadh, ibu kota negeri Petro Dolar itu. Pemerintah setempat langsung memadamkan “bara” yang masih kecil itu. Namun sekecil apa pun peristiwa ini, publikasi di media mampu mem-blow up-nya menjadi peristiwa besar. Saat publikasi terus berkobar, maka “bara” yang meletup di Ryadh bisa menyebar bagaikan api yang membakar apa pun di sekelilingnya. Benarkah Arab Saudi merupakan antiklimaks dari Arab Spring yang meruntuhkan para penguasa di Timur Tengah? Apakah ada relevansinya antara Arab Spring dan gerakan antiterorisme yang dideklarasikan Presiden Amerika Serikan George Walker Bush menyusul runtuhnya World Trade Center 2001?
Arab Saudi tidak mustahil menjadi incaran utama gerakan Arab Spring itu. Saudi adalah pusat dari segala ajaran Islam. Di sini ada Haramain, dua tempat suci, Mekah dan Madinah. Di Mekah terdapat Kabah, kiblat seluruh umat Islam menghadap. Mekah adalah pusat umat Islam berziarah untuk umrah maupun berhaji. Mekah adalah sumber Islam yang pertama, sementara Madinah adalah sumber Islam kedua. Di Madinahlah semua ajaran Islam diimplementasikan. Di Madinah, Rasulullah Muhammad saw. dimakamkan bersama Abubakar Ashidiq, Umar bin Khattab, dan jutaan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.
Seperti seorang yang makan bubur. Makan bubur dimulai dari pinggir, dipilih dari yang relatif dingin, lama kelamaan ke tengah saat bubur tidak terlalu panas. Demikian pula Arab Spring, gerakan yang menumbangkan rezim kuat di berbagai negara di Timur Tengah. Dimulai tahun 2010 di Tunisia, gerakan ini menumbangkan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali, sehingga ia kabur ke Arab Saudi. Demam di Tunisia menyebabkan Mesir ikut menggigil. Presiden Mesir Hosni Mubarok yang pun menyerah, meletakkan jabatan setelah lebih 32 tahun berkuasa, di tengah gerakan demonstrasi di Lapangan At-Tahrier.
Gerakan Arab Spring di Libya lebih mengenaskan, karena memakan lebih banyak korban jiwa. Perang saudara antara pemberontak dengan pro status quo berjalan cukup lama, sehingga jatuh korban jiwa ribuan orang dan infrastruktur pun porak poranda. Gerakan ini berakhir dengan tewasnya Muammar Qaddafi di tangan pemberontak, bahkan kemudian memajang mayat penguasa selama 42 tahun itu di sebuah mal.
Sukses menggulingkan penguasa di Tunisia, Mesir dan Libya akhirnya menjadi trend di negara-negara Arab. Maka, masyarakat sipil memberontak di di Bahrain; Aljazair; Yordania; Maroko; Oman; sempat ada protes kecil di Kuwait; Lebanon dan berbagai negara. Iran dan Suriah merupakan dua negara yang sudah lama digoda dengan pemberontakan gaya Arab Spring ini, namun keduanya memiliki daya tahan yang relatif kuat. Meski demikian, Suriah secara perlahan mengalami demam dahsyat. Pemberontakan bersenjata mampu mengundang badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab untuk ikut campur tangan. Suriah kini tinggal menanti hasil akhir, apakah kekuatan Presiden Basyar Al-Assad yang konon didukung Iran dan Republik Rakyat Cina ataukah kekuatan pemberontak yang didukung AS, Uni Eropa, dan Liga Arab yang akan memenangi pertempuran.
Perbenturan peradaban
Gerakan Arab Spring, menurut hemat penulis, tak bisa dipisahkan dari skenario perbenturan peradaban (clash civilization) yang digagas Sammuel Huntington dalam bukunya The Clash Civilization and the Remaking of World Order yang ditulis 1998. Setelah komunis bangkrut dengan runtuhnya Uni Soviet, Barat memerlukan sparing partner untuk berkonflik. Huntington berhasil menyodorkan konflik baru, yaitu antara Barat dengan dunia Islam, dengan judul perbenturan peradaban itu.
Maka masuk akal kalau Presiden Iran Mahmoud Ahmadijed menuduh bahwa runtuhnya menara kembar World Trade Center di Washington DC merupakan skenario Amerika sendiri untuk memuluskan perbenturan peradaban itu. Sebab, hancurnya menara kembar itu merupakan tiket bagi Barat untuk melakukan perbenturan. Tanpa runtuhnya WTC, tak ada alasan bagi AS, Uni Eropa, dan sekutunya untuk menyerbu Afganistan. Setelah menaklukkan Afganistan 2001, Barat kemudian menekuk Irak 2003 dan menghukum gantung Saddam Husein.
Amerika dan Uni Eropa menghitung bahwa perang di Afganistan dan Irak hanya berlangsung sebentar, sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun. Nyatanya, lebih dari sepuluh tahun tak kunjung berakhir, dan kemenangan nyata tak pernah terlihat. Puluhan ribu rakyat di dua negara itu memang tewas, tapi tak kurang dari 8.000 tentara AS dan NATO juga mati di dua negara itu.
Semakin lama mereka menduduki dua negara itu, semakin banyak tentara mereka yang tewas, puluhan ribu lainnya luka-luka. Sementara keuntungan nyata tak pernah terlihat. Minyak dan tambang yang diduga menjadi daya tarik penyerbuan dua negara itu tak kunjung diraih, sebab penguasaannya tetap di tangan pemberontak. Maka satu persatu tentara NATO mundur dari gelanggang pertempuran di Afganistan dan Irak. Amerika dan Uni Eropa pun pelan-pelan menarik tentara mereka dari Bagdad dan Kabul dengan malu. Taliban yang ditendang dan kemudian dituduh sebagai teroris mulai diajak bicara.
Perang di Afganistan dan Irak tak membuahkan hasil dan bahkan membuat Barat kini jatuh ke dalam krisis ekonomi. Mereka nyaris bangkrut. Sementara tujuan Barat menaklukkan dunia Islam, gagal total. Di dalam negeri, sekitar 20.000 warga AS justru masuk Islam setiap tahun, jumlah yang hampir sama terjadi di Uni Eropa. Meski demikian, ambisi Barat menghancurkan dunia Islam makin membara. Itulah sebabnya, Barat terus menggunakan berbagai cara menghancurkan rezim dunia Islam.
Memanas-manasi oposisi melakukan pemberontakan adalah cara yang cukup efektif. Pemberontakan dengan cara Arab Spring itulah yang mereka gunakan. Maka, hubungan antara gerakan antiterorisme yang dideklarasikan Presiden Amerika Serikan George Walker Bush, dengan Arab Spring sangat relevan. Keduanya merupakan bagian dari paket perbenturan peradaban itu. Lihatlah keberpihakan Barat pada setiap pemberontakan di setiap negara terlihat begitu nyata dan terang-terangan. Tidak saja gerakan politik dan bermain spionase, melainkan secara nyata mempersenjatai kaum pemberontak di Libya, dan kini di Suriah, serta berbagai negara yang tengah bergolak.
Maka, ketika Arab Saudi juga mulai meletup, jangan-jangan inilah puncak dari perbenturan peradaban itu. Meletupkan pemberontakan dari Ryadh juga merupakan pola letupan gaya makan bubur itu. Ryadh memang kota strategis untuk mengguncang politik Arab Saudi, sebab ibu kota negara itu. Kalau guncangan politik dimulai daru Jeddah, apalagi Mekah dan Madinah, maka yang akan mempertahankan rezim Arab Saudi bukan saja keluarga besar Ibnu Saud, melainkan umat Islam seluruh dunia. Sebab, Arab Spring kini semakin kelihatan arahnya, kelanjutan dari clash civilization itu. Hanya saja, gerakan umat Islam tak kunjung kelihatan nyata. Liga Arab yang mestinya berada di dunia Arab malah menjadi alat barat.***
(Tulisan ini dimuat di HU Pikiran Rakyat Bandung, Sabtu (20/2/2012)

Sabtu, 07 Januari 2012

Ke Mana Engkau, Wahai Jurnalisme Mabrur?


Oleh H. WAKHUDIN

IDULADHA merupakan ritual yang agung. Menapaki sejarah Bapak Para Nabi, Ibrahim a.s. dan Ismail. Kaum Nasrani menyebut itu kisah Nabi Ishak. Makna di balik ritual juga begitu besar. Ada solidaritas sosial, pentingnya berbagi, pentingnya kolesterol dan lemak bagi si miskin, dan banyak makna mendalam lainnya. Dalam empat hari, jutaan ton daging dibagikan secara gratis kepada kaum papa.
Tapi apa yang diberitakan TV, Koran, radio, internet serta media kita? Berita ecek-ecek. Ditemukan cacing dalam hati sapi kurban; Sejumlah hewan kurban diketahui mengandung antrax; Rusuh, penerima kurban berdesak-desakan; Hewan kurban mengamuk saat akan disembelih; Tukang jagal tertusuk pisau sendiri saat akan menyembelih hewan kurban; Jatuh korban pada penyembelihan kurban; Takut rusuh, pembagian hewan kurban dialihkan subuh. Semua berita itu tak satu pun yang mencerminkan keagungan Iduladha. Bahkan terkesan, Iduladha menyebabkan bencana.
Penulis betul-betul mengeluh. Padahal, sebagian besar wartawan dan redakturnya adalah umat beragama. Tapi tanpa sadar mereka tidak menjadikan momentum Iduladha sebagai syiar agama. Tapi justru menorehkan noktah pada citra agama. Keluhan seperti ini sesungguhnya tidak saja terjadi saat Iduladha, tapi juga dalam kehidupan di hari lain. Saat Idulfitri, misalnya, media kita sangat produktif memberitakan secara simplistik: Gara-gara Idulfitri, Pantura macet total; Gara-gara Idulfitri, harga bahan pokok terus melonjak; Gara-gara Idulfitri, kecelakaan meningkat.
Islam dan umat Islam dalam citra media di seluruh dunia memang terus dipojokkan. Sejak isu terorisme diluncurkan, semua tangan menuding umat Islam biangnya. Meskipun sederet fakta menunjukkan ada teroris yang lebih hakiki, tetap saja umat Islam menjadi objek penderita. Umat Islam sendiri yang menyusun agenda setting media tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya turut memproduksi informasi yang tidak proporsional ini. Umat Islam sendiri sangat produktif menghasilkan informasi buruk tentang Islam dan dunia Muslim.
Fakta lain menunjukkan, berita dari dunia Muslim selalu perang, saling mengebom antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Semua dilihat dari sisi buruknya. Tapi kalau dari Barat, informasinya tentang peluncuran film terbaru, produk teknologi mutakhir, pertandingan bola yang seru, dll. Hanya saja belakangan memang dunia akan berbalik. Barat menuju kebangkrutan. Ekonomi mereka melesak, dimulai dari Yunani akan merembet ke Uni Eropa. Amerika Serikat juga pertumbuhan ekonominya terus merosot hingga 2,5%.
Tulisan ini hanya bermaksud mengingatkan bahwa bermedia itu sangat penting. Kebatilan dan keburukan yang diulang-ulang seribu kali di media bisa berubah menjadi kebenaran dan kebaikan. Dengan pemberitaan yang diulang-ulang, dengan berbagai media, bahwa Iduladha adalah rusuh, Iduladha adalah bencana, maka lama kelamaan tercipta bayangan bahwa Iduladha adalah benar-benar bencana. Maka bagi umat Islam, mengembangkan media untuk dakwah menjadi titik strategis. Umat Islam tidak bisa mengabaikan media sebagai salah satu pilar kehidupan berekspresi.
Berita buruk lebih mudah dijual ketimbang informasi yang bersifat positif. Mereka menyebut bad news is good news. Tapi paradigma ini tidak selamanya benar. Banyak berita postif juga menarik diikuti. Semua tergantung dari bagaimana mengemasnya. Informasi sepele yang dikemas baik juga menarik. Yuni Shara pisah dengan Rafi sangat adalah persoalan sangat pribadi dan bukan persoalan umat, tapi informasi ini menarik dan dikonsumsi jutaan pemirsa.
Persoalannya, bagaimana visi dakwah dan syiar bisa memegang kendali melakukan agenda setting media itu? Caranya, umat Islam harus membangun sistem media sendiri. Setidaknya, media yang bisa dikonsumsi sendiri. Itulah sebabnya, penulis manawarkan gagasan tentang Jurnalisme Mabrur, yaitu jurnalisme yang mampu memberikan inspirasi bagi orang lain untuk berbuat baik. Media yang mabrur adalah media yang bertanggung jawab.
Jurnalisme saat ini pada umumnya berkaitan dengan industri, maka jurnalisme memiliki paradigma tersendiri yang dapat mendorong agar produk yang dihasilkannya dapat dijual. Maka berbagai persoalan yang bersifat populair selalu menjadi objek pembahasan. Itulah sebabnya, media pada umumnya ber­paradigma bahwa bad news is good news, berita buruk adalah beria yang baik. Sebab, berita buruk biasanya lebih menarik ketimbang berita tentang kebaikan. Kecelakaan yang menyebabkan tewasnya 50 orang, misalnya, adalah berita yang bagus ketimbang berita tentang arus lalu lintas yang lancar. Itulah sebabnya, insan media sering diibaratkan dengan “burung pemakan bangkai”. Mereka akan melahap habis seluruh berita buruk sampai “ke tulang-tulangnya”, namun mereka tidak “doyan memakan” peristiwa yang baik. Saat seseorang sukses, wartawan tidak suka memberitakannya, sementara saat terjadi peristiwa buruk, wartawan selalu mem­beritakannya sampai tuntas.

Kata mabrur berasal dari kata “barra” atau “birru”, artinya baik. Kata “birrul walidain” atau berbuat baik kepada kedua orang tua, diambil dari kosa kata yang sama, “birru” atau “barru” itu. Itulah sebabnya, kemabruran haji tidak terbatas saat jemaah sedang melaksanakan ritus haji di Tanah Suci, melainkan terus ditumbuhsuburkan saat mereka kembali ke tanah air, dan buahnya dapat dipetik oleh masyarakat sekitar.

Itu artinya, jemaah haji yang mabrur adalah sumber daya manusia Indo­nesia yang secara spiritual telah terbarukan dengan proses daur ulang melalui proses ritus haji. Sebab, jemaah yang meraih haji mabrur siap berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan dirinya, keluarga dan handai tolan, lingkungan sekitar, dan untuk kejayaan bangsanya. Menilai seseorang mabrur atau mardud (ditolak) memang hak Allah, tapi kalau seseorang yang sudah berhaji tidak juga mengubah perilakunya yang buruk, maka itu pertanda hajinya ditolak. Dan orang lain dapat merasakan dampaknya.

Maka, jurnalisme mabrur tak berbeda dengan jurnalisme yang bertanggung jawab. Artinya, jurnalisme yang bebas memberitakan apa pun. Tapi kebebas­annya dibatasi oleh diri sendiri hanya memberitakan segala sesuatu yang dapat mendorong masyarakat berbuat yang terbaik, dan menghentikan peristiwa buruk.

Jurnalisme mabrur sesungguhnya merupakan bagian dari jurnalisme pada umumnya yang bergelut dengan industri. Itulah sebabnya, jurnalisme mabrur juga tidak boleh steril dari persoalan yang sedang trend dan popular di dalam masyarakat. Meski demikian, menurut hemat penulis, jurnalisme mabrur harus didasarkan pada paradigma yang berbeda. Jurnalisme pada umumnya berpara­digma bahwa bad news is good news, sedangkan jurnalisme mabrur harus berpara­digma bahwa apa pun berita dan informasi yang disampaikan harus mampu meng­inspirasi penerima informasi untuk berbuat baik.***

Penulis, jurnalis senior.

HPN Kupang: PWI Rilis 17 Buku Karya Wartawan

Jakarta (Rakyat Merdeka) – Sebanyak 17 buku dilaunch pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 9 Februari lalu
Belasan buku karya para jurnalis itu dipersembahkan sebagai bakti PWI kepada negeri dalam rangka penguatan sumber daya insani.
Penerbitan buku ini adalah bukti komitmen kuat PWI untuk menata kecerdasan bangsa agar lebih demokratis dan berperadaban.
Ketua Umum PWI Margiono menegaskan, peringatan Hari Pers Nasional 2011 harus dijadikan momentum untuk melecut insan pers melahirkan karya-karya yang bermanfaat, baik bagi masyarakat pers sendiri, maupun bagi bangsa dan negara.
Hal tersebut, tambah Margiono, merupakan tujuan yang relevan dan aktual untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam kata sambutan di semua buku yang diterbitkan, Margiono mengatakan, tujuan tersebut tercapai apabila pers nasional memiliki sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi serta senantiasa mau terus belajar, membaca, menulis bahkan menulis buku.
“Oleh karena itu kita patut bersyukur menyambut baik atas terbitnya sejumlah buku karya wartawan dan tokoh pers nasional yang sengaja diluncurkan dalam menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2011 ini,” kata Margiono.
Pernyataan Margiono tersebut diamini oleh Ketua Pelaksana Hari Pers Nasional 2011 Priyambodo RH.
“Khusus Hari Pers Nasional 2011 menfokuskan pula kegiatan melek media (media literacy) dan pengembangan potensi kepulauan,” ujar Priyambodo.
Dijelaskan Priyambodo, 17 buku yang diterbitkan sepenuhnya ditulis oleh para wartawan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.
Sebut saja buku; Bila Parodi Diadili karya Karim Paputungan, Off The Record, Kisah-kisah Jurnalistik dari Lapangan & Meja Redaksi Surat Kabar racikan Zaenuddin HM. Berikutnya, buku Jurnalisme Haji yang disunting Wakhudin.
Ada juga yang khusus menilik bahasa visual, Politik Santun dalam Kartun yang digarap Misrad dan Ratna Susilowati serta buku Jurnalisme Karikatur karya Gatot Eko Cahyono.
Dalam paket penerbitan buku ini tak ketinggalan buku yang menegaskan kearifan lokal, seperti Wartawan NTT Bicara, yang disunting Tony Kleden.
Selebihnya buku-buku tersebut diracik, karena kedalaman para wartawan tanah air atas berita, baik nasional maupun internasional. Selain buku-buku konvensional, PWI juga meluncurkan buku-buku digital (e-book) agar bisa diakses lebih luas.
Penerbitan e-book tersebut sebagai lanjutan dari rilis Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI) yang dapat diakses melalui kenal Presspedia di laman http://www.pwi.or.id
Dari 17 buku yang diterbitkan Rakyat Merdeka Books (RMBooks) dipercaya menggarap 15 judul buku yang akan diluncurkan di Kupang nanti.
Penerbitan buku ini menegaskan “getaran intelektual” luar biasa dari para wartawan tanah air. Semoga terus bisa berkarya untuk meramaikan pasar intelektual. Dan tentu saja, Selamat Hari Pers Nasional 2011 untuk bangsa dan negara! * (RM)

Rabu, 30 Maret 2011

Berkuasa


SAAT masih muda dan lemah, Rahwana alias Dasamuka dikalahkan Resi Subali. Ia pun bersabar bahkan merendahkan diri dengan berguru kepada manusia kera anak Resi Gotama ini. Apa pun perintah guru, ia taati, termasuk harus bertapa seperti kelelawar, tidur terbalik dan menggantung di atas pohon. Kedisiplinannya belajar membuahkan hasil dengan meraih Aji Pancasona, ia seperti memiliki nyawa rangkap lima. Bahkan karena kerja kerasnya pula, Rahwana mendapatkan Aji Rawarontek dari kakak tirinya, Prabu Danaraja, meskipun meraihnya dengan kekerasan.
Namun dengan kedigdayaannya, Rahwana lupa diri. Ia menjerumuskan gurunya, Subali berkonflik dengan adiknya Sugriwa. Dengan kekuatannya pula, ia merebut kekuasaan dari kakeknya, Sumali dengan menyingkirkan pamannya Prahasta. Dasamuka juga membunuh Prabu Danaraja, kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.
Ia menyerang Suralaya dan memetik Dewi Tari, putri Batara Indra sebagai istrinya sehingga berputra Indrajid. Kekuasaan mendorongnya berwatak angkara murka. Dasamuka kemudian memperistri Dewi Urangrayung dan memperistri beberapa gadis lainnya. Meski demikian, ia selalu gagal menaklukkan titisan Dewi Widowati. Makanya, ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama, dan menyekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama, selama 12 tahun di Taman Hargasoka.
Bersabar saat keadaan memaksa merupakan sesuatu yang lazim, sebagaimana Dasamuka bersabar saat masih ringkih. Hidup hemat saat tidak punya uang merupakan hal biasa. Tidak mabuk karena sedang sakit, tidak memiliki nilai lebih. Tidak berselingkuh karena tidak punya modal dan tak punya tampang, tidaklah istimewa. Bersabar saat berkuasa jauh memberikan tantangan dan memiliki nilai lebih yang luar biasa.
Rasulullah, Muhammad saw. adalah pribadi mulia yang selalu bersabar saat dalam keadaan sempit maupun ketika berkuasa. Saat beliau menunggu kering pakaian yang dijemur dan melepas pedangnya, tiba-tiba seorang kafir Da'tsur mengambil pedagnya dan menodongkan ke lehernya. Da'tsur pun membentak, "Sekarang aku akan memotong lehermu. Siapa yang akan menolongmu?" Rasulullah pun dengan tenang mengatakan, "Allah". Mendengar jawaban Nabi, tangan Da'tsur gemetar, keringat meleleh dari sekujur tubuh, dan lemas lunglai. Pedang yang di tangan pun jatuh. Kini keadaan berbalik. Pedang kembali dipegang Nabi dan beliau mengalungkan pedang itu ke leher Da'tsur. Meskipun Rasulullah bisa memotong leher orang yang sudah menyerah ini, namun Rasulullah kemudian memaafkannya. Datsur pun mendapatkan hidayah dan masuk Islam.
Bangsa Indonesia saat ini tengah merindukan pemimpin yang bersabar seperti Rasulullah. Bersabar saat susah maupun saat berkuasa. Mereka bersabar bukan hanya saat ingin meraih suara dengan sekadar memberi "gula-gula" menggunakan pancing sejumput beras dan mie instan. Namun setelah menduduki kursi justru mereka menjual suara rakyat itu kepada siapa pun yang mau membayarnya. Bangsa ini tengah menanti penguasa yang bersabar dengan kekuasaannya untuk kesejahteraan bersama, meski harus berhadapan dengan para "investor" yang menanamkan modal mengantarkannya berkuasa saat mereka menagih jatah uang negara. (Wakhudin/"PR")***

Rabu, 23 Februari 2011

Menjaga dan Melestarikan Bersama Wayang Indonesia











GEDUNG Olah Raga Komite Olah Raga Nasional Indonesia (GOR KONI) Jawa Barat di Jln. Jakarta Kota Bandung, berkapasitas sekitar 4.000 orang. Namun, Sabtu (12/2) malam Minggu (13/2) penuh sesak. Kursi yang tersedia di kelas VIP dan tribun atas 90 persen terisi. Setiap tamu yang datang mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya, karena tamu yang datang di luar perkiraan. Maklum, malam itu, dalang terkenal asal Banyumas Ki Sugino Siswocarito pentas. Meskipun membawakan wayang gagrag Banyumas, namun para penggemar wayang dari berbagai daerah di Jawa pun menonton.
Dalam sejumlah pementasan sebelumnya, setiap digelar wayang kulit di Bandung, penonton selalu membludak. Sebuah fenomena yang tidak lazim di era modern yang lebih suka menonton budaya kontemporer. Aula RS Dustira Cimahi yang menampilkan Ki Sutarno Rahardjo mampu menyedot penonton yang banyak di malam tahun baru, di saat semua orang berburu tontonan kontemporer dan pesta kembang api. Ki Kasno Purbo Carito yang pentas di Taman Pramuka belum lama ini juga menyedot banyak penonton.
Padahal, masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta sendiri tanpa menyadarinya secara perlahan meninggalkan kesenian milik mereka di kampung halamannya. Budaya modern cenderung mengarah ke uniformitas. Seni musik dengan berbagai genre lebih digandrungi generasi muda ketimbang kesenian tradisional yang menjadi kekayaan budaya Nusantara. Hanya dalang tenar seperti Ki Mantep Sudarsono asal Sukoharjo atau Ki Anom Suroto dari Surakarta, atau Ki Enthus Susmono dari Tegal, Ki Timbul Hadiprajitno dari Bantul yang mampu mengumpulkan massa dalam jumlah yang masif.
Generasi muda yang masih suka menonton wayang lebih tertarik karena dalang saat ini banyak menampilkan campur sari, yakni tembang Jawa yang dikemas dengan kesenian modern seperti keyboard, jass, gitar dan berbagai alat musik moder lain. Dengan alat ini, wayang tak ubahnya pentas musik yang bisa digunakan untuk berjoged seperti musik masa kini.
Sejumlah dalang muda juga mulai tenar menggantikan generasi sebelumnya. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta relatif produktif mencetak para dalang muda. Selain menampilkan sabetan yang cekatan dan atraktif, mereka juga menampilkan campur sari sebagai daya tarik sekaligus sebagai ajang penciptaan kreasi para seniman kontemporer.
Namun saat kesenian Jawa pentas di Kota Bandung, maka semua eksponen kesenian ini turut menonton, baik penggemar wayang klasik maupun wayang kontemporer. Pementasan wayang kulit menjadi momentum bersilaturahmi para pendatang dari Timur ini. Sebab masyarakat Jawa yang tinggal di Bandung berasal dari berbagai lapisan generasi. Asalkan kesenian Jawa, mereka bersedia datang, karena menonton kesenian tradisional berarti bertemu dengan sanak keluarga sedaerah.
Wayang kulit kini sesungguhnya tak lagi hanya milik masyarakat Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Sebab, Persatuan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sejak tujuh tahun lalu mengakui bahwa wayang Indonesia merupakan world masterpiece of oral and intengible of humanity. Maka, wayang telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Itulah sebabnya, H. Sidik penyelenggara wayang kulit di Kota Bandung tidak malu menampilkan wayang kulit di tengah masyarakat Bandung. Sebab, penontonnya tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta, melainkan dari berbagai daerah, bahkan warga Jepang, Cina dan Eropa sempat menonton wayang kulit di Bandung ini.
“Selain mementaskan wayang kulit, kita juga secara rutin mementaskan wayang golek di Bandung. Saat merayakan ulang tahun Kota Bandung, kita menggelar wayang kulit sekaligus wayang golek di Taman Pramuka,” kata H. Sidik dan H. Purwadi.
Bagi masyarakat Jawa, termasuk masyarakat Sunda, wayang seakan sudah menjadi “guru” bagi penggemarnya. Para tokoh wayang terlanjur dianggap benar-benar pernah hidup layaknya manusia yang mengisi zaman purwa. Zaman yang diyakini pernah ada di mana zaman waktu itu masih kosong.
Dalam setiap perkembangan, wayang tumbuh melalui berbagai pengaruh dan mengalami interpretasi baru yang memperkaya dirinya dengan sangat pesat. Dalam perkembangan mutakhir, wayang berkembang sedemikian pesat, sehingga nyaris memusnahkan keskaralan wayang itu sendiri. Di tengah pentas wayang, penyanyi bebas berjingkrak sekadar memenuhi tuntutan zaman karena terbawa kesenian modern. Dalam banyak pementasan, wayang dan gamelan tidak lagi disandingkan dengan sesaji.
Di sisi lain, generasi baru saat ini mengembangkan wayang dalam berbagai media. Mereka memperlakukan wayang layaknya sebagai kekayaan agung (masterpiece). Bahkan Ir. Budi Rahardjo, M.Sc. Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung sempat menggagas agar wayang menjadi salah satu game dalam internet. Setiap orang boleh memilih memainkan peran, misalnya, sebagai Gatotkaca, Bima, atau menjadi Duryudana, dan keluarga Kurawa. Dengan cara ini, genarasi muda dapat menikmati kultur wayang dengan caranya sendiri. Sayang, gagasan ini masih sekadar wacana, sehingga bangsa Indonesia tetap mengonsumsi game yang berasal dari kultur Barat.
Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memberi kesenian ini tumbuh dan kemudian memeliharanya. Kini adalah saat yang tepat untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada generasi baru untuk mengambil tongkat estafet, tanpa harus memotong generasi terdahulu, menuju babak baru, wayang Indonesia. Bukan lagi wayang Jawa, wayang Sunda, wayang Bali, dan sebagainya. Sebab, wayang sudah menjadi kekayaan dan milik bersama. (Wakhudin/”PR”)***